OPINI : Mencari Orang Beradab di Negeri yang Sok Tahu
Prof. Sudarsono Soedomo
*OPINI: Mencari Orang Beradab di Negeri yang Sok Tahu*
--Sudarsono Soedomo—
Pernahkah Anda bertemu seseorang yang dengan fasih menjelaskan apa itu adab, sambil tanpa sadar memotong pembicaraan orang lain? Atau seseorang yang menulis utas panjang tentang kerendahan hati, dengan bio Twitter yang berisi tujuh gelar dan satu emoji mahkota?
Selamat. Anda baru saja bertemu dengan _Spesies Langka: Homo Adabius Paradoxus_.
_Bab 1: Ketika Cermin Lebih Suka Melihat ke Luar_
Manusia itu unik. Kita bisa melihat debu di sudut ruangan tetangga dengan jelas, tapi balok kayu di mata sendiri dikira hiasan minimalis. Ini yang para ahli sebut _proyeksi-refleksi_: kita memproyeksikan ketidaksempurnaan kita sendiri ke orang lain, lalu merasa suci karena sudah "mengidentifikasi masalah".
Contoh klasik: "Orang itu tidak beradab! Dia tidak membalas salam saya!"
Padahal mungkin kita yang lewat sambil main HP, muka ditekuk, dan salamnya cuma bergumam seperti orang sakit gigi.
_Bab 2: Spiritual Bypassing Versi Intelektual_
Di kalangan terdidik, ada fenomena menarik. Saya menyebutnya _Spiritual Bypassing Versi Intelektual_.
Gejalanya:
* Menghafal quote Ibnu Atha'illah, tapi masih suka ghibah berbalut analisis psikologis
* Paham konsep True Self, tapi tetap triggered kalau dikritik di grup WhatsApp
* Bisa menjelaskan teori adab selama 30 menit, tapi tidak sadar pelayan restoran sudah menunggu 10 menit untuk ambil pesanan.
Intinya: ilmu sudah naik kelas, tapi ego masih TK A.
_Bab 3: Setan yang Paling Licik Itu Tidak Pakai Tanduk_
Kita sering membayangkan setan itu makhluk seram dengan garpu tiga. Padahal, setan paling licik bisa datang dalam bentuk:
"Aku melakukan ini untuk kebaikan bersama."
"Saya harus menegur dia, demi kepentingan dia sendiri."
"Ini bukan soal ego, ini soal prinsip."
Nah, lho. _Setan yang menipu dengan mendorong kebaikan_—ini yang paling susah dideteksi. Karena kita merasa sedang berjihad, padahal sedang memuaskan False Self yang haus pujian.
Seperti kata seorang teman: "Kalau kamu merasa paling benar, mungkin justru saat itulah kamu paling perlu diperiksa ulang."
_Bab 4: Tes Sederhana Apakah Kita Masih Biadab_
Mari kita lakukan cek mandiri. Jawab dengan jujur (tidak ada yang lihat, janji):
1. Pernah mengkritik orang lain di grup, tapi tersinggung kalau dikritik balik?
2. Merasa lebih beradab dari orang yang tidak sepaham dengan Anda?
3. Membela pemimpin/pilihan Anda sampai mengabaikan fakta yang merugikan?
4. Menulis status tentang kesabaran, sambil nungguin like yang belum masuk?
Jika Anda menjawab "iya" untuk salah satu saja:
Selamat! Anda manusia normal 😁.
_Bab 5: Solusi? Santai Saja, Mas_
Sebenarnya tidak perlu terlalu serius. Orang yang benar-benar beradab biasanya:
* Bisa tertawa saat menyadari kebodohannya sendiri
* Tidak butuh panggung untuk membuktikan dirinya baik
* Mengerti bahwa merasa beradab dan menjadi beradab itu dua hal berbeda
* Dan yang paling penting: tidak menulis esai panjang tentang adab sambil merasa paling tahu
"Mungkin adab itu bukan tentang seberapa sempurna kita, tapi seberapa mau kita mengakui bahwa kita masih sering tidak sempurna."
_Epilog: Untuk Kita Semua yang Masih Belajar_
Jadi, jika setelah membaca ini Anda merasa "Wah, akupun masih biadab ternyata..."—itu justru kabar baik.
Karena orang yang benar-benar biadab, tidak akan pernah merasa dirinya biadab. Mereka terlalu sibuk menunjuk orang lain.
Sedangkan kita ? Kita masih bisa geleng-geleng, ketawa kecil, dan berkata:
"Ya ampun, jangan-jangan aku juga begitu. Makasih ya Tuhan, masih dikasih tahu lewat cara yang nggak terlalu sakit."
Seperti itu, mungkin, sudah cukup untuk hari ini.
(mBogor, 14032026)
Prof. Sudarsono Soedomo
Reposting by POINT Consultant


