UNDANGAN :
Webinar Internasional Seri Literasi Keagamaan Lintas Budaya dalam Rangka Merayakan Hari Perempuan Internasional.
Perempuan dan Pendidik sebagai Pilar Perdamaian :
Kesetaraan Gender dalam Membangun Kohesi Sosial.
Diselenggarakan oleh :
Masjid Istiqlal dan Institut Leimena
Didukung oleh
Templeton Religion Trust
Hadirilah
KAMIS, 6 MARET 2025
Pukul 19.00 – 21.00 WIB
Disiapkan terjemahan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris
Kata Sambutan (Welcoming Remarks) :
- Dr. Farid F. Saenong, M.A.
Voice of Istiqlal, Dosen Fakultas Studi Islam di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
- Matius Ho
Direktur Eksekutif, Institut Leimena
Pembicara Kunci / Keynote Speakers :
- Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A.
Menteri Agama Republik Indonesia
Pembicara/Panelis (Speakers/Panelists) :
- Indah Nuria Savitri
Direktur Hak Asasi Manusia dan Kemanusiaan, Direktorat Jenderal Kerja Sama Multilateral,
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
- Dr. Giovanna R. Czander
Peneliti Tamu, Institut Agama, Hukum dan Pekerjaan Pengacara, Fordham University, New York
Mercy Chriesty Barends, S.T.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
- Dr. Katherine Marshall
Wakil Presiden, G20 Interfaith Association
- Prof. Dr. Hj. Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A.
Guru Besar bidang Hak Asasi Manusia dan Gender Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
Senior Fellow Institut Leimena
Moderator:
Petrosina Waremra, M.Pd.
Alumni Pelatihan LKLB Angkatan 59 & Guru, SMA Kristen Rehoboth Ambon
Kesetaraan gender adalah hak asasi manusia dan kunci pembangunan berkelanjutan, namun ketidaksetaraan masih meluas, membatasi akses perempuan terhadap pendidikan, pengambilan keputusan, dan meningkatnya resiko diskriminasi berbasis gender. Tantangan perempuan di masyarakat juga mencakup keterbatasan dalam akses terhadap sumber daya ekonomi, representasi dalam kepemimpinan dan stereotip sosial yang menghambat peran mereka sebagai agen perdamaian. Dalam upaya global untuk memperjuangkan kesetaraan gender dan memperkuat kontribusi perempuan dalam perdamaian dan keamanan, United Nations menegaskan pentingnya pemberdayaan perempuan melalui berbagai kebijakan internasional. Beijing Declaration and Platform for Action (1995) menjelaskan bahwa kesetaraan gender bukan hanya soal hak asasi manusia, tetapi juga landasan utama bagi keadilan sosial, hal ini merupakan faktor kunci yang mendukung terciptanya pembangunan berkelanjutan dan perdamaian. Selain itu, UN Security Council Resolution (UNSCR) 1325 on Women, Peace, and Security (2000) Resolusi ini menegaskan peran penting perempuan dalam perdamaian, mulai dari pencegahan konflik hingga rekonstruksi pasca konflik, serta partisipasi setara dan penuh mereka dalam upaya menjaga keamanan.
Perempuan memainkan peran kunci dalam memperkuat toleransi, mendorong inklusi sosial, dan membangun kohesi masyarakat, terutama di dunia yang semakin beragam secara budaya dan agama. Agama, spiritualitas, dan kepercayaan memiliki peran penting dalam kehidupan jutaan orang, membentuk nilai-nilai dan aspirasi mereka, sementara kebebasan berpikir, hati nurani, dan beragama merupakan hak universal yang harus dijamin bagi semua individu, termasuk perempuan.
Untuk menciptakan masyarakat yang setara dan damai, penting untuk memastikan bahwa perempuan tidak hanya dilindungi dari diskriminasi berbasis agama dan ekstremisme, tetapi juga diberdayakan melalui pendidikan dalam mencegah konflik berbasis agama dan mempromosikan harmoni sosial. Guru atau pendidik memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai kesetaraan gender dan toleransi sejak dini. Pendidikan yang berbasis pada pendekatan inklusif dapat menjadi modal sosial dalam membangun generasi yang lebih sadar akan pentingnya kesetaraan dan harmoni sosial. Sebagai garda terdepan dalam pendidikan, pendidik tidak hanya berperan sebagai fasilitator pembelajaran, tetapi juga agen perubahan yang dapat membentuk norma sosial yang lebih adil dan setara di masyarakat.
Bersamaan dengan ini, Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) sebagai pendekatan kreatif untuk menciptakan masyarakat toleran dan kohesif mampu menjadi dasar kerangka berpikir yang eksisten dan berkelanjutan. Dalam dunia yang semakin kompleks, melalui pendekatan LKLB, perempuan dan pendidik memiliki potensi besar dalam mencegah konflik berbasis agama dan budaya dengan memanfaatkan modal sosial yang ada di komunitas untuk mempromosikan dialog lintas agama dan budaya, memperkuat kepercayaan antar kelompok, serta membangun komunitas yang lebih inklusif dan menyelesaikan perbedaan secara damai. Webinar ini bertujuan untuk menyoroti pentingnya perempuan dan pendidik sebagai pilar perdamaian dan kohesi sosial. Melalui kolaborasi multipihak, termasuk lembaga pemerintahan, institusi pendidikan, organisasi masyarakat sipil, serta akademisi, dalam meningkatkan keterlibatan perempuan dan pendidik dalam mencegah konflik, serta memperkuat kohesi sosial di tingkat lokal, nasional, dan global.
Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. akan membahas secara umum tentang perspektif Agama dalam mendorong kesetaraan gender dan mendukung perempuan dalam mewujudkan kohesi sosial. Indah Nuria Savitri akan menjelaskan bagaimana peran perempuan dalam membangun diplomasi untuk memperkuat perdamaian, kohesi sosial, serta mencegah intoleransi dan diskriminasi berbasis gender di tingkat nasional dan global dari konteks Perserikatan Bangsa-Bangsa. Mercy Chriesty Barends, S.T. akan memaparkan bagaimana perempuan sebagai pemimpin dan pengambil kebijakan dalam memperjuangkan hak perempuan, serta mendorong kebijakan yang lebih inklusif dan berkeadilan. Dr. Katherine Marshall menjelaskan pentingnya peran perempuan dalam membina kohesi sosial dan mencegah intoleransi dan stereotip negatif berdasarkan agama atau kepercayaan. Prof. Dr. Hj. Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A. akan menjelaskan pentingnya peran pendidik dan perempuan dalam Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) sebagai sarana transformasi sosial untuk kohesi sosial. Dr. Giovanna R. Czander akan menjelaskan bagaimana perempuan penting dalam mempromosikan perdamaian melalui pendidikan dan dialog budaya.
DAFTAR DI SINI
Copyright © 2025 Institut Leimena, All rights reserved.
Publikasi ini dipersembahkan oleh Institut Leimena, lembaga non profit dengan misi: “Mengembangkan peradaban Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dan peradaban dunia yang menjunjung tinggi harkat manusia, melalui kerjasama dalam masyarakat yang majemuk.”
This email was sent to syehhakediri@gmail.com
Unsubscribe
FORMULIR REGISTRASI
Webinar Internasional Seri Literasi Keagamaan Lintas Budaya
dalam Rangka Merayakan Hari Perempuan Internasional
Perempuan dan Pendidik sebagai Pilar Perdamaian: Kesetaraan Gender dalam Membangun Kohesi Sosial
Diselenggarakan oleh
Masjid Istiqlal dan Institut Leimena
Didukung oleh
Templeton Religion Trust
KAMIS, 6 Maret 2025
Pukul 19.00 – 21.00 WIB
Disiapkan terjemahan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris
Terima kasih atas pendaftaran Bapak/Ibu R. Tri Priyo Nugroho, S.Sos mengikuti Webinar Internasional Seri Literasi Keagamaan Lintas Budaya dalam Rangka Merayakan Hari Perempuan Internasional:
Perempuan dan Pendidik sebagai Pilar Perdamaian:
Kesetaraan Gender dalam Membangun Kohesi Sosial
Women and Educators as Pillars of Peace: Gender Equality in Building Social Cohesion
pada hari Kamis, 6 Maret 2025 pukul 19.00-21.00 WIB (Via ZOOM)
Link Zoom Webinar Internasional telah kami kirim ke email Bapak/Ibu di tripriyonugroho@gmail.com. Silakan cek inbox dan spam folder.
Dengan hadir 5-10 menit sebelumnya, Bapak/Ibu bisa memastikan diri telah tersambung ke Zoom Webinar dengan baik.
Pastikan masuk menggunakan nama dan email sesuai pendaftaran untuk verifikasi kehadiran. Panitia berhak tidak memberikan e-certificate bila peserta masuk menggunakan nama dan alamat email yang berbeda.
Jika terverifikasi hadir, sertifikat akan dikirim maksimal 14 hari kerja setelah Webinar berakhir ke email terdaftar tripriyonugroho@gmail.com
Pastikan audio dan speaker Bapak/Ibu berfungsi dengan baik.
Untuk mendengar Webinar dalam Bahasa Indonesia, silakan pilih menu Interpretation dan pilih BAHASA INDONESIA.
Klik tautan ini untuk memulai https://us06web.zoom.us/j/88336516370
Meeting ID Webinar: 883 3651 6370 (tanpa password)
Bila ada kendala teknis, silakan WhatsApp ke nomor 081222229561
Selamat ber-Webinar!
Masjid Istiqlal dan Institut Leimena
Kesetaraan gender adalah hak asasi manusia dan kunci pembangunan berkelanjutan, namun ketidaksetaraan masih meluas, membatasi akses perempuan terhadap pendidikan, pengambilan keputusan, dan meningkatnya resiko diskriminasi berbasis gender. Tantangan perempuan di masyarakat juga mencakup keterbatasan dalam akses terhadap sumber daya ekonomi, representasi dalam kepemimpinan dan stereotip sosial yang menghambat peran mereka sebagai agen perdamaian. Dalam upaya global untuk memperjuangkan kesetaraan gender dan memperkuat kontribusi perempuan dalam perdamaian dan keamanan, United Nations menegaskan pentingnya pemberdayaan perempuan melalui berbagai kebijakan internasional. Beijing Declaration and Platform for Action (1995) menjelaskan bahwa kesetaraan gender bukan hanya soal hak asasi manusia, tetapi juga landasan utama bagi keadilan sosial, hal ini merupakan faktor kunci yang mendukung terciptanya pembangunan berkelanjutan dan perdamaian. Selain itu, UN Security Council Resolution (UNSCR) 1325 on Women, Peace, and Security (2000) Resolusi ini menegaskan peran penting perempuan dalam perdamaian, mulai dari pencegahan konflik hingga rekonstruksi pasca konflik, serta partisipasi setara dan penuh mereka dalam upaya menjaga keamanan.
Perempuan memainkan peran kunci dalam memperkuat toleransi, mendorong inklusi sosial, dan membangun kohesi masyarakat, terutama di dunia yang semakin beragam secara budaya dan agama. Agama, spiritualitas, dan kepercayaan memiliki peran penting dalam kehidupan jutaan orang, membentuk nilai-nilai dan aspirasi mereka, sementara kebebasan berpikir, hati nurani, dan beragama merupakan hak universal yang harus dijamin bagi semua individu, termasuk perempuan.
Untuk menciptakan masyarakat yang setara dan damai, penting untuk memastikan bahwa perempuan tidak hanya dilindungi dari diskriminasi berbasis agama dan ekstremisme, tetapi juga diberdayakan melalui pendidikan dalam mencegah konflik berbasis agama dan mempromosikan harmoni sosial. Guru atau pendidik memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai kesetaraan gender dan toleransi sejak dini. Pendidikan yang berbasis pada pendekatan inklusif dapat menjadi modal sosial dalam membangun generasi yang lebih sadar akan pentingnya kesetaraan dan harmoni sosial. Sebagai garda terdepan dalam pendidikan, pendidik tidak hanya berperan sebagai fasilitator pembelajaran, tetapi juga agen perubahan yang dapat membentuk norma sosial yang lebih adil dan setara di masyarakat.
Bersamaan dengan ini, Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) sebagai pendekatan kreatif untuk menciptakan masyarakat toleran dan kohesif mampu menjadi dasar kerangka berpikir yang eksisten dan berkelanjutan. Dalam dunia yang semakin kompleks, melalui pendekatan LKLB, perempuan dan pendidik memiliki potensi besar dalam mencegah konflik berbasis agama dan budaya dengan memanfaatkan modal sosial yang ada di komunitas untuk mempromosikan dialog lintas agama dan budaya, memperkuat kepercayaan antar kelompok, serta membangun komunitas yang lebih inklusif dan menyelesaikan perbedaan secara damai. Webinar ini bertujuan untuk menyoroti pentingnya perempuan dan pendidik sebagai pilar perdamaian dan kohesi sosial. Melalui kolaborasi multipihak, termasuk lembaga pemerintahan, institusi pendidikan, organisasi masyarakat sipil, serta akademisi, dalam meningkatkan keterlibatan perempuan dan pendidik dalam mencegah konflik, serta memperkuat kohesi sosial di tingkat lokal, nasional, dan global.
Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. akan membahas secara umum tentang perspektif Agama dalam mendorong kesetaraan gender dan mendukung perempuan dalam mewujudkan kohesi sosial. Indah Nuria Savitri akan menjelaskan bagaimana peran perempuan dalam membangun diplomasi untuk memperkuat perdamaian, kohesi sosial, serta mencegah intoleransi dan diskriminasi berbasis gender di tingkat nasional dan global dari konteks Perserikatan Bangsa-Bangsa. Mercy Chriesty Barends, S.T. akan memaparkan bagaimana perempuan sebagai pemimpin dan pengambil kebijakan dalam memperjuangkan hak perempuan, serta mendorong kebijakan yang lebih inklusif dan berkeadilan. Dr. Katherine Marshall menjelaskan pentingnya peran perempuan dalam membina kohesi sosial dan mencegah intoleransi dan stereotip negatif berdasarkan agama atau kepercayaan. Prof. Dr. Hj. Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A. akan menjelaskan pentingnya peran pendidik dan perempuan dalam Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) sebagai sarana transformasi sosial untuk kohesi sosial. Dr. Giovanna R. Czander akan menjelaskan bagaimana perempuan penting dalam mempromosikan perdamaian melalui pendidikan dan dialog budaya.
Sambutan Pembuka:
Dr. Farid F. Saenong, M.A.
Voice of Istiqlal, Dosen Fakultas Studi Islam di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Matius Ho
Direktur Eksekutif, Institut Leimena
Pembicara Kunci:
Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A.
Menteri Agama Republik Indonesia
Pembicara:
Indah Nuria Savitri
Direktur Hak Asasi Manusia dan Kemanusiaan, Direktorat Jenderal Kerja Sama Multilateral, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
Mercy Chriesty Barends, S.T.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
Dr. Katherine Marshall
Wakil Presiden, G20 Interfaith Association
Prof. Dr. Hj. Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A.
Guru Besar bidang Hak Asasi Manusia dan Gender Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senior Fellow Institut Leimena
Dr. Giovanna R. Czander
Peneliti Tamu, Institut Agama, Hukum dan Pekerjaan Pengacara, Fordham University, New York
Moderator:
Petrosina Waremra, M.Pd.
Alumni Pelatihan LKLB Angkatan 59 & Guru, SMA Kristen Rehoboth Ambon
Responsible Citizenship
in Religious Society
Ikuti update Institut Leimena *
Kirim
@institutleimena
Follow
Follow
 +62 811 1088 854
© Institut Leimena 2024 | All rights reserved