KISAH ROMANTIS ANTARA NYAI RORO KINJENG DAN TJOA KWIE SOE

 KISAH ROMANTIS ANTARA NYAI RORO KINJENG DAN TJOA KWIE SOE



POINT Consultant


Nyai Roro Kinjeng (1739 – 1793) adalah puteri Kyai Tumenggung Onggojoyo, Bupati Pasuruan. Suami beliau adalah Tjoa Kwie Soe. Nyai Roro Kinjeng wafat pada usia 54 tahun (1793), dimakamkan dalam komplek pemakaman keluarga keturunan Tjoa yang terletak di sebelah barat Masjid Ampel. Sedangkan Tjoa Kwie Soe sendiri, kabarnya dimakamkan di daerah Kebangsren. 


Keberadaan bong (makam) di komplek Masjid Ampel menunjukkan bahwa di masa lampau banyak perantau Tionghwa yang berdatangan ke Surabaya. Mereka kemudian memeluk agama Islam, salah satunya adalah pemuda Tjoa Kwie Soe. 


The Boen Liang menulis di majalah Matahari (Semarang) edisi 1 Agustus 1934, tentang awal mula datangnya sekelompok pemuda perantauan bermarga Tjoa, antara lain Tjoa Kwie Soe yang mahir dalam ilmu bela diri. Tjoa Kwie Soe diminta Adipati Passaroean (Pasuruan), Kiai Tumenggung Onggodjoyo, membantu berjuang melawan kompeni Belanda. Saat itu Surabaya rusuh, sebab kompeni Belanda memaksa mengambil alih kekuasaan atas tanah pribumi. Terjadilah perlawanan yang dipelopori Untung Suropati bersama Adipati Pasuruan. 


Kemenangan ada di pihak Adipati, dan atas kemenangan tersebut kemudian Tjoa Kwie Soe dinikahkan secara Islam dengan anaknya, Nyai Roro Kindjeng.

Tjoa Kwie Sioe, seorang perantau Tionghoa, dan pasangannya, Nyai Roro Kinjeng, putri bangsawan Surabaya, adalah salah satu simbol keberagaman dan keterbukaan masyarakat Surabaya yang mungkin terlupakan.


Hal ini diperkuat dalam catatan Sam Setyautama penulis buku  Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia , tiba di Surabaya pada tahun 1743. Saat berniaga di Surabaya, dia berkenalan dengan Nyai Roro Kinjeng, adik dari Bupati Surabaya.


Tatkala terjadi peperangan tahun 1758, Tjoa Kwie Sioe memihak Surabaya dalam pertempuran melawan VOC. Pemuda Tjoa bahkan menyelamatkan Nyai Roro Kinjeng di kapalnya yang berlabuh di pesisir Surabaya.


Kemudian, Tjoa menikahi Nyai Roro Kinjeng secara Islam dan hidup bahagia. Nyai Roro Kinjeng kemudian dimakamkan di kompleks Masjid Ampel, sedangkan Tjoa Kwie Sioe dikebumikan di pemakaman keluarga Tjoa.


Menurut Osa Kurniawan Ilham, penulis buku  Proklamasi Sebuah Rekonstruksi , dalam narasi masyarakat Surabaya, kisah relasi atau hubungan antara Jawa-Tionghoa dan keberagaman yang lebih dulu dikenal dalam hubungan Prabu Brawijaya dan Putri Campa. Padahal, setelahnya ada kisah romantis antara Tjoa Kwie Sioe dan Nyai Roro Kinjeng.


#sarkubadventurer

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama