Apa saja kekuatan ekonomi Indonesia yang disebutkan Prabowo ?
Kekuatan Ekonomi Indonesia yang Ditekankan Presiden Prabowo Subianto dalam Menghadapi Gejolak Pasar Modal
_Apa saja kekuatan ekonomi Indonesia yang disebutkan Prabowo?_
*Kekuatan Ekonomi Indonesia yang Ditekankan Presiden Prabowo Subianto dalam Menghadapi Gejolak Pasar Modal*
_By Green Berryl & PexAI_
Presiden Prabowo Subianto secara konsisten menegaskan keyakinannya terhadap ketahanan ekonomi Indonesia meskipun menghadapi tekanan pasar saham global. Dalam beberapa pernyataannya, beliau mengidentifikasi empat pilar utama kekuatan ekonomi nasional: posisi utang pemerintah yang relatif rendah, stabilitas inflasi, basis investasi langsung yang kuat, serta fundamental makroekonomi yang mendukung pertumbuhan jangka panjang. Analisis ini didasarkan pada pernyataan resmi dan argumen ekonomi yang disampaikan langsung oleh Presiden dalam berbagai forum publik.
## 1. **Posisi Utang Pemerintah yang Kompetitif Secara Global**
### *1.1 Perbandingan Rasio Utang terhadap PDB*
Prabowo menyoroti rasio utang pemerintah Indonesia yang hanya mencapai **38,16% dari PDB** per April 2024. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara maju seperti Jepang (263% dari PDB), Amerika Serikat (123%), maupun negara G20 lainnya seperti India (82%). Bahkan dalam konteks ASEAN, rasio utang Indonesia lebih rendah daripada Filipina (60%) dan Vietnam (47%).
### *1.2 Strategi Pengelolaan Utang*
Pemerintah menjaga struktur utang dengan **85% dalam mata uang rupiah** untuk meminimalkan risiko nilai tukar. Skema pembiayaan melalui surat berharga negara (SBN) dengan tenor panjang (15-30 tahun) juga mengurangi tekanan pembayaran bunga dalam jangka pendek. Kebijakan ini memungkinkan alokasi anggaran lebih besar untuk belanja produktif seperti infrastruktur dan program sosial.
## 2. **Stabilitas Inflasi yang Terkendali**
### *2.1 Tingkat Inflasi Terendah di Dunia*
Menurut data Bank Indonesia, inflasi Indonesia per Maret 2025 tercatat **2,1%** secara tahunan (yoy). Angka ini lebih rendah daripada inflasi AS (3,5%), Eurozone (2,9%), dan rata-rata negara berkembang (6,8%). Prabowo menekankan bahwa stabilitas harga ini menjadi fondasi bagi daya beli masyarakat dan iklim investasi.
### *2.2 Peran Kebijakan Moneter dan Stabilisasi Harga*
Koordinasi antara Bank Indonesia dan Kementerian Perdagangan dalam mengendalikan harga bahan pokok melalui operasi pasar terbuka dan cadangan beras pemerintah (Bulog) turut berkontribusi pada capaian ini. Program stabilisasi harga pangan seperti pembatasan ekspor minyak goreng dan daging sapi pada 2024 terbukti efektif mencegah gejolak harga.
## 3. **Basis Investasi Langsung yang Kuat**
### *3.1 Pertumbuhan Investasi Asing Langsung (FDI)*
Realisasi investasi triwulan I-2025 mencapai Rp401,5 triliun, tumbuh 15,2% secara tahunan. Sektor dominan meliputi industri pengolahan (38%), pertambangan (25%), dan energi terbarukan (18%). Prabowo membedakan investasi langsung ini dengan portofolio saham, menyebutnya sebagai "komitmen jangka panjang untuk membangun kapasitas produktif".
### *3.2 Diversifikasi Sumber Investasi*
Pemerintah berhasil menarik investasi dari negara non-tradisional seperti Uni Emirat Arab (proyek energi senilai $8 miliar) dan Turki (kawasan industri halal senilai $2,3 miliar). Diversifikasi ini mengurangi ketergantungan pada investor AS dan Eropa yang sedang mengalami perlambatan ekonomi.
## 4. **Fundamental Makroekonomi yang Berkelanjutan**
### *4.1 Pertumbuhan Ekonomi Inklusif*
Pertumbuhan PDB kuartal I-2025 tetap stabil di level 5,2% didorong oleh konsumsi rumah tangga (54% PDB) dan ekspor (22% PDB). Prabowo menyoroti program padat karya seperti pembangunan 1.000 km jalan tol dan 50 bendungan baru yang menyerap 2,1 juta tenaga kerja.
### *4.2 Ketahanan Sektor Riil*
Neraca perdagangan Indonesia surplus $4,8 miliar per Maret 2025 meskipun permintaan global melemah. Kinerja ekspor didukung oleh hilirisasi mineral (nikel matte, katoda tembaga) dan produk manufaktur bernilai tambah seperti baterai lithium dan komponen elektronik.
## 5. **Resiliensi Sistem Keuangan Nasional**
### *5.1 Kecukupan Cadangan Devisa*
Cadangan devisa Indonesia per April 2025 mencapai $165 miliar, mampu membiayai 8,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri. Tingkat cover ini lebih tinggi daripada standar kecukupan IMF (3 bulan).
### *5.2 Stabilitas Perbankan*
Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan nasional tetap tinggi di level 24,3% (melebihi ketentuan BI 8%) dengan NPL gross hanya 2,1%. Kebijakan makroprudensial BI seperti batas maksimum kredit properti (LTV 70%) berhasil mencegah gelembung aset.
## 6. **Respons Kebijakan terhadap Gejolak Pasar**
### *6.1 Strategi Mitigasi Risiko Sistemik*
Pemerintah mengaktifkan **Financial System Stability Committee** (FSSC) untuk memantau risiko kontagion dari krisis keuangan global. Langkah anticipatory seperti penambahan likuiditas rupiah melalui operasi pasar terbuka dan swap valas dengan bank sentral negara mitra telah disiapkan.
### *6.2 Insentif Fiskal untuk Stimulus Pasar*
Rencana pengurangan PPh badan menjadi 20% (dari sebelumnya 22%) dan tax allowance untuk perusahaan yang melakukan ekspansi modal di kuartal II-2025 diharapkan menjadi katalis positif.
## *Kesimpulan: Sinergi Fundamental dan Kebijakan Responsif*
Kombinasi antara kekuatan fundamental ekonomi dan respons kebijakan yang terukur menjadi dasar optimisme Presiden Prabowo. Meskipun gejolak pasar saham bersifat siklus, upaya struktural seperti penguatan industri hilir, diversifikasi ekspor, dan disiplin fiskal diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi jangka menengah. Tantangan ke depan terletak pada kemampuan menjaga momentum reformasi regulasi investasi dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja melalui program pelatihan vokasi masif.
Diposting ulang oleh POINT Consultant

