INDONESIA ADALAH JANJI YANG DIJAWAB LANGIT
Refleksi Filosofis atas Sumpah Pemuda dan Makna Kemerdekaan.
Oleh : Brigjen TNI (Purn.) MJP. Hutagaol
Di tengah gejolak zaman, krisis moral, dan kaburnya arah nasionalisme, kita wajib bertanya kembali: mengapa para pendahulu menyebutnya "Sumpah Pemuda", bukan sekadar "Janji" atau "Ikrar"?
Karena sumpah adalah ikatan jiwa antara manusia dan Tuhan, bukan sekadar kesepakatan antar manusia. Dan barang siapa melanggar sumpah yang diucapkannya dengan tulus, akan menerima akibatnya—bukan dari sesama manusia, tapi dari semesta dan Tuhan Yang Maha Esa.
Sumpah yang Mengguncang Takdir
Pada 28 Oktober 1928, para pemuda Nusantara dari berbagai suku, agama, dan daerah—Yong Java, Yong Batak, Yong Sumatra, dan lainnya—berkumpul dan menyatakan Sumpah: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa — Indonesia.
Pada saat itulah, lahir sebuah bangsa baru bernama Indonesia, meskipun bentuk negaranya belum ada secara resmi.
Tujuh belas tahun kemudian, pada 17 Agustus 1945, di tengah kekosongan kekuasaan akibat kekalahan Jepang, bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Ini bukanlah kebetulan.
Ini adalah jawaban Tuhan atas Sumpah yang diucapkan para pemuda 17 tahun sebelumnya.
Antara Sumpah dan Azab
Setiap upaya untuk mengkhianati sumpah tersebut—baik dalam bentuk separatisme, pengkhianatan ideologi, atau korupsi kekuasaan—telah menunjukkan satu pola sejarah yang pasti:
hancur dan gagal.
PKI gagal. PRRI dan NII gagal. Semua bentuk penghianatan terhadap keutuhan Indonesia berakhir dengan kehancuran.
Sebaliknya, mereka yang setia pada sumpah persatuan dan keadilan—walau berkorban jiwa—diangkat martabatnya oleh sejarah.
Sumpah yang Masih Berlaku Hari Ini
Sumpah Pemuda bukanlah dokumen sejarah yang selesai. Ia adalah kontrak spiritual bangsa ini dengan Tuhannya.
Dan hingga hari ini, sumpah itu masih berlaku.
Namun hari ini kita menghadapi musuh-musuh baru:
Disintegrasi karena fanatisme buta.
Korupsi yang merampok masa depan bangsa.
Politik yang kehilangan nilai kebijaksanaan.
Konflik identitas yang mengaburkan makna "bangsa Indonesia".
Jika kita tidak kembali ke akar sumpah itu, maka kita akan tersesat dalam arah tanpa kompas.
Indonesia adalah Anugerah Tuhan
Para pendiri bangsa sadar, bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hasil perhitungan politik semata.
Ia adalah "Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa", sebagaimana tertulis jelas dalam Pembukaan UUD 1945.
Karena itulah setiap warga Indonesia adalah anak kandung dari sumpah itu, dan memiliki hak serta kewajiban yang sama di seluruh penjuru negeri ini.
Tak ada warga kelas dua. Tak ada yang lebih asli dari yang lain. Kita semua anak Indonesia.
Penutup: Jangan Melanggar Sumpah Itu
Wahai bangsa Indonesia…
Jangan coba-coba melanggar sumpah yang telah ditegakkan dengan darah, air mata, dan restu langit.
Karena azab dari pelanggaran sumpah adalah kehancuran bangsa.
Sebaliknya, jika kita kembali kepada semangat Sumpah Pemuda dan nilai-nilai Pancasila, maka Indonesia tidak hanya bertahan—Indonesia akan bangkit menjadi bangsa besar yang disegani dunia.
Mari kita jaga negeri ini…
Dengan Hikmat, dengan Cinta Tanah Air, dan dengan Kesetiaan kepada Tuhan.
Indonesia adalah Janji yang Telah Dijawab Langit.
Jangan kita jadi generasi yang mengingkarinya.
MERDEKA!
Brigjen TNI (Purn.) MJP. Hutagaol
Diposting ulang oleh POINT Consultant

