Bukan China atau Singapura Indonesia Kunci Keseimbangan Selat Malaka
Oleh Brigjen Purn. MJP Hutagaol
Jakarta, Januari 2026 —
Selat Malaka kembali menjadi perbincangan publik setelah muncul berbagai narasi yang menyederhanakan persoalan geopolitik kawasan. Di tengah arus informasi yang cepat, diperlukan kejernihan berpikir agar isu strategis tidak tereduksi menjadi sensasi semata.
Selat Malaka bukan sekadar jalur laut. Ia adalah urat nadi perdagangan dunia, penghubung Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, serta jalur vital bagi distribusi energi dan logistik global.
Justru karena nilainya yang sangat strategis, kawasan ini tidak—dan tidak boleh—dipahami secara simplistik sebagai arena dominasi sepihak satu negara.
China dan “Malacca Dilemma”
Narasi yang menyebut China telah “menguasai” Selat Malaka tidak sejalan dengan fakta geopolitik. China justru berada pada posisi sangat bergantung terhadap jalur ini.
Sebagian besar impor energi dan perdagangan laut China melewati Selat Malaka. Dalam kajian strategis internasional, kondisi ini dikenal sebagai Malacca Dilemma—sebuah istilah yang menggambarkan kerentanan struktural China akibat ketergantungan pada satu choke point maritim.
Dengan kata lain, China bukan aktor yang berada pada posisi dominan, melainkan pihak yang paling berkepentingan agar Selat Malaka tetap aman, terbuka, dan stabil. Upaya China membangun jalur alternatif—baik darat maupun laut—justru memperkuat kesimpulan bahwa Selat Malaka masih belum tergantikan.
Singapura: Tetap Relevan sebagai Hub Global
Singapura juga kerap digambarkan secara berlebihan seolah berada di ambang kemunduran. Faktanya, negara-kota ini tetap menjadi salah satu pelabuhan tersibuk dan pusat keuangan global.
Kekuatan Singapura bukan terletak pada penguasaan teritorial, melainkan pada kemampuan manajerial, stabilitas kebijakan, serta kepercayaan internasional.
Keberlangsungan Singapura sangat bergantung pada Selat Malaka yang aman dan terbuka. Karena itu, kepentingan Singapura sejalan dengan stabilitas kawasan, bukan dominasi sepihak.
Indonesia: Aktor Penentu yang Kerap Terlupakan
Dalam perbincangan tentang Selat Malaka, sering kali perhatian publik tersedot pada kekuatan besar.
Padahal, aktor paling menentukan justru adalah Indonesia.
Secara geografis dan kedaulatan, sebagian besar perairan strategis Selat Malaka bersinggungan langsung dengan wilayah Indonesia.
Stabilitas Selat Malaka pada akhirnya sangat ditentukan oleh kebijakan, kapasitas, dan kepemimpinan Indonesia sebagai bangsa maritim terbesar di kawasan. Karena itu, narasi China versus Singapura sejatinya mengaburkan fakta bahwa Indonesia adalah jangkar keseimbangan.
Selat Malaka dan Kepentingan Nasional Indonesia
Bagi Indonesia, Selat Malaka adalah kepentingan nasional strategis. Bukan hanya karena nilai ekonominya, tetapi karena dampaknya terhadap kedaulatan, stabilitas kawasan, dan posisi tawar Indonesia dalam geopolitik global.
Indonesia tidak berkepentingan melihat Selat Malaka dikuasai satu kekuatan tertentu.
Kepentingan Indonesia adalah menjaga jalur ini sebagai ruang netral, aman, dan terbuka, sembari memperkuat kapasitas nasional dalam menjaga keamanan maritim dan kerja sama kawasan.
Di sinilah pentingnya kebangkitan kembali kesadaran maritim Indonesia. Kita adalah bangsa pelaut, bangsa penghubung peradaban, bukan bangsa pinggiran dalam percaturan global.
Penegasan Akhir
Narasi viral akan selalu datang dan pergi. Namun bangsa besar tidak boleh membangun persepsi dan kebijakan di atas sensasi.
Selat Malaka bukan milik China.
Singapura tidak sedang runtuh.
Dan Indonesia bukan penonton.
Indonesia adalah aktor strategis. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, kekuatan Indonesia bukan pada memilih kubu, melainkan pada menjaga keseimbangan.
Selat Malaka adalah salah satu panggung utama peran historis tersebut.
Bangsa yang memahami letak strategisnya akan memahami tanggung jawab sejarahnya.

