INDONESIA DAN NEGARA-NEGARA KECIL: PERBANDINGAN YANG MEMBUKA MATA
Ukuran wilayah dan kekayaan alam sering menipu cara berpikir bangsa. Indonesia kerap merasa “besar” karena luas wilayah dan melimpahnya sumber daya. Namun sejarah modern justru menunjukkan paradoks: banyak negara kecil dan miskin sumber daya melesat jauh, sementara negara kaya alam tertinggal.
Perbedaan utamanya bukan pada nasib, melainkan pada pilihan kebijakan terhadap manusia dan pengetahuan.
Israel: Negara Kecil, Otak Besar
Israel hampir tidak memiliki sumber daya alam strategis.
Wilayahnya sempit, air terbatas, dan konflik keamanan konstan.
Namun sejak awal, Israel menjadikan otak manusia sebagai sumber daya utama negara.
Pendidikan sains, riset militer-sipil, dan inovasi teknologi diprioritaskan. Negara membiayai riset, melindungi ilmuwan, dan menghubungkan universitas dengan industri.
Hasilnya: Israel menjadi pemain global dalam AI, pertahanan, pertanian presisi, dan teknologi kesehatan. Mereka tidak menjual tanah, tetapi menjual kecerdasan.
Korea Utara: Contoh Fokus Strategis (Bukan Model Politik)
Korea Utara bukan contoh ideologi, tetapi contoh fokus ekstrem pada teknologi strategis. Dengan ekonomi lemah dan sanksi berat, negara ini tetap mampu mengembangkan misil dan teknologi nuklir.
Pelajarannya jelas: penguasaan pengetahuan inti bisa mengangkat posisi geopolitik, bahkan tanpa kekayaan alam dan pasar besar. Dunia terpaksa memperhitungkan mereka, bukan karena ekonomi, tetapi karena teknologi.
Jepang: Bangsa Tanpa Tambang, Kaya Nilai Tambah
Jepang hampir tidak memiliki sumber daya alam. Setelah hancur total pasca Perang Dunia II, Jepang tidak mengeluh soal alam, melainkan membangun manusia, disiplin, dan industri presisi.
Jepang tidak mengekspor bijih, tetapi mesin. Tidak menjual tanah, tetapi kualitas. Pendidikan teknik, riset industri, dan etos kerja menjadi fondasi. Nilai tambah diciptakan oleh otak, bukan perut bumi.
Singapura: Manusia sebagai Satu-satunya Aset
Singapura adalah contoh ekstrem: tanpa tambang, tanpa lahan luas, bahkan tanpa air sendiri. Namun negara ini menerapkan seleksi ketat, meritokrasi, dan pendidikan kelas dunia.
Setiap talenta dianggap aset strategis negara. Akibatnya, Singapura menjadi pusat keuangan, logistik, dan teknologi Asia. Negara kecil, tetapi sangat terkelola.
China: Menguasai Rantai Nilai, Bukan Sekadar Sumber
China memiliki logam tanah jarang (REE), tetapi yang membuatnya unggul bukan cadangan semata. China menguasai seluruh rantai nilai: dari eksplorasi, pemurnian, manufaktur, hingga teknologi tinggi.
Mereka mengirim jutaan mahasiswa terbaik ke luar negeri, memaksa transfer teknologi, lalu membangun ekosistem industri dalam negeri.
China tidak membiarkan REE dikuasai pasar asing tanpa kendali negara.
Indonesia: Kaya Alam, Miskin Fokus
Indonesia berada di posisi berlawanan. Kita memiliki nikel, tembaga, emas, REE, bahkan potensi nuklir. Namun terlalu lama kita:
mengekspor bahan mentah,
lemah di riset dan teknologi,
ragu memilih talenta unggul karena takut dicap elitis.
Akibatnya, nilai tambah dinikmati pihak lain, sementara kita puas sebagai pemilik lahan.
Pelajaran Utama
Perbandingan ini menegaskan satu kesimpulan:
Negara maju bukan karena apa yang dimilikinya, tetapi karena apa yang dipilihnya.
Negara-negara kecil memilih manusia unggul, disiplin kebijakan, dan fokus jangka panjang.
Indonesia terlalu sering memilih kompromi jangka pendek, populisme, dan pemerataan tanpa kualitas.
Jalan Keluar Indonesia
Jika Indonesia ingin keluar dari perangkap sejarah, maka harus berani:
Menyaring dan mendidik talenta terbaik bangsa secara serius.
Mengaitkan pendidikan unggulan dengan industri strategis (tambang, energi, AI).
Menghentikan ilusi bahwa sumber daya alam otomatis membawa kesejahteraan.
Menjadikan manusia unggul sebagai kebijakan negara, bukan wacana seminar.
Indonesia tidak kekurangan potensi.
Yang masih kurang adalah keberanian memilih masa depan.
Penulis: Brigjen Purn. MJP Hutagaol
Jakarta, 28 Januari 2026

