ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI AI, DAN HIKMAT MANUSIA DALAM MENENTUKAN ARAH PERADABAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), telah membawa umat manusia memasuki babak baru dalam sejarah peradaban. Teknologi yang dahulu hanya menjadi alat bantu, kini telah menjadi sistem yang mampu berpikir, menganalisis, bahkan mengambil keputusan berbasis data.
Namun satu hal yang harus dipahami secara jernih: teknologi pada hakikatnya bersifat netral. Ia tidak memiliki moral, tidak memiliki niat, dan tidak memiliki tujuan. Arah penggunaan teknologi sepenuhnya ditentukan oleh manusia sebagai penggunanya.
Para ilmuwan dan insinyur menciptakan teknologi melalui riset panjang di laboratorium, pusat data, dan institusi pendidikan. Mereka membangun “kendaraan” peradaban modern. Tetapi ke mana kendaraan itu bergerak—apakah menuju kemajuan kemanusiaan atau justru menuju kehancuran—ditentukan oleh manusia yang mengendalikannya.
Di sinilah letak peran hikmat.
Ilmu pengetahuan tanpa hikmat dapat melahirkan kekuatan yang tidak terkendali.
Sebaliknya, hikmat tanpa ilmu pengetahuan akan membuat manusia tertinggal dan tidak mampu menghadapi perubahan zaman. Keduanya harus berjalan seimbang.
Teknologi AI, drone, sistem siber, dan berbagai inovasi digital memiliki dua wajah. Di satu sisi, ia mampu:
meningkatkan efisiensi kerja,
mempercepat pengambilan keputusan,
memperkuat sistem pertahanan dan keamanan,
serta membantu manusia memecahkan persoalan kompleks.
Namun di sisi lain, teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk:
serangan siber,
manipulasi informasi,
perang digital,
serta penghancuran sistem sosial dan ekonomi.
Inilah yang disebut sebagai dualitas teknologi.
Dalam konteks keamanan modern, peperangan tidak lagi hanya terjadi di darat, laut, dan udara. Ruang siber telah menjadi medan tempur baru.
Serangan tidak selalu berbentuk peluru dan rudal, tetapi bisa berupa:
peretasan sistem,
sabotase data,
perang informasi,
dan disrupsi teknologi.
Negara atau kelompok yang mampu menguasai teknologi digital dan AI akan memiliki keunggulan strategis. Namun penguasaan teknologi saja tidak cukup.
Diperlukan kesadaran moral dan tanggung jawab kebangsaan agar teknologi digunakan untuk menjaga kedaulatan, bukan menghancurkan peradaban.
Di sinilah pentingnya kualitas sumber daya manusia. Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki teknologi canggih, tetapi bangsa yang memiliki manusia dengan karakter, integritas, dan visi kebangsaan yang jelas.
Teknologi dapat dibeli, dipinjam, atau ditiru. Tetapi karakter tidak bisa diimpor.
Pemanfaatan AI dalam bidang pertahanan, misalnya, harus disertai dengan doktrin yang jelas, sistem pengamanan yang kuat, serta pengendalian yang berbasis nilai-nilai kebangsaan. Tanpa itu, teknologi justru dapat menjadi ancaman bagi dirinya sendiri.
Dalam kehidupan sipil, penggunaan AI juga harus diarahkan untuk:
meningkatkan kualitas pendidikan,
memperkuat sistem ekonomi,
memperbaiki layanan kesehatan,
serta memperluas akses informasi yang benar.
Bukan untuk menyebarkan hoaks, memecah belah masyarakat, atau menciptakan ketergantungan yang melemahkan.
Peradaban manusia selalu ditentukan oleh keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan moralitas. Sejarah menunjukkan bahwa banyak peradaban runtuh bukan karena kekurangan teknologi, tetapi karena kehilangan arah dan nilai.
Oleh karena itu, tantangan utama kita saat ini bukan hanya bagaimana menguasai teknologi, tetapi bagaimana mengendalikan teknologi dengan hikmat.
Hikmat dalam konteks ini bukan sekadar konsep spiritual, tetapi kemampuan untuk:
melihat dampak jangka panjang,
mempertimbangkan aspek kemanusiaan,
menjaga keseimbangan antara kekuatan dan tanggung jawab,
serta menempatkan teknologi sebagai alat, bukan sebagai tujuan.
Manusia harus tetap menjadi subjek, bukan objek dari teknologi.
Kesadaran ini penting agar kita tidak terjebak dalam euforia kemajuan teknologi yang justru menghilangkan kedaulatan berpikir. AI harus membantu manusia berpikir lebih baik, bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia.
Dalam perspektif kebangsaan, Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan teknologi AI sebagai alat untuk memperkuat ketahanan nasional.
Dengan jumlah penduduk yang besar, sumber daya alam yang melimpah, serta posisi geopolitik yang strategis, Indonesia dapat menjadi kekuatan yang disegani apabila mampu mengintegrasikan teknologi dengan visi kebangsaan.
Namun hal tersebut hanya dapat terwujud apabila pembangunan teknologi disertai dengan pembangunan karakter bangsa.
Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral, memiliki semangat kebangsaan, serta mampu menggunakan teknologi untuk kepentingan kemanusiaan.
Pada akhirnya, masa depan peradaban tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang kita miliki, tetapi oleh seberapa bijak kita menggunakannya.
Teknologi adalah alat. Hikmat adalah kompas.
Tanpa kompas, alat secanggih apa pun dapat membawa kita tersesat.
Oleh karena itu, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus selalu disertai dengan kesadaran moral, tanggung jawab sosial, dan komitmen kebangsaan. Dengan demikian, teknologi akan menjadi kekuatan yang membangun, bukan menghancurkan.
Inilah tantangan dan sekaligus peluang bagi kita semua: menjadikan ilmu pengetahuan dan AI sebagai sarana untuk memperkuat kemanusiaan, menjaga kedaulatan, dan membangun peradaban yang bermartabat.
Jakarta, akhir Februari 2026
Brigjen Purn. MJP Hutagaol

