Euforia
Secara harfiah, arti euforia adalah kebahagiaan ekstrem
pada situasi tertentu dan terkadang melebihi kewajaran. pada ilmu psikologi,
euforia didefinisikan menjadi peningkatan suasana hati dan kebahagiaan yang
tidak mencerminkan empiris keadaan yang sesungguhnya.
Euforia adalah perasaan nyaman atau perasaan gembira yang
berlebihan. Euforia berasal dari bahasa Yunani euphoros yang berarati badan
yang sehat dan sebuah luapan kegembiraan yang berlebihan. Beberapa hadiah alami
dan aktivitias sosial, seperti latihan aerobik, tertawa, mendengarkan atau
membuat musik, serta berdansa, dapat menyebabkan euforia. Euforia itu lawan dari emosi rasa takut
sehingga termasuk dalam kategori emosi sekunder. Bahkan euforia juga bisa
termasuk dalam kategori patologis yang memiliki dampak negatif terhadap perkembangan
mental seseorang. Seperti pada orang yang menderita gangguan bipolar pada fase
manik maupun pada Depresi unipolar yang sangat rentan dihinggapi euforia.
Selain itu, bisa juga terkena pada gangguan mental lain, seperti gangguan
kepribadian skizofrenia dan siklotimik serta kondisi nyata yang sudah tidak
dapat membedakan lagi sebuah persepsi realitas.
waktu mengalami euforia, Anda akan mengalami peningkatan
perasaan bahagia yg hiperbola dan sangat positif. Perasaan bahagia yg
ditunjukkan dalam kondisi ini dianggap hiperbola dan tidak wajar, Jika
dibandingkan menggunakan perasaan senang sebagaimana umumnya. Euforia dapat
menjadi keliru satu gejala asal sejumlah gangguan kesehatan atau gangguan
mental.
euforia adalah keadaan mental dan emosional yang membuat
seseorang sangat bahagia, bersemangat, dan percaya diri. Perasaan bahagia yang
intens ini lebih dari yang biasanya dirasakan.
Euforia dapat dialami orang yang menderita gangguan
bipolar pada fase manik maupun pada depresi unipolar. Hal ini juga dapat
terjadi pada gangguan mental lain, seperti gangguan kepribadian siklotimik dan
skizofrenia, kondisi yang tidak dapat membedakan persepsi realitas.
Positif dan Negatif Euforia
Mendapatkan nilai sempurna dalam ujian, mendapat bonus
tambahan dari atasan, atau memenangkan undian liburan pasti membuat Anda senang
bukan kepalang. Perasaan gembira yang Anda rasakan ini adalah euforia
(euphoria). Meski dapat muncul secara alami, beberapa orang juga bisa mengalami
kegembiraan ini lewat cara yang tidak sehat.
Menurut National Institute of Drug Abuse, euforia atau europhia artinya
adalah perasaan gembira yang muncul karena peristiwa membahagiakan atau
aktivitas tertentu yang memicu perasaan bahagia.
Euphoria yang sehat biasanya terjadi secara alami.
Kondisi ini sangat mungkin Anda rasakan ketika Anda mendapatkan perhatian dari
orang yang disukai, mencapai puncak gunung ketika mendaki, atau bisa juga
karena meluncur dari perosotan di wahana permainan air.
Rasa gembira yang muncul secara alami ini ternyata
memberikan banyak manfaat bagi kesehatan tubuh, di antaranya :
1.
Menurunkan risiko
penyakit jantung yang bisa dipicu oleh stres berat akibat hidup tidak bahagia,
tekanan darah tinggi, dan memperbaiki kualitas tidur.
2.
Menjauhkan diri
dari penyakit mental karena membuat seseorang berpikiran positif dan
meningkatkan kemampuan dalam memecah masalah.
3.
Meski begitu, tidak
semua euphoria itu mengarah pada hal yang baik. Pasalnya, rasa gembira juga
bisa muncul akibat penyalahgunaan obat-obatan atau masalah kesehatan tertentu.
Penyebab euforia
Penyebab alami dari euforia (euphoria) adalah berbagai
hal yang menimbulkan perasaan bahagia. Penyebab lainnya antara lain faktor
kesengajaan dalam menggunakan obat-obatan tertentu atau kelainan fisik pada
otak.
Penggunaan obat-obatan tersebut di antaranya adalah
kokain (obat adiktif yang terbuat dari tanaman koka), obat
Gamma-hydroxybutyrate (GHB) untuk narkolepsi, opium, atau ganja.
Obat-obatan ini memanipulasi otak dengan menganggap bahwa
penggunaan obat yang memicu perasaan gembira memberikan manfaat bagi tubuh. Ini
karena obat tersebut menyebabkan lonjakan dopamin, yakni zat kimiawi otak yang
memicu euforia.
Otak akan menyesuaikan diri dosis obat dan dosisnya akan
terus bertambah, setelah berulang kali dikonsumsi. Kondisi ini akan membuat
pengguna obat merasa ketagihan dan terus-menerus menambah dosis. Inilah yang
Anda kenal dengan istilah kecanduan obat.
Otak tertipu oleh efek euforia dari obat dan ini adalah
cara yang tidak sehat dan sebaiknya dihindari karena bisa menimbulkan efek
samping lain yang merugikan tubuh.
Sementara itu, kelainan fisik pada otak diyakni menjadi
salah satu penyebab dari bipolar disorder dan skizofrenia. Nah, orang yang
mengidap gangguan mental ini umumnya akan merasakan euphoria sebagai salah satu
gejalanya.
Bipolar disorder sendiri adalah penyakit mental yang
menyebabkan perubahan suasana hati ekstrem, mulai dari mania, hipomania, dan
depresi. Sementara skizofrenia merupakan gangguan mental yang membuat
penderitanya tidak dapat membedakan khayalan dan kenyataan.
Jenis-Jenis Euforia
1.
Euforia yang
disebabkan musik. Musik adalah stimulus abstrak yang dapat merangsang perasaan
euforia, kesenangan yang meningkat, dan menambah gairah. Hal ini terjadi karena
adanya rangsangan dari otak.
2.
Euforia yang
disebabkan olahraga. Olahraga yang berkelanjutan seperti aerobik dapat
menyebabkan euforia. Selain aerobik, lari jarak jauh juga bisa menyebabkan
euforia, yang biasa disebut runner's high.
3.
Euforia akibat
obat. Obat-obatan psikedelik dapat menyebabkan keadaan euforia. Mekanisme
kerjanya tergantung pada sekresi dopamin sebagai akibat dari stimulasi pusat
otak.
4.
Euforia karena seks.
Suatu keadaan euforia sering dialami saat berhubungan seksual. Ini terjadi
karena stimulasi pusat kesenangan di sistem limbik otak.
5.
Euforia disebabkan
hipoksia. Hipoksia adalah tidak adanya cukup oksigen dalam jaringan untuk
mempertahankan fungsi tubuh, seperti mencekik yang dapat membuat otak
kekurangan oksigen. Jika sengaja dilakukan dalam waktu singkat, itu dapat
menyebabkan keadaan euforia. Namun, ini adalah perilaku yang sangat berisiko
karena secara tidak sengaja dapat menyebabkan kematian. Selain mencekik,
perasaan takut akan ketinggian juga bisa menyebabkan euforia.
Gejala Euforia
Arti euforia bisa dipergunakan secara awam buat
menggambarkan perasaan yg sangat senang karena kondisi eksklusif. misalnya,
karena baru saja mencapai prestasi atau asa yg diinginkan. Orang mampu merasa
sangat senang dan mengatakan dirinya pada syarat euforia.tetapi, euforia pula
dapat digambarkan sebagai rasa kegembiraan atau kebahagiaan yang luar biasa,
hiperbola, melewati batas normal, tapi tanpa alasan yang berdasar. kondisi ini
bisa jadi ialah gejala penyalahgunaan zat tertentu atau artinya bagian asal
kondisi gangguan kesehatan mental seorang.
Penyebab Euforia
Kemunculan euforia bisa ditimbulkan sang banyak kondisi,
misalnya mengalami kepuasan seksual, terjadi insiden kehidupan yang
membahagiakan, mencapai prestasi yg diperlukan, mewujudkan mimpi, atau
keinginan yg diidam-idamkan. Perasaan cinta pula bisa memicu euforia.Selain
itu, olahraga pula mampu sebagai penyebab terjadinya euforia. ketika tubuh
menghabiskan simpanan glikogennya dan kemudian melepaskan hormon endorfin, di
ketika inilah Anda dapat mencicipi euforia.tetapi, terdapat kalanya euforia yg
tidak wajar mampu disebabkan sang pilihan gaya hidup atau syarat kesehatan
mental yang terganggu.
Bila Anda kerap mengalami euforia tanpa alasan, bahkan
sampai melupakan hal esensial bagi tubuh dan keselamatan Anda, sebaiknya segera
hubungi pakar kejiwaan.Khususnya, Jika Anda kerap merasa sangat terpuruk atau
depresi setelahnya. Kunjungi psikiater buat dilakukan pemeriksaan supaya Anda
mengetahui apa penyebab dan arti euforia yg sebenarnya Anda rasakan.
Penyebab alami euforia pada dasarnya merupakan berbagai
hal yang menimbulkan perasaan bahagia. Penyebab lain adalah faktor kesengajaan
dalam menggunakan obat-obatan tertentu atau kelainan fisik pada otak.
Gangguan mental, termasuk depresi unipolar, gangguan
bipolar, skizofrenia, dan gangguan kepribadian siklotimik, juga bisa jadi
pemicu lain.
Kemudian, kecanduan atau penyalahgunaan narkoba, seperti
kokain, ganja (marjuana), amfetamin, heroin, morfin, kodein, oksikodon,
fentanil, lysergic acid diethylamide (LSD) dan mescaline pun bisa menciptakan
euforia.
Kebiasaan buruk, misalnya terlalu berlebihan dalam
mengonsumsi alkohol, nikotin, dan kafein, juga berdampak serupa. Gangguan
neurologis, seperti kejang, migrain, cedera kepala, atau pernah mengalami
perawatan oleh ahli saraf maupun ahli bedah saraf pun bisa jadi penyebab lain
euforia.
Meski euforia disebabkan banyak kondisi, namun hanya
sebagian kecil yang benar-benar dapat dicegah. Misalnya, dengan tidak memulai
kebiasaan buruk seperti minum alkohol dan penggunaan narkoba sejak awal. Ini
dapat dilatih dengan pengendalian diri dan memulai gaya hidup yang sehat.
Tanda-tanda euforia yang baik
dan buruk
Euphoria yang baik dan menyehatkan bisa ditandai dengan
perasaan senang dan ditunjukkan dengan bahasa tubuh, seperti Anda tersenyum
lebar, tertawa, berteriak bahagia, bahkan bisa juga menangis saking bahagianya.
Anda mungkin juga melakukan gerakan tubuh mengulang (repetisi), seperti
bertepuk tangan atau melompat-lompat kegirangan.
Sementara itu, pada orang yang mengalami euforia karena
kecanduan obat, tanda-tanda yang dimunculkan adalah perasaan senang yang
digambarkan seperti terbang melayang. Kondisi ini biasanya diikuti oleh gejala
tekanan darah dan detak jantung meningkat, mata merah, mulut kering, dan
koordinasi tubuh menurun.
Pada orang yang mengalami bipolar disorder, biasanya
perasaan senang terjadi saat episode mania. Episode ini menyebabkan
penderitanya menjadi sangat bersemangat dan berenergi, kadang melakukan
tindakan impulsif yang tidak rasional.
Pada penderita skizofrenia, mengalami euphoria diikuti
dengan gejala halusinasi atau delusi. Penderitanya akan mendengar dan melihat
hal-hal yang sebenarnya tidak ada atau punya keyakinan tidak biasa yang tidak
nyata.
cara mengatasinya
Perasaan senang yang alami tentu tidak perlu Anda
khawatirkan karena ini menyehatkan tubuh. Sebaliknya, yang perlu Anda waspadai
adalah euforia yang muncul karena kecanduan atau penyakit mental. Pasalnya,
jika dibiarkan overdosis atau kondisi yang membahayakan jiwa dapat terjadi
kapan saja.
Orang yang kecanduan umumnya akan direkomendasikan dokter
untuk menjalani rehabilitasi dan terapi. Namun, jika sudah menimbulkantanda
overdosis obat, penderitanya akan mendapat perawatan intensif di rumah sakit.
Begitu juga dengan penderita bipolar disorder dan skizofrenia.
Mereka akan direkomendasikan untuk mengikuti psikoterapi,
lebih tepatnya terapi perilaku kognitif. Pada pasien bipolar disorder dan
skizofrenia yang pernah melakukan tindakan membahayakan jiwa, biasanya mereka
perlu menjalani perawatan intensif di rumah sakit hingga kondisinya membaik.
Pada pasien bipolar disorder umumnya juga akan diresepkan
obat-obatan untuk menekan gejalanya, seperti :
1.
Obat penstabil suasana
hati untuk mengurangi episode mania atau hipomania, seperti natrium divalproex
(Depakote), carbamazepine (Tegretol, Equetro, lainnya) dan lamotrigine
(Lamictal).
2.
Obat antidepresan
dan obat antikecemasan, seperti benzodiazepin. Namun, penggunaan obat ini harus
diawasi karena dalam jangka panjang bisa menyebabkan kecanduan benzodiazepin.
3.
Obat antipsikotik,
seperti olanzapine (Zyprexa), quetiapine (Seroquel), aripiprazole (Abilify),
ziprasidone (Geodon), lurasidone (Latuda) atau asenapine (Saphris).
4.
Obat antipsikotik,
seperti aripiprazole (Abilify), chlorpromazine, dan risperidone (Risperdal
Consta, Perseris) adalah jenis obat satu-satunya yang diresepkan sebagai
pengobatan skizofrenia.
5.
Obat-obatan euforia
yang disebutkan di atas, dapat menimbulkan efek samping. Oleh karena
penggunaanya harus sesuai dengan anjuran dokter, baik dosis maupun waktu minum.
Jika Anda mengalami efek samping yang mengganggu, konsultasikan lebih lanjut
pada dokter.