Konsep Hikmatologi
BACA JUGA :
HIKMATOLOGI : MELANJUTKAN PEMIKIRAN FILOSOF Oleh : Indarwanto, BA., Drs.,S.H., M.Si, Phd
IDENTITAS NASIONAL: “JANCUK ITU INDAH”, EKSPRESI BUDAYA DALAM PERILAKU KOMUNIKASI
.
Hikmat atau hikmah (bahasa Inggris: Wisdom) adalah suatu pengertian dan pemahaman yang dalam mengenai orang, barang, kejadian atau situasi, yang menghasilkan kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan perbuatan sesuai pengertian tersebut. Seringkali membutuhkan penguasaan reaksi emosional seseorang (passions) supaya prinsip, pertimbangan dan pengetahuan universal dapat menentukan tindakan seseorang. Hikmat juga berarti pemahaman akan apa yang benar dikaitkan dengan penilaian optimal terhadap suatu perbuatan. Sinonimnya termasuk: kebijaksanaan, kecerdasan, akal budi, akal sehat, kecerdikan; bahasa Inggris: sagacity, discernment, or insight.
Pada dasarnya Ilmu Pengetahuan Hikmatologi adalah cabang ilmu dari Ilmu Filsafat.
Hikmatologi merupakan proses berpikir sebagai tindak lanjut dari Filsafat yang dianggap belum selesai dalam memberikan dasar atau payung keilmuan.
Hikmatologi dianggap sebagai dasar ilmu pengetahuan ketika wahyu difungsikan khususnya hikmah dipakai untuk mendasari cara berpikir.
Hikmatologi sebagai payung atau mahkota ilmu pengetahuan disaat memakai wahyu (hikmah) untuk menghiasi ilmu pengetahuan agar selalu tampil cantik sebagai piranti manusia untuk memperoleh dan menerapkan kebenaran serta kebajikan.
Hikmatologi mencoba meneruskan perjalanan pemikiran Filosof yang telah berabad-abad menapakkan kakinya di bumi ilmu pengetahuan. Pembaca budiman diajak memasuki alam ilmu pengetahuan yang tertinggi dari Allah Tuhan. Ilmu yang pernah diberikan kepada para Nabi dan Rasul utusan Allah Tuhan dan sebagian diberikan juga kepada cendekiawan yang beriman.
Di dalam Hikmatologi, Ilmu Pengetahuan dibagi peringkatnya didasarkan pada Kitab Suci Al-Qur’an dan Al-Kitab atau Injil baik Perjanjian Lama maupun Injil Perjanjian Baru.
Pembagian ini dimaksudkan agar mudah ditangkap pesan awal dari sikap dan pola pikir di jalan Hikmatologi yang berbeda dengan Filsafat pada umumnya.
Tingkatan Ilmu Pengetahuan yang dirangkum di dalam sebait Syair di bawah ini yang menunjukkan bahwa Hikmah yang kemudian dalam kajian ini dijadikan Hikmatologi, merupakan catatan perjalan cara berpikir umat manusia dari Allah Tuhan sebagai bentuk karunia tertinggi dalam tataran berpikir manusia.
Jadi peringkat ini sebenarnya hanya sekedar menggali dari Al-Kitab dan Al-Qur’an. Hikmah berdasar wahyu dianugerahkan kepada Nabi dan Rasul Allah, sedangkan yang diberikan kepada manusia pada umumnya kecerdasan dan kebijaksanaan berpikir yang didasarkan pada tauhid atau teologi bagian dari hikmah itu sendiri. Tidak ada kebaruan (inovasi) kecuali kebaruan pada Hikmatologi sebagai cara berpikir, yang dibarukan sebagai penerus dari perjalanan Filsafat.
Perbedaan hikmatologi dan Hikmalogi :
Hikmatologi adalah studi atau ilmu tentang kebijaksanaan (hikmah) yang mencakup pemahaman mendalam, penilaian optimal, dan penerapan pengetahuan dalam situasi nyata, sering kali dikaitkan dengan penyelarasan pengetahuan teoritis dan tindakan praktis. Konsep ini menekankan pada cara berpikir yang dibarukan, penguasaan emosi, serta kemampuan menempatkan segala sesuatu secara tepat.
Berikut adalah poin-poin utama konsep Hikmatologi :
1. Definisi & Hakikat: Hikmatologi berfokus pada kebijaksanaan (wisdom) sebagai pemahaman mendalam tentang orang, barang, kejadian, atau situasi.
2. Penggabungan Teori dan Amal: Menurut pemikir seperti Mulla Sadra, hikmah dibagi menjadi hikmah teoritis (terkait iman/pengetahuan) dan hikmah praktis (terkait perbuatan/amal kebaikan).
3. Komponen Resiliensi (Ketahanan Diri): Dalam konteks psikologis, hikmah melibatkan pengendalian emosi, manajemen masalah, dan kemampuan memilah hal yang bisa dikendalikan dan yang tidak.
4. Karakteristik: Melibatkan kebijaksanaan, akal sehat, kecerdikan, serta kemampuan mengambil keputusan yang adil dan benar.
5. Tujuan: Mencapai kesempurnaan jiwa melalui penyelarasan dengan tatanan alam semesta dan pemahaman hakikat sebenarnya dari segala sesuatu.
Secara ringkas, hikmatologi bukan sekadar pengumpulan informasi, melainkan kemampuan menggunakan pengetahuan secara bijak untuk kehidupan.
Konsep Hikmalogi secara etimologis berasal dari dua kata: Hikmah (Arab) yang berarti kebijaksanaan, pemahaman mendalam, atau kebenaran sejati, dan Logi/Logos (Yunani) yang berarti ilmu, studi, atau teori.
Secara terminologis, hikmalogi dapat diartikan sebagai ilmu atau studi tentang kebijaksanaan (hikmah), terutama yang bersumber dari refleksi mendalam, pengalaman hidup, kearifan lokal, atau wahyu religius (kebijaksanaan ketuhanan).
Berikut adalah poin-poin penting terkait konsep Hikmalogi:
1. Pencarian Kebenaran Tertinggi: Hikmalogi berfokus pada menemukan makna terdalam di balik suatu fenomena, bukan hanya pengetahuan intelektual semata.
2. Integrasi Ilmu dan Amal: Dalam Islam, hikmah sering dihubungkan dengan ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang menambah rasa takut kepada Allah, kebijaksanaan, serta mendorong amal perbuatan.
3. Refleksi Hidup: Hikmalogi melibatkan perenungan dan penghayatan atas pengalaman hidup (seperti konsep "penziarahan pribadi" dalam Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram) untuk mencapai jiwa yang tenang.
4. Kearifan Sufistik/Filosofis: Seringkali, kajian hikmalogi bersifat sufistik (penyucian jiwa) dan filosofis, mensucikan diri dari sifat buruk (tahalli) untuk mencapai kebijaksanaan.
5. Keseimbangan: Hikmalogi menuntut keseimbangan antara pengetahuan akali (intelektual) dan pengalaman adi-indrawi (intuisi/spiritual).
Dalam konteks yang lebih luas, hikmalogi bisa dianggap sebagai pendekatan untuk memahami dunia dengan cara melihat hikmah atau pelajaran di balik setiap peristiwa.

