BHINNEKA TUNGGAL IKA: MELURUSKAN KATA, MENGHIDUPKAN MAKNA
*BHINNEKA TUNGGAL IKA: MELURUSKAN KATA, MENGHIDUPKAN MAKNA*
--Sudarsono Soedomo
Setiap minggu, jutaan pelajar Indonesia berdiri tegak menyanyikan lagu kebangsaan. Di dada mereka, lambang Garuda Pancasila mencengkeram pita bertuliskan _Bhinneka Tunggal Ika_. Kalimat itu dihafal, ditulis di papan tulis, dan diucapkan dalam upacara. Namun, pertanyaannya adalah: apakah kita benar-benar memahaminya, atau sekadar mengulanginya sebagai mantra kosong?
Di tengah polarisasi sosial dan menguatnya politik identitas belakangan ini, semboyan negara ini sering kali direduksi menjadi sekadar slogan toleransi pasif. Padahal, jika kita menelusuri akar kata dan filosofi di baliknya, _Bhinneka Tunggal Ika_ menawarkan sesuatu yang jauh lebih radikal dan mengikat daripada sekadar "saling membiarkan".
*Kesalahpahaman pada Kata "Ika"*
Mari kita bedah dari hal yang paling mendasar: bahasa. Selama puluhan tahun, banyak dari kita diajarkan menerjemahkan _Bhinneka Tunggal Ika_ secara keliru sebagai "Berbeda-beda tetapi tetap satu". Terjemahan ini tidak sepenuhnya salah secara semangat, namun cacat secara linguistik.
Kesalahpahaman terbesar terletak pada kata "*Ika*". Banyak yang mengira _Ika_ berarti "satu" atau sekadar pelengkap agar terdengar puitis. Faktanya, dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi), _Ika_ adalah kata tunjuk yang berarti "*itu*". Dalam dialek Jawa Banyumas misalnya, kata _iku_ (itu) masih sering dilafalkan sebagai _ika_, menyimpan jejak linguistik masa lalu yang hidup hingga kini.
Jadi, makna harfiah yang lebih presisi adalah "*Beraneka ragam itu, satu itu*". Perbedaan nuansa ini sangat krusial. Kata "itu" (_ika_) berfungsi sebagai pengakuan atas realitas. Ia menunjuk pada perbedaan yang nyata di depan mata. Mpu Tantular, penulis Kitab Sutasoma tempat frasa ini diambil, tidak sedang menyuruh kita untuk mengabaikan perbedaan. Sebaliknya, ia meminta kita untuk *mengakui* bahwa perbedaan itu ada (_bhinneka_), namun pada hakikatnya kebenaran atau tujuan bersama itu adalah tunggal (_tunggal_).
Dengan memahami _ika_ sebagai "itu", kita diajak untuk tidak menutup-nutupi perbedaan. Kita tidak dipaksa untuk seragam. Kita diminta untuk melihat perbedaan sebagai fakta yang sah, bukan sebagai masalah yang harus diselesaikan dengan penyeragaman.
*Asli Nusantara: Warisan Mpu Tantular, Bukan Impor*
Penting untuk ditegaskan: _Bhinneka Tunggal Ika_ bukan konsep yang diimpor dari Barat. Ia lahir dari rahim pemikiran Nusantara, digali dari kearifan lokal oleh seorang empu agung bernama *Mpu Tantular* pada abad ke-14, di masa kejayaan Kerajaan Majapahit.
Frasa ini diambil dari *Kitab Sutasoma*, pupuh 139 bait 5, yang awalnya ditulis untuk mendamaikan perbedaan teologis antara umat Siwa dan Buddha:
"_Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa_,
_Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen_,
_Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal_,
_*Bhinnêka tunggal ika* tan hana dharma mangrwa_."
Artinya: Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah dapat dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. *Berbeda itu, tetapi satu jugalah itu* — tidak ada kerancuan dalam kebenaran. Ini bukan sekadar puisi; ini adalah *manifesto toleransi aktif* yang ditulis enam abad sebelum Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat.
Ya, Amerika juga memiliki semboyan _E Pluribus Unum_ ("Out of many, one") yang maknanya kurang lebih sejalan: persatuan dalam keragaman. Namun, penting dicatat: *kita tidak mencontek*. Konsep ini muncul secara independen dari tanah kita sendiri, lahir dari konteks sosial-religius Nusantara yang majemuk. Mpu Tantular tidak menulis untuk negara-bangsa modern, tetapi visinya tentang kesatuan dalam perbedaan ternyata universal dan relevan hingga hari ini.
Mengakui asal-usul ini bukan soal klaim superioritas, melainkan soal *kedaulatan intelektual*. Kita memiliki tradisi pemikiran yang kaya, yang mampu menjawab tantangan kebangsaan tanpa harus selalu merujuk pada kerangka Barat. _Bhinneka Tunggal Ika_ adalah bukti bahwa nenek moyang kita sudah memikirkan cara hidup bersama secara damai, jauh sebelum konsep "multikulturalisme" populer di dunia akademik global.
*Melampaui Toleransi Pasif*
Pemahaman linguistik dan historis ini membawa kita pada implikasi sosial yang lebih dalam. Selama ini, toleransi sering dipahami secara pasif: "Saya tidak mengganggu Anda, dan Anda jangan mengganggu saya." Ini adalah toleransi berbasis jarak. Kita hidup berdampingan, tetapi tidak pernah benar-benar bertemu. _Bhinneka Tunggal Ika_ menuntut lebih dari itu. Ia membutuhkan *toleransi aktif*.
Toleransi aktif bukan sekadar menahan diri untuk tidak membenci. Ia adalah kemauan untuk terlibat, memahami, dan bekerja sama dengan mereka yang berbeda. Jika _ika_ berarti "itu" (mengakui realitas perbedaan), maka _tunggal_ berarti kita harus membangun jembatan di atas perbedaan tersebut.
Dalam konteks ini, bersatu tidak harus seragam. Kita tidak perlu memakai baju yang sama, berdoa dengan cara yang sama, atau berpikir dengan cara yang sama untuk menjadi satu bangsa. Justru, kekuatan anyaman kebangsaan kita terletak pada variasi benang yang digunakan. Jika semua benang sama warnanya, itu bukan tenun; itu hanya kain polos.
*Berbeda Tanpa Terfragmentasi*
Tantangan terbesar bangsa ini adalah ketakutan bahwa perbedaan akan mengarah pada perpecahan. Akibatnya, muncul keinginan terselubung untuk menyeragamkan pendapat dan keyakinan demi "kestabilan". Ini adalah interpretasi yang rapuh.
Prinsip _Bhinneka Tunggal Ika_ mengajarkan bahwa *berbeda tidak harus terfragmentasi*. Fragmentasi terjadi ketika perbedaan dijadikan alasan untuk memusuhi, bukan untuk melengkapi. Kita dapat berbeda pilihan politik, berbeda agama, dan berbeda suku, tanpa harus kehilangan ikatan kemanusiaan dan kebangsaan kita.
Lihatlah orkestra simfoni. Biola, selo, terompet, dan drum menghasilkan suara yang berbeda. Jika mereka dipaksa memainkan nada yang sama persis, keindahan harmoni akan hilang. Mereka menjadi satu lagu yang megah justru karena mereka memainkan peran berbeda secara bersamaan. Itulah esensi _tunggal_ dalam _bhinneka_.
*Kembali ke Akar, Melangkah ke Depan*
Sudah saatnya kita meluruskan cara pandang kita terhadap semboyan negara. _Bhinneka Tunggal Ika_ bukan alat untuk membungkam perbedaan dengan dalih persatuan. Ia adalah janji untuk merangkul perbedaan sebagai modal persatuan.
Memahami bahwa _ika_ berarti "itu" mengingatkan kita untuk jujur mengakui keberagaman. Menerapkan toleransi aktif mengingatkan kita untuk tidak cukup hanya hidup berdampingan, tetapi harus saling mengikat. Dan mengenali asal-usulnya dari Mpu Tantular mengingatkan kita bahwa kita memiliki akar pemikiran yang dalam dan mandiri.
Di era digital di mana algoritma media sosial cenderung mengurung kita dalam ruang gema yang seragam, semangat ini semakin mendesak. Mari kita buktikan bahwa kita dapat berdebat tanpa benci, berbeda tanpa bermusuhan, dan bersatu tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.
Karena pada akhirnya, Indonesia tidak dirancang untuk menjadi monolit yang kaku. Indonesia dirancang untuk menjadi mosaik yang indah. Berbeda-beda, tetapi tetap satu jua. Bukan karena dipaksa, melainkan karena dipilih — dan dipilih berdasarkan kearifan yang lahir dari tanah kita sendiri.
(mBogor, 23032026)
Prof. Sudarsono Soedomo Guru Besar IPB

