Buku Pintar Membaca Pikiran :
Merayakan “Konsistensi Terbalik” Para Pejabat
Prof. Sudarsono Soedomo
*Buku Pintar Membaca Pikiran: Merayakan “Konsistensi Terbalik” Para Pejabat*
--Sudarsono Soedomo--
Sudah menjadi tradisi turun-temurun—atau setidaknya tradisi lima tahun sekali—bahwa kita, sebagai rakyat jelata, menyaksikan pertunjukan sandiwara yang cukup memusingkan. Para pejabat tinggi berdiri di podium yang berkilau, menyampaikan orasi tentang niat baik, pembangunan, dan segala macam janji manis yang dibungkus dengan semarak. Namun, tak lama berselang, kenyataan menampar kita: yang dikerjakan sering kali adalah lawan persis dari yang diucapkan.
Reaksi spontan kita tentu saja frustrasi. Kita berteriak, “Hei, Bapak tidak konsisten!” Sein kanan belok kiri. Kita merasa ditipu, kita merasa dibodohi, dan kita menyalahkan ketidakmampuan mereka untuk menepati kata-kata sendiri. Namun, izinkan saya mengajak anda semua untuk mengambil jeda, menarik napas panjang, dan memandang fenomena ini dengan kacamata yang berbeda: kacamata seorang ilmuwan yang menemukan pola keanehan alam semesta.
Mari kita renungkan kembali. Jika seorang pejabat berkata “A”, dan tindakannya selalu “Bukan A” atau “kebalikan dari A” dalam setiap kesempatan, lalu kenapa kita masih menyebutnya tidak konsisten? Faktanya, mereka _sangat_ konsisten! Mereka memiliki disiplin tinggi dalam menjalankan pola inversi. Jika kita membalik ucap, kita mendapatkan kenyataan. Itu bukan inkonsistensi, sobat; itu adalah *Konsistensi Terbalik*. Ini adalah penemuan gemilang dalam studi perilaku politik!
Bayangkan jika pejabat kita adalah seorang kompas. Kompas yang rusak acak-acakan akan membuat anda tersesat tanpa arah. Tapi kompas milik pejabat kita ini unik: ia selalu menunjuk ke Selatan dengan konsisten, meskipun tertulis Utara di jarumnya. Maka, solusinya bukan marah-marah memukul kompas itu, melainkan dengan cerdas membacanya: “Oh, jarumnya nunjuk Selatan, berarti kita harus ke Utara.” Sederhana, kan?
Dengan teori baru ini, hidup kita menjadi jauh lebih mudah dan terprediksi. Kita tidak perlu lagi stres menebak apa yang akan terjadi. Kita hanya perlu mendengarkan pidato mereka, lalu membaliknya 180 derajat, dan _voila!_ kita mendapatkan ramalan masa depan yang setia. Mereka tidak omon-omon jika anda menafsirkan pidato mereka secara terbalik.
Contohnya mudah. Jika ada pejabat berkata dengan lantang, “Harga kebutuhan pokok akan turun,” jangan buru-buru berteriak hura-hura. Cukup senyum simpul, ambil pensil, dan coret: Harga akan naik. Kalau ada yang berjanji, “Proyek ini untuk kesejahteraan rakyat,” kita tinggal terjemahkan, “Proyek ini untuk kesejahteraan kontraktor dan kerabat.” Jika mereka berkata, “Tidak ada pembiayaan dalam penegakan hukum,” artinya... nah, anda sudah tahu jawabannya. Tanpa perlu dukun atau paranormal, kita sudah menjadi peramal ulung!
Oleh karena itu, mari kita hentikan kemarahan yang tak berujung. Marah itu menguras energi dan membuat keriput di wajah. Apalagi marah di bulan puasa, kita tidak dapat mengkambing-hitamkan setan yang sedang dikerangkeng. Alih-alih frustrasi, sebaiknya kita bersyukur. Kita diberi anugerah berupa pejabat yang pola pikirnya “serba terbalik” namun stabil. Mereka mungkin akan cemberut karena ulah mereka tidak lagi membuahkan kebingungan, melainkan tawa cerdas dari publik.
Jadi, lain kali anda mendengar pejabat berbicara di televisi, jangan ambil pusing. Jadilah penerjemah ulung. Ucapkan terima kasih dalam hati: “Terima kasih, Bapak, atas kode rahasia yang sangat mudah ditebak itu.” Kita sudah tidak bisa dibodohi lagi, karena kita sudah lulus dari sekolah logika terbalik. Rakyat sumringah, karena masa depan—meski terbalik—sudah ada di genggaman.
(mBogor, 01032026)

