Sumitronomics
(Soemitronomics)
Ketegangan geopolitik dan perang dagang global menggeser perekonomian dunia dari kapitalisme dan sosialisme ke era baru yang disebut “ekonomi penuh ambisi” (the age of ambition). Di tengah ketidakpastian tersebut, sejumlah pemikiran ekonom senior Indonesia, Prof. Sumitro Djojohadikusumo, kembali mendapat sorotan karena dinilai tetap relevan sebagai rujukan kebijakan ekonomi nasional.
Sumitronomics adalah kerangka pemikiran ekonomi yang dikembangkan oleh Prof. Sumitro Djojohadikusumo, ekonom senior dan ayah Presiden Prabowo Subianto. Berbasis pada nasionalisme ekonomi, konsep ini difokuskan pada tiga pilar utama : pertumbuhan tinggi, pemerataan pembangunan, dan stabilitas dinamis. Kembali mengemuka pada 2024-2025, strategi ini menekankan kemandirian ekonomi, industrialisasi, hilirisasi, dan peran negara dalam mendukung ekonomi rakyat.
Pilar Utama Sumitronomics
1. Pertumbuhan Tinggi : Mengejar target pertumbuhan ekonomi hingga 8% untuk menjadi negara maju.
2. Pemerataan : Mengutamakan inklusivitas agar manfaat pembangunan dirasakan masyarakat, termasuk penguatan ekonomi desa.
3. Stabilitas Dinamis: Menjaga disiplin fiskal dan stabilitas ekonomi-politik di tengah tantangan global.
Fitur Kunci dan Implementasi
1. Hilirisasi & Industrialisasi: Fokus pada pengolahan bahan mentah di dalam negeri, seperti nikel, untuk meningkatkan nilai tambah.
2. Peran Negara (Kapitalisme Negara): Negara berperan aktif memfasilitasi swasta, BUMN, dan koperasi dalam menggerakkan ekonomi.
3. Fiskal Ekspansif: Belanja negara diarahkan untuk mempercepat perputaran ekonomi dan daya beli rakyat.
Konsep ini dihidupkan kembali sebagai respons atas kebutuhan strategi pembangunan yang mandiri dan berkelanjutan, sering disandingkan dengan kebijakan hilirisasi dan ekonomi kerakyatan modern.
Sumitronomics dan Tantangan Ekonomi Global (Salah satu gagasan utama Sumitro adalah ekonomi kerakyatan)
Prof. Sumitro Djojohadikusumo merupakan salah satu perancang utama fondasi ekonomi Indonesia pascakemerdekaan. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Menteri Keuangan di masa awal Republik, serta dikenal luas atas kontribusinya dalam membangun basis industri nasional dan menekankan pentingnya intervensi negara dalam perekonomian.
Salah satu gagasan utamanya adalah ekonomi kerakyatan, yaitu model pembangunan yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai pusat, bukan sekadar pertumbuhan angka makro.
Ia juga memperjuangkan industri substitusi impor sebagai strategi untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Dalam pandangannya, pembangunan ekonomi tak cukup hanya berdasarkan teori pasar bebas, melainkan juga membutuhkan perencanaan dan proteksi terhadap sektor strategis.
Pemikiran Sumitro memiliki kerangka yang utuh dari filosofi, visi, dan misi, hingga teori dan kebijakan yang konkret.
Banyak pakar ekonom, menilai ekonomi kerakyatan yang diperjuangkan Sumitro masih terus diupayakan hingga hari ini, meski dihadapkan pada tantangan struktural dan dinamika global.
Sumitro dan Sumitronomics
Sumitronomics adalah kependekan kata dari Sumitro Economics. Istilah ini cukup populer saat ini, terutama ketika Presiden Prabowo Subianto terpilih sebagai presiden ke 8. Sumitro adalah ekonom, sekaligus politikus Partai Sosialis Indonesia (PSI), yang pernah memegang jabatan penting di era Parlementer 1945 - 1959 hingga Orde Baru. Publik mengenalnya sebagai begawan ekonomi.
Horward Dick, The Kian Wee Dkk (2002) dalam buku yang berjudul The Emergence of A National Economy: An Economic Histoty of Indonesia 1800-2000, mengenang Sumitro sebagai seorang nasionalis yang menjadi pioner pengembangan ilmu ekonomi di Indonesia, pendiri profesi ekonom di Indonesia, dan pendukung utama kebijakan ekonomi yang sehat. Sumitro memiliki latar belakang sebagai ekonom didikan Belanda. Dia lahir di Kebumen, Jawa Tengah dari keluarga aristokrat Jawa yang berpendidikan. Ayahnya adalah Margono Djojohadikusumo, ekonom yang banyak dikenal sebagai salah satu pendiri Bank Nasional Indonesia atau BNI 1946. Margono diabadikan sebagai nama jalan di Jakarta Pusat. Sumitro pernah menjabat sebagai menteri di kabinet Natsir yang merupakan bentukan dari Masyumi dan PSI, pencetus industrialisasi, dan gagasan yang paling terkenal adalah Program Benteng. Program ini memfokuskan kepada pemberian izin impor harus kepada pengusaha pribumi. Karier Sumitro di pemerintahan sempat terhenti karena pernah dituding dalam peristiwa PRRI. Dia kemudian hidup berpindah-pindah negara. Namun ketika rezim Sukarno tumbang, Sumitro pulang ke Indonesia dan kembali masuk dalam dunia birokrat duduk sebagai Menteri Perdagangan. Setelah tidak menjadi bagian dari birokrasi pemerintahan, Sumitro kembali ke dunia akademis dan mengembanghkan pikirannya di Universitas Indonesia. Salah satu buku dan masih banyak digunakan oleh kalangan ekonom sampai saat ini berjudul Perkembangan Pemikiran Ekonomi : Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. Sumitro wafat pada tahun 2001 di umur 83 tahun. Sumitro adalah ayah dari empat anak, yang paling menonjol adalah Prabowo Djojohadikusumo yang sekarang menjabat sebagai presiden ke 8 dan pengusaha Hasyim Djojohadikusomo.
Pendapat para ahli dan pakar menyampaikan pendapat, penulis artikel mengutip dari Bisnis.com Apakah Pemikiran Sumitro Masih Relevan ?
1. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, berpendapat, saat menyampaikan pidato kunci dalam Simposium Nasional Sumitronomics dan Arah Ekonomi Indonesia, yang diselenggarakan Katadata dengan dukungan Ikatan Alumni FEB UI di Jakarta. Bahwa dunia saat ini menghadapi risiko resesi dan depresi akibat ambisi ekonomi negara-negara besar, pemikiran Sumitro sebagai warisan intelektual yang layak dikaji ulang. Berbagai pemikiran begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo masih relevan membantu Indonesia bertahan di tengah ketidakpastian. Tiga Begawan Ekonomi Indonesia Dorodjatun menyebut Sumitro merupakan salah satu dari tiga orang yang layak disebut sebagai begawan ekonomi Indonesia dan bisa diteladani pemikiran-pemikirannya hingga kini.
Menurut Dorodjatun, kekuatan pemikiran Sumitro terletak pada kelengkapan aspek yang ditawarkannya : filosofi, visi, dan misi pembangunan ekonomi; teori ekonomi yang solid; pendekatan analisis yang tajam; hingga formulasi kebijakan berbasis kepentingan rakyat.
Gagasan tentang ekonomi kerakyatan yang beliau usung sejak masa awal kemerdekaan hingga kini terus diperjuangkan dalam berbagai bentuk kebijakan.
Menurut Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI, Prof. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti mengungkapkan, ekonomi penuh ambisi ini bisa menimbulkan resesi atau depresi ekonomi di tengah ketidakpastian ekonomi.
Sebagai solusinya, berbagai pemikiran begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo masih relevan membantu Indonesia bertahan di tengah ketidakpastian. Tiga Begawan Ekonomi Indonesia Dorodjatun menyebut Sumitro merupakan salah satu dari tiga orang yang layak disebut sebagai begawan ekonomi Indonesia dan bisa diteladani pemikiran-pemikirannya hingga kini,” kata Dorodjatun saat menjadi pembicara kunci di acara Simposium Nasional “Sumitronomics dan Arah Ekonomi Indonesia" yang digelar Katadata dan didukung Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia di Jakarta, Selasa (3/6/2025).
Dorodjatun menambahkan, pemikiran-pemikiran Sumitro memiliki filosofi, visi dan misi, memiliki landasan teori yang kuat, hingga metode analisis, dan kebijakan yang ditempuh. Kata dia, ekonomi kerakyatan yang dimotori oleh Sumitro Djojohadikusumo dan bertujuan untuk mencapai kemakmuran rakyat dinilai masih dengan susah payah lakukan hingga hari ini.
2. Menurut, Dekan FEB UI, Teguh Dartanto, menyebut bahwa gagasan Sumitro tidak hanya relevan pada masa lalu, tetapi juga untuk masa kini dan masa depan. Ia menyoroti kesesuaian ide-ide Sumitro dengan arah kebijakan saat ini, seperti hilirisasi sumber daya alam dan proteksionisme terukur yang dijalankan pemerintah. Perlu ada ketulusan untuk menggali pemikiran-pemikiran Sumitro untuk menemukan solusi nyata bagi kondisi perekonomian saat ini, sebagai modal di masa depan.
Kondisi perekonomian global sudah bergeser dari era kapitalisme dan sosialisme ke era ekonomi penuh ambisi alias the age of ambition. Persaingan di antara negara-negara besar dalam perang dagang ini membuat sejumlah pemikiran begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo masih relevan dalam kondisi saat ini.
Dekan FEB UI Teguh Dartanto, Ph.D., menyebut gagasan Sumitro akan tetap relevan sampai saat ini dan masa depan. Hal ini tercermin mulai dari program hilirisasi sumber daya hingga kebijakan proteksionisme terukur yang saat ini dilakukan pemerintah Indonesia.
Perlu ada ketulusan untuk menggali pemikiran-pemikiran Sumitro untuk menemukan solusi nyata bagi kondisi perekonomian saat ini, sebagai modal di masa depan.
3. Menurut CEO & Co-founder Katadata Metta Dharmasaputra menyebut, simposium ini terinspirasi dari keinginan untuk memahami arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto dan dasar pemikirannya yang disebut-sebut berasal dari pemikiran ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo.
Yang saat ini menjadi perbincangan dengan segala kontroversinya lebih kepada program-program mulai dari MBG (Makan Bergizi Gratis), program tiga juta rumah, sekolah rakyat, hingga Koperasi Merah Putih. Tapi, belum ada diskusi mendalam dasar keilmuan dan pendekatan ekonominya.
4. Menurut A.M. Hendropriyono, Sumitronomics (atau Soemitronomics) merujuk pada pemikiran ekonomi Sumitro Djojohadikusumo, yang kembali mengemuka pada tahun 2025 sebagai landasan kebijakan ekonomi di bawah Presiden Prabowo Subianto.
Meskipun pencarian tidak menunjukkan dokumen atau pernyataan langsung "Sumitronomic menurut Hendro Priyono", konteks narasi yang berkembang saat ini (2025) menunjukkan bahwa Sumitronomics difokuskan pada :
1. Kemandirian Ekonomi: Sumitro menekankan pentingnya industrialisasi nasional dan mengurangi ketergantungan pada modal asing yang mendikte kedaulatan ekonomi.
2. Tiga Pilar Utama: Pertumbuhan ekonomi tinggi, pemerataan manfaat pembangunan, dan stabilitas nasional yang dinamis.
3. Ekonomi Kerakyatan: Menekankan kesejahteraan petani, buruh, nelayan, dan anak muda.
Konsep ini dihidupkan kembali sebagai strategi untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% dan menghadapi tantangan global. A.M. Hendropriyono sebagai tokoh senior, dalam berbagai kesempatan cenderung menyoroti ancaman mafia ekonomi dan pentingnya kebijakan yang memperkuat kedaulatan ekonomi, sejalan dengan prinsip dasar Sumitronomics.
Berikut video A.M. Hendropriyono :
Berikut ECONOMICS AND FINANCE IN INDONESIA - Sumitro Djojohadikusumo :


