Bima Suci versi Mukidi: Ketika Kesunyian Kalah Pamor dari Notifikasi
*Bima Suci versi Mukidi: Ketika Kesunyian Kalah Pamor dari Notifikasi*
--Sudarsono Soedomo—
Pada suatu hari yang tidak terlalu sakral—karena kebetulan Mukidi sedang pilek—kisah besar _Bima Suci_ dimulai. Bima, ksatria tegap yang biasanya kalau jalan bikin angin minder, tiba-tiba disuruh gurunya, Durna, untuk mencari _Tirta Perwitasari_ -- “air kehidupan.” Instruksinya tidak jelas. Lokasinya juga tidak pakai Google Maps. Kalau Mukidi yang disuruh, mungkin sudah protes: “Pak, share location dulu, jangan mistis-mistis amat.”
Tapi Bima ini bukan Mukidi. Dia tidak banyak tanya. Dia berangkat.
Masalahnya, perjalanan ini bukan perjalanan biasa. Ini bukan sekadar “jalan-jalan sambil healing,” apalagi sambil update status: _“On the way mencari jati diri, doakan ya gaes.”_ Tidak. Ini perjalanan batin. Jenis perjalanan yang kalau diceritakan di tongkrongan, orang langsung bilang, “Wah, berat itu. Skip dulu.”
Bima masuk hutan. Gelap. Sepi. Tidak ada sinyal. Di sinilah sebenarnya banyak orang modern sudah menyerah. Baru kehilangan Wi-Fi saja sudah gelisah, apalagi kehilangan arah hidup. Mukidi pernah coba duduk diam 10 menit tanpa HP. Menit ke-3 sudah terasa seperti menghadapi kiamat kecil.
Namun Bima lanjut. Ia bertemu raksasa, ombak, dan akhirnya sesuatu yang aneh: dirinya sendiri—versi mini. Namanya Dewa Ruci. Kecil, tapi justru di situlah letak keanehannya. Biasanya kita berpikir yang besar itu hebat. Ternyata yang kecil ini malah menyimpan seluruh jagat makna.
Mukidi kalau ketemu versi mini dirinya sendiri, mungkin langsung panik: “Ini saya yang belum update atau yang sudah di-uninstall?”
Dewa Ruci mengajak Bima masuk ke dalam dirinya. Ini bagian yang paling “tidak masuk akal” kalau dipikir dengan logika warung kopi. Masuk ke dalam tubuh makhluk kecil, lalu menemukan semesta luas di dalamnya? Kalau Mukidi yang cerita begini, kemungkinan besar dianggap habis nonton film terlalu banyak.
Tapi justru di situlah inti lakon ini: yang dicari di luar ternyata ada di dalam. Yang jauh ternyata dekat. Yang ribut ternyata tidak perlu.
Masalahnya, manusia hari ini—termasuk Mukidi—lebih percaya pada yang ramai daripada yang sunyi. Kita hidup dalam dunia yang kalau tidak bunyi, dianggap mati. Notifikasi berbunyi sedikit saja, langsung ditanggapi seperti panggilan takdir. Padahal seringkali cuma promo diskon.
Bima justru melakukan kebalikannya. Ia masuk ke kesunyian. Ia berani diam. Ia berani tidak terdistraksi. Ini, kalau dipraktikkan hari ini, termasuk tindakan radikal.
Coba bayangkan: duduk tanpa HP, tanpa musik, tanpa scrolling, tanpa ingin tahu apa kata orang lain. Itu lebih sulit daripada melawan raksasa. Raksasa itu jelas bentuknya. Notifikasi? Tidak terlihat, tapi mengendalikan.
Di dalam Dewa Ruci, Bima menemukan pemahaman: hidup bukan soal ke luar mencari, tapi ke dalam memahami. Ini bukan berarti kita harus jadi pertapa lalu resign dari dunia. Mukidi juga tidak sampai segitunya—tagihan listrik tetap harus dibayar. Tapi ada satu hal yang diam-diam hilang dari kehidupan modern: kemampuan untuk hening.
Kita terlalu sibuk menjadi besar di luar—jabatan, pengikut, opini—tapi lupa mengecil ke dalam. Padahal justru di “kecil” itu, seperti Dewa Ruci, tersimpan kejelasan.
Mukidi pernah mencoba merenung. Hasilnya? Lima menit pertama memikirkan hidup. Lima menit berikutnya memikirkan makan siang. Lima menit terakhir sudah buka aplikasi lagi. Begitulah kira-kira kondisi kita.
Maka, _Bima Suci_ dalam versi Mukidi ini bukan soal mistis atau tidak. Bukan soal percaya atau tidak. Ini soal keberanian yang sederhana tapi langka: berhenti sejenak dari kebisingan.
Karena boleh jadi, yang kita cari selama ini—makna, arah, bahkan ketenangan—tidak ada di luar sana yang penuh suara, tetapi di dalam yang selama ini kita hindari karena terlalu sunyi.
Dan kalau Mukidi boleh memberi kesimpulan, kira-kira begini: “Kalau hidup terasa makin ribut, mungkin bukan dunia yang harus dikecilkan—tapi diri sendiri yang harus dimasuki.” Bima sudah membuktikan. Mukidi masih mencoba. Kita? Itu tergantung: mau terus scroll, atau sesekali menyelam.
(mBogor, 19042026)


