Uji Karakter Versi Lincoln: Mahal, Rawan Diretas, dan Tidak Perlu Dibayar.
Prof. Sudarsono Soedomo (IPB Bogor)
*Uji Karakter Versi Lincoln: Mahal, Rawan Diretas, dan Tidak Perlu Dibayar*
--Sudarsono Soedomo—
Abraham Lincoln pernah berujar, _“If you want to test a man’s character, give him power.”_ Terdengar bijak, puitis, dan cocok sekali untuk dipasang di poster ruang tunggu klinik motivasi. Tapi kalau Lincoln hidup di era sekarang, terlebih-lebih di Indonesia, beliau mungkin akan dikirimi _invoice_ konsultan SDM sebesar 300 juta rupiah, ditambah biaya pelatihan kepemimpinan, akomodasi di hotel bintang empat, dan tunjangan risiko psikologis. Maaf, Pak Abraham, tes Anda terlalu mahal. Dan sayangnya, anggaran publik tidak punya fitur _auto-replenish_.
Bayangkan kita menaati saran Lincoln secara harfiah. Kita menyerahkan jabatan, wewenang, atau minimal kunci gudang logistik kepada seseorang. Tiba-tiba, sang kandidat yang ternyata “koplak” bukan hanya gagal ujian, tapi langsung mengubah kisi-kisinya. Dia menunjuk dirinya sendiri sebagai ketua panel penguji, mengganti bobot nilai “integritas” jadi nol persen, lalu menerbitkan sertifikat _“Lulus dengan Predikat Sangat Memuaskan”_ kepada dirinya sendiri sambil menyeruput kopi di ruang kerja yang baru di-carpet merah. Ini bukan uji karakter. Ini simulasi _self-service audit_ dengan anggaran negara.
Maka, izinkan saya mengajukan proposal alternatif yang lebih hemat: jangan diuji. Jika dari awal sudah terendus aroma ketidakcocokan—misalnya, CV-nya lebih tebal dari novel, tapi isinya cuma foto bersalaman dengan pejabat, atau dia menyebut _“strategic thinking”_ sambil mengedit posisi dirinya di depan bendera—langsung saja tolak. Ya, ada risiko salah deteksi. Mungkin 5% orang yang kita saring sebenarnya jenius yang hanya sedang kurang tidur, alergi wawancara, atau kebetulan punya hobi mengoleksi stempel. Tapi mari bicara bahasa sederhana: _expected value_-nya tetap lebih tinggi. Karena biaya satu kali “tes kekuasaan” yang gagal bisa mengobrak-abrik institusi selama satu dekade, sementara biaya salah tolak hanya berupa email penolakan standar dan mungkin satu unggahan galau di LinkedIn.
Lincoln mungkin benar di zamannya, ketika kekuasaan masih diukur dari seberapa cepat kuda bisa berlari dan seberapa keras suara bisa berteriak di panggung kayu. Tapi hari ini, kita punya rekam jejak digital, pola komunikasi yang terekam, dan yang paling penting: insting dasar bahwa orang yang terlalu bersemangat mengejar kekuasaan biasanya bukan orang yang paling layak memilikinya. Jadi, terima kasih atas inspirasi Anda, Pak Abraham. Tapi untuk ke depan, mari ganti _“berikan kekuasaan”_ dengan _“cek dulu jejaknya, kalau sudah berbau koplak, jangan diuji. Langsung tolak.”_ Lebih murah. Lebih cepat. Dan yang paling penting: tidak perlu mengadakan rapat koordinasi darurat hanya untuk membahas mengapa nilai ujiannya tiba-tiba naik 1000%.
(mBogor, 25042026)

