Baratayuda Versi Dalang mBeling
--Sudarsono Soedomo--
*Baratayuda Versi Dalang mBeling*
--Sudarsono Soedomo--
Kalau ada yang bertanya, "Di mana sih Padang Kurusetra tempat Baratayuda berlangsung itu?" jangan buru-buru buka aplikasi pemesanan tiket pesawat ke India. Memang secara peta dunia, orang akan menunjuk ke distrik Haryana, sekitar 160 kilometer di barat laut New Delhi. Tapi kalau Anda bertanya pada dalang mbeling seperti saya, jawabannya tentu berbeda. Padang Kurusetra itu persis ada di balik tulang dada Anda. Lokasinya di ruang jantung yang berdebar dan pikiran yang gonta-ganti. Santai saja, ini hanya tafsir dari dalang mbeling, artinya Baratayuda versi dalang mbeling yang suka membaca kitab sambil ngopi. Mari kita bedah.
Secara harfiah dalam bahasa kuno, Kurukshetra berasal dari kata "Kuru" yang berarti perbuatan atau aksi, dan "Ksetra" yang berarti lahan atau medan. Jadi, secara harfiah Kurukshetra berarti "Lahan Perbuatan" atau "Medan Karma". Lahan apa itu? Lahan itu adalah tubuh jasmani dan pikiran batin manusia. Di sanalah setiap hari kita menanam benang merah kebiasaan dan memanen hasilnya. Orang sering mencari ketenangan jauh ke gunung atau ke ruang pertapaan, padahal medan perangnya sendiri belum diberesi.
Intisari sebenarnya dari Baratayuda adalah perjalanan spiritual manusia dalam menegakkan kebenaran di tengah dunia yang penuh tipu daya dan ambisi. Dalam tradisi spiritual, Baratayuda bukanlah sekadar perang antar manusia yang berebut kursi dan tahta, melainkan metafora besar dari perang di dalam batin manusia (Jiwa). Bukan peperangan bedil dan meriam, tapi pertarungan batin yang jauh lebih melelahkan dan berlangsung dua puluh empat jam penuh tanpa jeda iklan.
Coba perhatikan komposisi pasukannya. Di satu sisi ada Kurawa berjumlah 100 orang, di sisi lain Pandawa hanya 5. Kenapa angkanya begitu timpang? Dalam kacamata psikologi batin, 100 Kurawa itu melambangkan betapa banyak dan beraneka ragamnya bentuk Diri Palsu (False Self) kita. Wujudnya bisa apa saja: keserakahan saat lihat diskon besar-besaran di aplikasi belanja, iri hati melihat kolega promosi jabatan, atau amarah saat di-potong jalan saat macet. Sifat buruk itu beranak pinak layaknya kacang goreng, jumlahnya tak terhitung, makanya dilambangkan dengan angka 100 yang serba banyak dan riuh. Sementara Pandawa yang cuma 5 melambangkan esensi murni (True Self) manusia. Kebenaran itu tak perlu ramai, tak butuh pasukan massal. Lima saja sudah cukup, asalkan tajam dan berpegang teguh pada prinsip.
Raja Kurawa, Duryudana, punya kalimat ikonik yang sangat jujur: "Aku tahu mana yang benar, tapi aku tak bisa melakukannya. Aku tahu mana yang salah, tapi aku tak bisa meninggalkannya." Nah, ini adalah pengakuan paling jujur dari Diri Palsu kita. Akal manusia tahu mana yang benar, tapi ego menolak tunduk. Dalam konteks spiritual yang paling dalam, Baratayuda adalah perang suci (Jihad Akbar dalam terminologi tasawuf/sufisme) di mana manusia dihadapkan pada pilihan: Apakah ia akan membiarkan kereta hidupnya dikendalikan oleh hawa nafsu dan ilusi (Kurawa/False Self), atau menyerahkan kendali roda hidupnya kepada Kesadaran Ilahi (Kresna/True Self) untuk menumpas ego dan menegakkan kebenaran.
Bayangkan diri Anda itu Arjuna yang lagi galau di atas kereta perang. Lima kuda yang menarik kereta itu adalah panca indra Anda—mata yang melihat, telinga yang mendengar, lidah yang kepingin enak—kelakunya selalu liar dan mau diarahkan ke hal-hal duniawi. Arjuna-nya (Sang Jiwa) bingung mau berbuat apa, bahkan ingin menyerah dan lari dari tanggung jawab. Nah, di kursi kusir ada Kresna. Kresna ini bukan figur jauh di awang-awang, melainkan Kesadaran Sejati yang muncul saat kita jujur pada diri sendiri. Kresna nggak bawa senjata, dia cuma pegang tali kekang dan memberi wejangan. Kesadaran murni tak perlu ikut berantem secara fisik, dia cuma pengarah yang menarik tali kekang saat kuda indra kita mulai ngalor-ngidul.
Jadi, saat kita membaca cerita Baratayuda atau nonton pertunjukan wayang semalam suntuk, jangan asyik ngemil klepon terus sambil nyokob (_flexing_) kehebatan tokoh-tokoh fisik. Ketika Duryudana diceritakan gugur di dasar danau, itu sebenarnya lambang bahwa keserakahan dan ego yang membengkak di dalam diri kita sedang ditumpas habis.
Kembali ke pertanyaan awal: di mana Padang Kurusetra itu? Ya, di lahan perbuatan Anda sendiri, di tubuh jasmani dan pikiran batin Anda. Perangnya terjadi Sabtu-Ahad, jam 12 malam sampai subuh, atau bahkan saat Anda lagi antri di pom bensin. Ingat disclaimer tadi, ya: ini hanya tafsir dari dalang mbeling, artinya Baratayuda versi dalang mbeling. Tapi yang jelas, kalau kita mau jujur dan mau merenung, versi dalang mbeling sering kali lebih masuk ke jantung kita daripada sekadar mencari lokasi fisiknya di peta.
(mBogor, 08102026)

