SENI DUDUK DIAM : Ketika Jiwa Meminta Pulang
Malam Jumatku
Aku yang berada dalam ruang sepi
Waktu itu aku hanya duduk.
Bukan karena lelah, bukan karena tidak ada yang dikerjakan. Tapi karena ada sesuatu di dalam dada yang meminta untuk tidak diganggu. Pikiran pun enggan berjalan. Ia seperti ikut duduk di sampingku, diam juga.
Aku pernah membaca, semua kegelisahan manusia ternyata berawal dari satu hal sederhana, ketidakmampuannya untuk duduk diam sendirian di dalam kamarnya. Benar juga. Selama ini aku selalu melarikan diri dari diam dengan kesibukan. Padahal di dalam diam itulah kejujuran tinggal.
Psikologi menyebutnya kemampuan untuk menyendiri dengan damai. Hanya jiwa yang sudah merasa cukup aman dan dicintai yang mampu menikmati sepi tanpa merasa kesepian. Jadi mungkin sepi yang kurasakan ini bukan tanda aku rapuh, justru tanda jiwaku sedang belajar merasa aman hanya bersama Tuhan.
Ada ruang kecil antara apa yang terjadi dan bagaimana kita merespon. Di ruang kecil itulah kebebasan sejati berada. Mungkin inilah yang sedang aku alami. Setelah sekian lama berlari, hidup memberiku jeda. Jeda untuk tidak bereaksi, hanya menerima dan memperhatikan.
Untuk menjadi utuh seseorang memang harus berani sepi. Karena di keramaian kita sibuk memakai wajah orang lain. Hanya di kesendirian wajah asli kita berani muncul, meski awalnya terasa asing dan agak perih.
Sains bahkan membenarkan. Ternyata otak kita justru paling bekerja keras bukan saat kita sibuk, tapi saat kita melamun, saat kita hanya duduk menatap jendela. Di saat itulah ia sedang merapikan luka-luka yang tidak sempat kita tangisi kemarin. Duduk yang terlihat diam, ternyata sedang menyembuhkan.
Dan para sufi sudah lama tahu rahasia ini. Hati itu seperti cermin, kalau terus dipakai melihat dunia ia akan berdebu. Debunya adalah ingin dipuji, takut ditinggalkan, lelah menjadi kuat. Tidak ada cara membersihkannya selain dengan sengaja menarik diri sejenak untuk dipoles kembali dengan dzikir.
Ada kalimat yang selalu membuatku menangis pelan, di dalam hati ada kekacauan yang tidak bisa dirapikan kecuali dengan menghadap kepada Allah, di dalamnya ada kesepian yang tidak bisa diusir kecuali dengan menemukan Nya.
Lalu aku ingat ayat itu, ayat yang membuat sepi terasa dipeluk, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.
Oh. Jadi selama ini aku tidak pernah benar-benar sendiri.
Kesendirian batin yang kurasakan ini bukan hukuman. Ia adalah undangan lembut. Undangan untuk memahami bahwa tenang itu bukan ketika semua masalah selesai, tapi ketika Allah sudah menetap di dada.
Dan untuk memahami kemana selanjutnya. Jawabannya ternyata sudah lama ditulis, jauh sebelum aku bertanya. Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.
Jadi ya sudah. Jika malam Jumat ini yang bisa kulakukan hanya duduk, maka aku akan duduk dengan indah. Duduk sebagai bentuk ibadah.
Karena mungkin selama ini aku terlalu sibuk berdiri untuk dunia, sampai lupa bagaimana caranya duduk untuk akhirat.
Di dalam duduk ini, aku tidak sedang kehilangan arah. Aku sedang diarahkan pulang.
(Herawati, 23 Okt 2026)
Tanggapan di WAG :
[23/10, 08.06] Siddharta Moersjid Antikorupsi: Terima kasih kembali.
Kalau saya memahaminya sebagai mindfulness.
[23/10, 08.10] R Try Nugroho: profound philosophy 🙏🙏🙏
[23/10, 08.16] Herawati Susetyo Antikorupsi: Matur nuwun mas @Siddharta Moersjid Antikorupsi:
Betul sekali, itu mindfulness, hanya saja saya membungkusnya dengan bahasa pulang, karena bagi saya mindfulness yang paling dalam adalah ketika sadar kita sedang bersama Allah. Terimakasih sdh membaca dengan hati.
Matur nuwun bapak @R Try Nugroho,
Jadi malu ini, karena ini filosofi yang sangat sederhana, dari seorang perempuan yang sedang belajar duduk diam ketika jiwanya minta pulang. Mohon doanya p Tri he he . 🙏🙏
