BARATA YUDHA DI TEPI SAMUDERA
Kabut fajar menggantung di garis cakrawala,
laut bernafas pelan seperti raksasa tua
yang tahu hari itu darah akan menyentuh ombaknya.
Dari kejauhan layar-layar hitam muncul,
membawa ambisi yang tak mengenal tanah,
membawa baja yang tak mengenal leluhur.
Pasir basah menjadi altar,
tempat kaki-kaki prajurit
Nusantara menanam sumpah:
lebih baik gugur
daripada menyerahkan bumi kepada ketakutan.
Gunung berdiri sebagai saksi purba,
diam, namun menyimpan doa-doa
yang pernah dipanjatkan oleh generasi sebelum mereka.
Teriakan perang memecah pagi.
Air laut terbelah oleh langkah-langkah besi.
Pedang beradu,
perisai retak,
langit dipenuhi debu dan jerit yang tak sempat menjadi kata.
Di atas kekacauan itu
kuda-kuda bersayap melintas,
seperti roh keberanian yang menolak mati.
Mereka bukan daging dan tulang,
melainkan ingatan bahwa kehormatan
tidak pernah jatuh ke tanah.
Tubuh-tubuh rebah,
mata mereka masih menatap langit,
seolah bertanya:
apakah tanah ini akan tetap bernama rumah?
Ombak terus datang,
membersihkan darah tanpa memilih siapa kawan siapa lawan.
Karena bagi laut,
semua kembali menjadi sunyi.
Namun Barata Yudha tidak berhenti di pasir pantai.
Ia berpindah ke dalam dada manusia—
antara amarah dan kebijaksanaan,
antara dendam dan pengabdian.
Yang bertahan bukan yang paling kuat tangannya,
tetapi yang paling jernih jiwanya.
Yang menang bukan yang paling banyak menaklukkan,
tetapi yang mampu menjaga nurani
di tengah gemuruh kehancuran.
Nusantara berdiri bukan hanya oleh pedang,
melainkan oleh kesadaran bahwa tanah ini
dititipkan, bukan dimiliki.
Dan setiap generasi akan kembali ke tepi samudera itu,
bukan untuk berperang dengan musuh yang sama,
melainkan untuk menaklukkan dirinya sendiri.
PESAN PARIGUNA
Perang boleh usai,
tetapi kewaspadaan tidak.
Kemenangan boleh diraih,
tetapi kerendahan hati harus tinggal.
Karena penjaga sejati Nusantara
bukan yang paling keras suaranya,
melainkan yang paling tenang pusat batinnya.
Brigjen Purn. MJP Hutagaol .


