Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional 2026
Perayaan tahun baru Imlek nasional 2026 yang mengusung tema “Harmoni Imlek Nusantara” digelar di Jakarta, pada Sabtu (7/2), dan dijadikan momentum untuk memperkuat kepedulian sosial serta nilai gotong royong dalam kehidupan berbangsa.
Tahun Baru Imlek 2026, juga dikenal sebagai Tahun Baru Cina, dimulai pada hari Selasa, 17 Februari. Tanggal Tahun Baru Imlek berubah setiap tahun karena didasarkan pada fase bulan . Tahun 2026 ditetapkan sebagai Tahun Kuda dalam Zodiak Cina.
Gong Xi Fa Cai di Tahun Kuda Api 2026. Semoga tahun ini menjadi awal dari kesuksesan yang lebih besar, hati yang lebih damai, dan hubungan yang semakin harmonis.
26 Januari, 26 hari, 26 tahun, sebuah keselarasan numerik bersejarah yang menjadikan Hari Republik 2026 benar-benar istimewa, saat India merayakan ulang tahun berlakunya Konstitusi pada 26 Januari 1950. 26 Januari: Tanggal Hari Republik (ketika Konstitusi mulai berlaku pada tahun 1950).
Ini berarti ketika kita mengatakan "2026 adalah tahun kuda," itu hanya berlaku untuk Tahun Baru Imlek saat ini. Perahu-perahu yang dihiasi lampion berbentuk kuda di danau di Hangzhou.
Dalam zodiak Tiongkok, tahun 2026 adalah Tahun Kuda Api. Tahun Baru Imlek dimulai pada 17 Februari 2026, dan menandai dimulainya Festival Musim Semi selama 15 hari yang diakhiri dengan Festival Lentera. Zodiak Tiongkok berputar melalui siklus 12 tahun yang terdiri dari hewan dan lima elemen: kayu, api, tanah, logam, dan air .
Tahun 2026 adalah tahun Kuda Api. Tahun ini dipandang sebagai tahun optimisme dan peluang, dengan kepercayaan publik dan investor yang kuat mengarah pada pertumbuhan ekonomi, khususnya didorong oleh kemajuan AI . Dalam budaya Tiongkok, Kuda dikenal karena sifatnya yang energik dan dinamis.
Tahun 2026 dikenal sebagai "tahun bingwu", yang umumnya diterjemahkan sebagai Tahun Kuda Api. Dalam sistem Lima Elemen tradisional Tiongkok, bing mewakili matahari, bentuk energi yang paling bersifat yang dalam teori yin-yang, dan dikaitkan dengan warna merah. Akibatnya, 2026 juga merupakan Tahun Kuda Merah Tua.
Tema Imlek 2026
Dilansir dari unggahan akun Instagram resmi @ekraf.ri, tema Imlek 2026 adalah Harmoni Imlek Nusantara. Tema ini merepresentasikan harmoni dalam keberagaman Indonesia.
Tema ini menjadi identitas perayaan Tahun Baru Imlek yang inklusif, merangkul keberagaman, dan mencerminkan nilai kebangsaan Indonesia.
Logo Imlek 2026
- Masih dari unggahan akun Instagram yang sama, logo Imlek Nasional 2026 dirancang sebagai bahasa visual yang merepresentasikan harmoni dalam keberagaman.
- Setiap elemen saling terhubung satu sama lain dan membentuk satu kesatuan makna yang melambangkan identitas, budaya, dan keberagaman bangsa Indonesia.
- Karena tahun 2026 merupakan shio kuda, kuda dipilih sebagai simbol utama yang melambangkan energi besar dan keberanian. Berikut makna filosofis dari logo Imlek Nasional 2026, antara lain:
- Merah putih pada rambut kuda melambangkan identitas bangsa yang menjadi mahkota dalam setiap langkah dan lompatan ke depan.
- Motif batik kanji melambangkan kebahagiaan, kesinambungan hidup, dan spiritualitas.
- Motif batik pucuk rebung menggambarkan kebaikan, pertumbuhan, dan harapan yang akan selalu menjulang. Motif ini juga merepresentasikan sebuah dasar yang kuat untuk selalu berkembang.
- Mata api melambangkan semangat, keberanian, dan fokus batin sebagai penggerak perubahan dan menerangi arah masa depan.
- Ring di mulut menggambarkan kendali atas kata-kata, kebijaksanaan saat berbicara, serta komitmen untuk menyatukan.
- Bunga batik di kaki merepresentasikan langkah yang terus maju ke depan dengan berpijak pada nilai budaya dan kemanusiaan.
- Ring di kaki melambangkan energi besar serta keberanian yang bergerak dengan kesadaran, etika, dan tanggung jawab.
Keseluruhan logo ini merepresentasikan Imlek sebagai perayaan budaya nasional yang inklusif, hangat, dan harmonis, serta menjadi ruang temu bersama yang menegaskan persatuan Indonesia dalam keberagaman.
Sejarah Imlek
Sejarah Imlek berakar dari tradisi agraris Tiongkok kuno (Dinasti Shang, ~1400 SM) sebagai perayaan musim semi dan penghormatan leluhur, yang lekat dengan legenda monster Nian takut warna merah dan suara keras. Di Indonesia, perayaan ini sempat dibatasi selama era Orde Baru (1967-1998) sebelum kembali bebas dan diakui sebagai libur nasional sejak era Presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati (2000-2003).
Berikut adalah poin-poin penting sejarah Imlek :
- Asal-usul Legenda Nian: Perayaan Imlek identik dengan warna merah dan kembang api/petasan untuk mengusir monster Nian yang konon muncul setiap akhir tahun.
- Tradisi Pertanian: Awalnya merupakan festival musim semi (农历新年) untuk merayakan berakhirnya musim dingin dan dimulainya musim tanam, sebagai bentuk syukur atas hasil panen.
Sejarah di Indonesia :
- Awal Kemerdekaan: Presiden Soekarno menetapkan Imlek sebagai hari libur keagamaan melalui PP No. 2/1946.
- Orde Baru: Inpres No. 14 Tahun 1967 membatasi perayaan Imlek secara terbuka.
- Era Reformasi: Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Inpres tersebut pada tahun 2000, diikuti penetapan libur nasional oleh Presiden Megawati mulai 2003.
- Makna Budaya: Tahun Baru Imlek adalah momen berkumpul keluarga (reuni), penghormatan leluhur, dan simbol harapan, pembaruan, serta keberuntungan.
Perayaan Imlek dirayakan berdasarkan kalender lunar, yang membuat tanggalnya berbeda setiap tahun dalam kalender Masehi.
Sejarah Tahun Baru Imlek
Tahun Baru Imlek, juga dikenal sebagai Tahun Baru Lunar atau Festival Musim Semi, adalah festival terpenting di Tiongkok. Ini juga merupakan perayaan terpenting bagi keluarga dan mencakup libur umum resmi selama seminggu.
Sejarah festival Tahun Baru Imlek dapat ditelusuri kembali hingga sekitar 3.500 tahun yang lalu. Tahun Baru Imlek telah berevolusi selama periode waktu yang panjang dan adat istiadatnya telah mengalami proses perkembangan yang panjang.
Kapan Tahun Baru Imlek ?
Tanggal Tahun Baru Imlek ditentukan oleh kalender tradisional Tiongkok, kalender lunisolar yang menggabungkan siklus matahari, bulan, dan siklus lainnya. Hari raya ini jatuh pada bulan baru kedua setelah titik balik musim dingin pada tanggal 21 Desember. Setiap tahun Tahun Baru di Tiongkok jatuh pada tanggal yang berbeda dari kalender Gregorian. Tanggalnya biasanya berkisar antara 21 Januari dan 20 Februari.
Mengapa disebut Festival Musim Semi ?
Meskipun sedang musim dingin, Tahun Baru Imlek lebih dikenal sebagai Festival Musim Semi di Tiongkok. Karena dimulai dari Awal Musim Semi (yang pertama dari dua puluh empat istilah yang selaras dengan perubahan Alam), perayaan ini menandai berakhirnya musim dingin dan dimulainya musim semi.
Festival Musim Semi menandai tahun baru dalam kalender lunar dan melambangkan keinginan akan kehidupan baru.
Legenda Asal Usul Tahun Baru Imlek
Tahun Baru Imlek sarat dengan cerita dan mitos. Salah satu legenda yang paling populer adalah tentang makhluk mitos Nian (Tahun). Ia memakan ternak, hasil panen, dan bahkan manusia pada malam tahun baru.
Untuk mencegah Nian menyerang orang dan menyebabkan kerusakan, orang-orang meletakkan makanan di depan pintu rumah mereka untuk Nian.
Konon, seorang lelaki tua bijak menyadari bahwa Nian takut akan suara keras (petasan) dan warna merah. Jadi, orang-orang memasang lampion merah dan gulungan merah di jendela dan pintu mereka untuk mencegah Nian masuk. Bambu yang berderak (kemudian digantikan oleh petasan) dinyalakan untuk menakut-nakuti Nian.
Asal Usul Tahun Baru Imlek pada Dinasti Shang
Tahun Baru Imlek memiliki sejarah sekitar 3.500 tahun. Tanggal pasti dimulainya tidak tercatat. Beberapa orang percaya bahwa Tahun Baru Imlek berasal dari Dinasti Shang (1600–1046 SM), ketika orang-orang mengadakan upacara pengorbanan untuk menghormati dewa dan leluhur di awal atau akhir setiap tahun.
Kalender Cina “Tahun” Ditetapkan pada Masa Dinasti Zhou
Istilah Nian pertama kali muncul pada masa Dinasti Zhou (1046–256 SM). Saat itu, sudah menjadi kebiasaan untuk mempersembahkan kurban kepada leluhur atau dewa, dan menyembah alam untuk memberkati panen di pergantian tahun.
Tanggal Tahun Baru Imlek Ditetapkan pada Masa Dinasti Han
Tanggal perayaan festival ini, yaitu hari pertama bulan pertama dalam kalender lunar Tiongkok, ditetapkan pada masa Dinasti Han (202 SM – 220 M). Beberapa kegiatan perayaan menjadi populer, seperti membakar bambu untuk menghasilkan suara retakan yang keras.
Pada masa Dinasti Wei dan Jin
Pada masa Dinasti Wei dan Jin (220–420 M), selain menyembah dewa dan leluhur, orang-orang mulai menghibur diri. Kebiasaan keluarga berkumpul untuk membersihkan rumah, makan malam bersama, dan begadang di malam Tahun Baru berasal dari kalangan rakyat biasa.
Lebih Banyak Aktivitas Tahun Baru Imlek dari Dinasti Tang hingga Qing
- Kemakmuran ekonomi dan budaya selama dinasti Tang, Song, dan Qing mempercepat perkembangan Festival Musim Semi. Adat istiadat selama festival tersebut menjadi mirip dengan adat istiadat di zaman modern.
- Menyalakan petasan, mengunjungi kerabat dan teman, serta makan pangsit menjadi bagian penting dari perayaan tersebut.
- Muncul pula kegiatan-kegiatan yang lebih menghibur, seperti menonton tarian naga dan singa selama Pesta Kuil dan menikmati pertunjukan lampion.
- Fungsi Festival Musim Semi berubah dari fungsi keagamaan menjadi fungsi hiburan dan sosial, lebih mirip dengan festival saat ini.
Di Zaman Modern
Pada tahun 1912, pemerintah memutuskan untuk menghapus Tahun Baru Imlek dan kalender lunar. Sebagai gantinya, mereka mengadopsi kalender Gregorian dan menjadikan tanggal 1 Januari sebagai awal resmi Tahun Baru.
Setelah tahun 1949, Tahun Baru Imlek diubah namanya menjadi Festival Musim Semi. Hari raya ini ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Saat ini, banyak kegiatan tradisional yang menghilang, tetapi tren baru telah muncul. Acara Gala Festival Musim Semi CCTV (Televisi Pusat China), belanja online, amplop merah WeChat, dan perjalanan ke luar negeri membuat Tahun Baru Imlek lebih menarik dan meriah.
Sejarah Hari Raya Imlek, Perjalanan Perayaan Antar Dinasti hingga Kini
“Gōngxǐ fācái !”
Elo mungkin nggak asing sama ucapan di atas. Yap, ucapan ini sering kita dengar saat Hari Raya Imlek. Pakaian yang serba merah, orang tua ngasih angpau ke anak muda, sampai barongsai main di pelataran, diiringi dengan musik dan para penari.
Setiap ketemu teman atau saudara, orang-orang yang merayakan Hari Raya Imlek saling ngucapin “Gōngxǐ fācái”, yang berarti “Semoga Tahun Baru Imlek semua bahagia dan sejahtera”.
Gif Gōngxǐ fācái. (Dok. Pants Bear, giphy.com)
Di balik kemeriahan itu, elo pernah kepikiran nggak, kenapa perayaan Imlek identik dengan warna merah, dari pakaian, angpau, bahkan barongsainya ?
Gue akan memulai menjawab pertanyaan itu dari sejarah Hari Raya Imlek.
Sejarah Hari Raya Imlek
Kita mulai dulu dari kata Imlek.
Apa arti ‘Imlek’?
Jadi, ‘imlek’ berasal dari bahasa Hokkien, salah satu bahasa yang banyak digunakan di Tiongkok. Arti dari ‘imlek’ adalah ‘kalender bulan’. Sehingga, Tahun Baru Imlek adalah tahun baru yang dihitung berdasarkan kalender bulan.
Penghitungan kalender bulan bermula dari dinasti tertua di China, Dinasti Xia (2070-1600 Sebelum Masehi). Waktu itu, belum ada alat yang bisa digunakan buat mengamati bulan. Sedangkan, pola produksi pertanian di era itu bergantung pada musim. Petani butuh strategi buat menentukan waktu yang tepat buat membajak, menabur benih, menanam, sampai panen.
Lukisan Kaisar Yu The Great, pendiri Dinasti Xia. (Dok. Ma Lin/Quora, Wikimedia Commons)
Menurut perhitungan kalender bulan, para petani butuh 29,5 hari untuk menunggu pergantian bulan baru, dan 12 putaran bulan membutuhkan 354 hari. Setiap pergantian tahun, akan ada pergantian menuju musim semi, dan itu merupakan waktu bagi petani buat bertanam.
Dari situlah, kalender bulan bermula. Namun, pada masa Dinasti Xia, masyarakat belum fokus pada ngerayain tahun baru, tetapi lebih mikir kepada sistem bertani dengan mengikuti musim.
Dinasti Shang (1600-1046 Sebelum Masehi)
Pada era Dinasti Shang, masyarakat belum benar-benar memperingati Hari Raya Imlek. Namun, para petani punya tradisi setiap pergantian tahun kalender Bulan. Para petani mempersembahkan korban kepada dewa dan leluhur di akhir musim dingin dan untuk menyambut datangnya musim semi. Mereka berdoa agar panen melimpah pada tahun mendatang.
Dinasti Zhou (1046-256 Sebelum Masehi)
Selama era Dinasti Zhou, tradisi mempersembahkan korban buat leluhur atau dewa masih berlangsung. Masyarakat juga mulai bercocok tanam dan menyembah alam agar panen mereka diberkahi pada pergantian tahun. Pada era inilah, istilah Nian pertama kali muncul.
Jurnal berjudul The Origin of Chinese New Year (2016) menerangkan mitologi Nian. Nian diyakini sebagai monster bertubuh lembu dan berkepala singa. Setiap pergantian tahun, Nian bakal datang ke desa-desa dan memangsa makhluk hidup, kayak hewan ternak dan bahkan manusia, terutama anak muda.
However, semua warga desa sudah tahu kelemahan Nian: suara berisik dan warna merah.
Masih menurut mitologi yang dipercaya di Tiongkok, sebelum malam pergantian tahun, ada sosok lelaki tua yang diyakini sebagai dewa, memberanikan diri buat mengakhiri teror Nian. Dia minta seluruh warga desa buat bersembunyi di dalam rumah.
Kemudian, dia memakai jubah merah, nempelin kertas-kertas merah di kusen pintu dan jendela rumah-rumah. Dia juga membakar tumpukan batang bambu, yang menghasilkan suara yang keras.
Ilustrasi Nian. (Dok. travelchinaguide.com)
Jadinya, ketika Nian datang ke desa, double attack deh. Nian kabur karena warna merah dan suara keras yang ditakuti. Sejak saat itu, Nian nggak datang lagi. Perginya Nian kemudian dikenal sebagai “guo nian” dalam bahasa Tiongkok, yang artinya “tahun baru”.
Dinasti Han (202 Sebelum Masehi-220 Masehi)
Hari pertama kalender bulan baru diresmikan sebagai Hari Raya Imlek Imlek pada masa Dinasti Han, di bawah pemerintahan Kaisar Wu. Karena Hari Raya Imlek Imlek baru pertama kali diadakan, masyarakat langsung antusias banget buat merayakannya. Ada pertemuan seremonial khusus untuk ngasih persembahan buat para dewa dan leluhur, nerusin tradisi dari Dinasti Zhou.
Selain itu, ada tradisi baru sebagai tindak lanjut dari mitologi Nian. Hari Raya Imlek jadi perayaan atas kepergiannya Nian. Masyarakat Dinasti Han membakar bambu, yang rongganya bisa bikin ledakan yang keras. Ledakan keras itu menjadi awal mula petasan di Tiongkok.
Petasan dari bambu ketika meledak. (Dok. ABF, Creative Commons)
Dinasti Jin (266-420 Masehi)
Ada inovasi tradisi Hari Raya Imlek pada era ini. Masyarakat nggak hanya ngasih persembahan atau bikin petasan. Masyarakat mulai mempraktikkan “shou sui”, yaitu kumpul sama teman atau keluarga saat malam pergantian tahun. Mereka makan malam dan ngobrol semalam suntuk pada malam tahun baru.
Makan bersama keluarga menjelang Tahun Baru Imlek. (Dok. Angela Roma/Pexels)
Selain itu, masyarakat juga melakukan ritual membersihkan rumah, ngusir roh jahat yang bersembunyi di sudut-sudut rumah yang gelap dan jarang dibersihkan. Dengan membersihkan rumah, masyarakat Tiongkok siap buat menyambut keberuntungan pada tahun mendatang.
Dinasti Tang (618-907 Masehi)
Dinasti Tang mulai mempopulerkan teka-teki sebagai tradisi baru Hari Raya Imlek. Teka-teki ini disebut sebagai “caidengmi”. Masyarakat bikin teka-teki yang ditulis di lampion buat dipecahkan. Tradisi Festival Lampion kemudian muncul sejak era ini.
Lampion-lampion merah berjajar, sebagai bagian dari Festival Lampion Tiongkok. (Dok. Nikita Belokhonov/Pexels)
Bubuk mesiu yang dipakai buat bahan kembang api juga ditemukan pada era ini, oleh biksu Tiongkok bernama Tao. Elo bisa kepo tentang awal mula bubuk mesiu di artikel ini, ya.
Dinasti Song (960-1279 Masehi)
Pada era Dinasti Song, bubuk mesiu pertama kali diberikan kepada Kaisar Taizu, pada tahun 969 Masehi. Bubuk mesiu kemudian diproduksi secara luas dan digunakan buat memeriahkan Tahun Baru Imlek. Bubuk mesiu diisikan ke rongga bambu yang dibakar, yang kemudian ngeluarin kembang api.
Pada paruh kedua periode Dinasti Song, tradisi perayaan Tahun Baru Imlek mengalami pergeseran. Pada hari ke-7 perayaan Imlek, para nelayan di sepanjang pesisir Guangzhou memulai tradisi makan Yusheng (salad ikan mentah) bareng keluarga dan teman.
Selain itu, kegiatan hiburan pun muncul, kayak tarian naga di kuil. Soalnya, menurut kepercayaan di Tiongkok, naga merupakan simbol keberuntungan, kekuatan dan kemuliaan.
Pertunjukan naga dengan para penarinya saat perayaan Tahun Baru Imlek. (Dok. Ralff Nestor Nacor, Creative Commons Attribution)
Masyarakat Dinasti Song juga menyemarakkan Tahun Baru Imlek dengan melanjutkan tradisi Festival Lampion. So, sejak era Dinasti Song, perayaan Tahun Baru Imlek berubah dari tradisi religius ke tradisi hiburan dan sosial.
Perjalanan Perubahan Perayaan Imlek
Di Tiongkok, Hari Raya Imlek sekarang dikenal sebagai Festival Musim Semi. Ada sejarah pergantian nama dari Hari Raya Imlek menjadi Festival Musim Semi.
Jadi, misionaris Gereja Katolik Roma membawa kalender Gregorian (kalender Masehi yang sekarang kita gunakan) pada tahun 1582. Namun, kalender ini baru digunakan oleh masyarakat umum pada tahun 1912. Meskipun begitu, masih ada masyarakat Tiongkok yang masih menggunakan kalender Bulan.
Mulai tahun 1949, di bawah pemerintahan pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Mao Zedong, pemerintah menghapus Hari Raya Imlek dan kalender Bulan. Mao ingin, masyarakat mulai mengikuti kalender Gregorian dalam berurusan dengan orang Barat. Sejak saat itu, tahun baru di Tiongkok resmi jatuh pada tanggal 1 Januari.
Selain itu, Hari Raya Imlek juga diganti menjadi Festival Musim Semi dan menjadikannya sebagai hari libur nasional. Tujuannya, biar masyarakat menganggapnya sebagai hari libur keluarga, bukan penanda tahun baru.
Suasana Festival Musim Semi di Ditan Park, Beijing. (Dok. Paul Louis, Creative Commons)
Namun, pada akhir 1980-an, para intelektual Tiongkok dalam Partai Komunis ngerasa kalau modernisasi bikin tradisi Tiongkok meluntur. Mereka pun nyoba kembali membangkitkan euforia Festival Musim Semi dan menjadikannya sebagai bisnis besar.
Mulai tahun 1982, China Central Television (lembaga penyiaran milik negara) bikin acara Gala Tahun Baru tahunan yang disiarkan ke seluruh negeri. Program ini jadi acara favorit selama tiga dekade terakhir. Gala Tahun Baru nampilin berbagai pertunjukan drama, tarian, musik, dan komedi selama lima jam pada malam pergantian tahun. 800 juta pemirsa jadi penonton acara ini.
Pada akhir abad ke-20, para pimpinan Tiongkok menerima tradisi Tionghoa lagi. Perayaan Imlek kembali dirayakan dan jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya, sebagai dampak dari penghitungan kalender Bulan yang kabisat. Biasanya, Festival Musim Semi dirayakan antara 21 Januari dan 20 Februari.
Suasana ‘migrasi’ pada Festival Musim Semi di Beijing, Tiongkok. (Dok. www.thebeijinger.com)
Mulai tahun 1996, Tiongkok memperpanjang hari libur Festival Musim Semi menjadi seminggu. Selama seminggu, pemerintah mempersilakan rakyatnya buat pulang kampung dan ngerayain Tahun Baru Imlek. Tradisi pulang kampung ini dijuluki sebagai “migrasi manusia tahunan terbesar di dunia”. Soalnya, semua transportasi umum dan jalanan auto dipenuhi oleh orang-orang yang mau pulang kampung.
Demikian tentang sejarah Hari Raya Imlek. Gue bakal lanjut nyeritain tentang tradisi perayaan Imlek pada artikel selanjutnya.
Sumber Referensi :
- [bg_collapse view=”button-red” color=”#4a4949″ expand_text=”Show More” collapse_text=”Show Less” ]
- Asif, Muhammad & Ali, Majid. (2019). “Chinese Traditions Folk Art, Festivals, and Symbolism.” International Journal of Research, 6(1), 1-20.
- A Brief History of Lunar New Year – Culture Trip (2019)
- Lunar New Year – National Geographic (2016)
- The History of Chinese New Year – ThoughtCo. (2020)
- The Lunar New Year: Rituals and Legends – Asia for Educators, Columbia University
- The Origin and History of Chinese New Year: Who Start and Why – China Highlights (2022)
- What’s the Origin of Chinese New Year? – Culture Trip (2017)
- What is Chinese New Year? Unraveling the History of the Enchanting Festival – My Modern Met (2021)
- Yuan, Haiwang. (2016). “The Origin of Chinese New Year”. Media Tourism Express, 1(1).[/bg_collapse]
Imajiner Nuswantoro














