19000 Ekor per Hari: Potong Sapi atau Potong Logika ?
*19000 Ekor per Hari: Potong Sapi atau Potong Logika?*
--Sudarsono Soedomo--
Di sebuah pagi yang penuh niat baik, kita mendengar sebuah angka yang gagah: 19.000 ekor sapi dipotong setiap hari untuk mendukung Makan Bergizi Gratis. Angka ini terdengar seperti kombinasi antara tekad kebijakan publik dan semangat peternakan nasional yang sedang naik pitam. Namun, seperti biasa, angka yang terlalu gagah sering kali mengundang satu pertanyaan sederhana: ini hitungan, atau harapan?
Mari kita bayangkan sejenak. Sembilan belas ribu ekor sapi per hari. Artinya, sejak matahari terbit hingga terbenam, ribuan sapi harus rela menjadi bagian dari program gizi. Bahkan mungkin sebelum kita selesai ngopi pagi, ratusan sapi sudah “menyelesaikan tugas konstitusionalnya”.
Apakah mungkin? Tentu saja mungkin. Dalam dunia perencanaan, hampir semua hal mungkin—selama asumsi tidak keberatan diajak bekerja lembur.
Tetapi di sinilah keindahan berpikir perlu dijaga. Untuk sampai pada angka tersebut, kita diam-diam memelihara beberapa asumsi yang cukup heroik. Misalnya: bahwa daging sapi adalah tulang punggung utama menu harian. Bahwa distribusi berjalan tanpa cela. Bahwa rantai pasok tidak pernah batuk. Dan bahwa sapi-sapi kita hidup dalam sebuah sistem yang begitu efisien, sehingga antreannya lebih rapi daripada lalu lintas hari libur di daerah Puncak Bogor.
Lalu, tanpa banyak suara, datang satu tamu yang jarang diundang dalam perdebatan publik: aritmetika sederhana. Jika 19.000 ekor dipotong setiap hari, maka dalam setahun jumlahnya mendekati 7 juta ekor. Sementara populasi sapi nasional berkisar belasan juta. Dengan sedikit keberanian berhitung—dan sedikit kejujuran—kita sampai pada sebuah kesimpulan yang agak mengganggu: dalam hitungan kurang dari tiga tahun, stok sapi kita dapat ikut “berpartisipasi penuh” hingga mendekati habis.
Tentu saja, kenyataan tidak sesederhana itu. Sapi juga berkembang biak. Ada kelahiran, ada pertumbuhan, ada harapan baru di padang rumput. Namun di sinilah masalah kecil muncul: sapi bukanlah mesin fotokopi. Ia butuh waktu, kesabaran, dan kondisi yang tidak selalu ideal. Seekor induk pun tidak serta-merta melahirkan solusi setiap tahun dengan presisi anggaran.
Suka tidak suka, kita kembali ke pertanyaan awal, dengan nada yang sedikit lebih pelan tetapi mungkin lebih jujur: asumsi apa saja yang harus kita percaya agar angka 19.000 itu terasa wajar? Apakah kita membayangkan populasi sapi yang tumbuh secepat ekspektasi? Ataukah kita diam-diam menyelipkan peran impor dalam skenario ini, sambil berharap tidak terlalu banyak yang bertanya?
Di titik ini, kita tidak perlu tergesa-gesa menolak. Juga tidak perlu buru-buru mengamini. Cukup dengan satu sikap sederhana: menjaga agar angka tetap menjadi alat berpikir, bukan sekadar alat mengesankan. Karena kalau angka sudah terlalu jauh berlari dari realitas, yang lelah bukan hanya sapinya, tetapi juga nalar kita.
Ketika nalar mulai terengah-engah, barangkali kita boleh tersenyum sedikit—sambil mengingatkan dengan halus: ngapusi presiden yo ojo nemen-nemen-lah.
(Medan 27032026)
Prof Sudarsono Soedomo Guru Besar IPB Bogor

