30 Nama Gunung Yang Diubah Oleh Penjajah Belanda
Berikut nama-nama gunung yg dirubah tersebut :
1. Gunung Krakatau
Nama Asli: Gunung Batuwara (Batuworo dalam bahasa Sunda).
2. Gunung Kendeng (Jawa Tengah)
Nama Asli: Gunung Kondo.
3. Gunung Salak
Nama Asli: Gunung Sapto Argo.
4. Gunung Cikurai
Nama Asli: Gunung Prawitra.
5. Gunung Ciremai
Nama Asli: Gunung Indrokilo
6. Gunung Papandayan
Nama Asli: Gunung Dahyang.
7. Gunung Galunggung
Nama Asli: Gunung Kendiogo.
8. Gunung Perahu (Pemalang, Brebes, Tegal)
Nama Asli: Gunung Buto Terong.
9. Gunung Slamet
Nama Asli: Gunung Jamur Dipo.
10. Gunung Sumbing
Nama Asli: Gunung Sungging.
11. Gunung Merbabu
Nama Asli: Gunung Limoan.
12. Gunung Sindoro
Nama Asli: Gunung Sadewa.
13. Gunung Ungaran
Nama Asli: Gunung Sakia.
14. Gunung Merapi
Nama Asli: Gunung Condrog Geni.
15. Gunung Muria
Nama Asli: Gunung Retawu (Rahtawu).
16. Gunung Dieng
Nama Asli: Gunung Adihang.
17. Gunung Lawu
Nama Asli: Gunung Mahendro.
18. Gunung Wilis
Nama Asli: Gunung Pawinian.
19. Gunung Welirang
Nama Asli: Gunung Goro.
20. Gunung Penanggungan
Nama Asli: Gunung Pawitra.
21. Gunung Arjuno
Nama Asli: Gunung Udorati.
22. Gunung Semeru
Nama Asli: Gunung Seloko.
23. Gunung Kelut
Nama Asli: Gunung Kamput.
24. Gunung Agung (Bali)
Nama Asli: Gunung Toh Langkir.
25. Gunung Batur (Bali)
Nama Asli: Gunung Tampur Hang
26. Gunung Rinjani (NTB)
Nama Asli: Gunung Samalas.
27. Gunung Kerinci
Nama Asli: Gunung Gadang.
28. Gunung Toba
Nama Asli: Gunung Kelasa.
29. Gunung Argopuro
Nama Asli: Gunung Hiyang.
30. Gunung Raung
Nama Asli: Gunung Bayu.
Itulah 30 nama gunung yang dirubah dari nama aslinya oleh penjajah Belanda
Perubahan nama-nama gunung ini mencerminkan upaya penjajah untuk menghapus jejak sejarah dan peradaban Nusantara.
(Sumber Referensi Prof. Armahedi Mahzar)
Menelisik Alasan Belanda Mengganti Nama Gunung di Jawa
Selama masa kolonial di Nusantara, Belanda meninggalkan banyak catatan sejarah unik seperti penggantian sejumlah nama tempat termasuk nama gunung.
Sejumlah sumber berpendapat hal itu bertujuan untuk menghapus ingatan atau memori kolektif anak bangsa, memutus hubungan dengan leluhur, dan melemahkan mental bangsa.
Namun, sumber lain menyebutkan alasan utama Belanda mengganti nama gunung di Indonesia untuk menegaskan kekuasaan, menghormati penjelajah/tokoh mereka (Belanda).
Selain itu juga mempermudah dokumentasi administratif dan pemetaan wilayah. Umumnya, penggantian nama merupakan bentuk klaim budaya dan politis atas wilayah jajahan.
Pada masa penjajahan, beberapa nama gunung di Jawa juga tak luput dari penggantian nama oleh Belanda.
Mengutip paparan KRT Nur Ikhyak Hadinegoro, puluhan gunung di Jawa yang berubah nama bukan sekadar administrasi. Melainkan sebuah proses yang membuat pelan-pelan kehilangan jejak leluhur.
KRT Nur Ikhyak Hadinegoro adalah cendekiawan dan peneliti sejarah Nusantara yang aktif menyampaikan kajian melalui ceramah, diskusi publik, dan penelusuran naskah serta tradisi lisan.
Beberapa gunung di Jawa yang diubah nama misalnya Gunung Jamur Duwipo menjadi Slamet, Wukir Mahendro menjadi Lawu, Pawinian menjadi Wilis, Pawitro menjadi Penanggungan, Kamput menjadi Kelud, Saloko menjadi Semeru, Condro Geni menjadi Merapi, termasuk Batuworo menjadi Krakatau.
Dalam narasi populer, Gunung Semeru dikaitkan dengan kisah Mahameru dari India. Gunung Jawa Timur ini dikisahkan dibawa oleh Dewa Siwa untuk menstabilkan Pulau Jawa, dengan bantuan Dewa Brahma yang menyamar sebagai naga.
Menurut KRT Nur Ikhyak Hadinegoro, kisah Gunung Semeru itu hanya bersifat mitologis dan tidak dapat diilmiahkan, sehingga perlu dikritisi ulang.
Ditegaskan bahwa Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa bukan Mahameru, dan nama Semeru dianggap senagai hasil pengalihan narasi.
Menurut kajian yang disampaikan, Gunung Semeru yang asli bukan gunung yang sekarang dikenal sebagai Semeru, melainkan rangkaian gunung meliputi Gunung Raung, Gunung Iyang/Ijen, Gunung Argopuro, dan Gunung Lamongan.
Rangkaian gunung inilah yang disebut sebagai Semeru asli, sementara gunung yang sekarang dinamai Semeru dianggap hasil penggeseran kiblat sejarah oleh penjajah.
Sementara, nama Raung sendiri disebut muncul karena aktivitas erupsi yang menghasilkan suara meraung-raung, bukan nama asli leluhur.
Imajiner Nuswantoro

