Tiyo Eksternal dan Tiyo Internal : Kenapa Kita Lebih Sibuk Marah daripada Sadar
Prof. Sudarsono Soedomo
*"Tiyo Eksternal dan Tiyo Internal: Kenapa Kita Lebih Sibuk Marah daripada Sadar"*
--Sudarsono Soedomo--
Pernahkah Anda melihat orang ramai-ramai membahas cara seseorang berbicara, sampai lupa membahas apa yang sebenarnya ia katakan? Selamat, Anda baru saja menyaksikan pertunjukan "Distraksi Massal Edisi Spesial", dengan Tiyo sebagai bintang tamunya.
Bagi yang belum tahu, Tiyo ini sebutan untuk seseorang yang mengkritik MBG (Makanan Bergizi Gratis) dengan menyebutnya "maling berkedok gizi". Kontroversial? Tentu. Kasar? Mungkin. Tapi yang terjadi kemudian adalah: orang-orang lebih sibuk memperdebatkan cara Tiyo bicara daripada isi kritiknya. Alasannya? "Tidak beradab!" "Tidak sopan!" "Bahasanya kasar!"
Lucunya, sambil berteriak "Tiyo tidak beradab!", mereka justru melakukan hal yang paling tidak beradab secara intelektual: mengabaikan kebenaran karena tidak suka dengan kemasannya.
Ini seperti seseorang memberi Anda hadiah berupa berlian, tapi dibungkus dengan koran bekas yang jelek. Alih-alih mengambil berliannya, Anda malah berteriak, "Dasar tidak sopan! Membungkus pakai koran bekas!" Lalu berliannya Anda buang ke selokan.
*Tapi tunggu, plot twist-nya belum selesai.* Yang lebih lucu lagi: sementara kita sibuk marah-marah sama Tiyo di luar, kita tidak sadar bahwa di dalam kepala kita sendiri, ada puluhan Tiyo yang lebih berisik lagi, ngoceh 24 jam non-stop. Mereka ini "Tiyo internal"—alias ego dan pikiran yang tidak pernah diam.
Pagi-pagi, Tiyo internal #1 sudah bangun: "Kamu itu gagal, lihat tuh orang lain sudah sukses."
Siang hari, Tiyo internal #2 muncul: "Jangan percaya dia, pasti ada maksud tersembunyinya."
Malam hari, Tiyo internal #3 datang: "Kenapa tadi kamu bilang begitu? Bodoh banget sih!"
Dan kita? Kita dengarkan semua Tiyo internal itu dengan penuh perhatian. Kita percayai. Kita ikuti. Kita jadikan mereka direktur utama di kepala kita. Tapi ketika ada satu Tiyo eksternal yang menyampaikan kebenaran yang tidak nyaman, kita langsung tutup telinga dan teriak, "Bising! Tidak sopan!"
*Ironi level dewa.* Bayangkan begini: True Self Anda—suara hati yang jernih, intuisi yang dalam, kebijaksanaan yang tenang—itu seperti seseorang yang berbisik pelan di ruangan yang penuh dengan 50 orang berteriak sekaligus.
True Self: "Sebentar, mungkin ada benarnya juga kritik itu..."
Tiyo Internal #1: "DIAM KAMU! YANG PENTING DIA NGOMONGNYA KASAR!"
Tiyo Internal #2: "IYA! AKU LEBIH SUKA BOHONG YANG SOPAN DARIPADA JUJUR YANG KASAR!"
Tiyo Internal #3: "FOKUS KE KEMASANNYA, JANGAN KE ISINYA! LEBIH MUDAH ITU!"
Dan True Self pun menyerah, duduk di pojokan, minum kopi, sambil geleng-geleng kepala.
*Inilah kenapa kita kehilangan pesan sebenarnya.* Bukan karena pesannya tidak ada. Tapi karena kita terlalu sibuk dengan noise. Di luar: kita sibuk memperdebatkan gaya bicara, penampilan, latar belakang, atau cara penyampaian seseorang—sampai lupa memeriksa apakah ada kebenaran dalam ucapannya. Di dalam: kita sibuk mendengarkan pikiran-pikiran reaktif, ketakutan, ego, dan justifikasi—sampai lupa mendengarkan suara hati yang sebenarnya tahu jawabannya.
*Lucu?* Kita bisa sangat sensitif terhadap "ketidakberadaban" orang lain, tapi sangat toleran terhadap "ketidakberadaban" pikiran kita sendiri yang terus-menerus menghakimi, membandingkan, dan menolak kebenaran. Kita bisa marah besar ketika seseorang menyampaikan kritik dengan nada tinggi, tapi kita diam-diam membiarkan Tiyo internal kita membunuh mimpi kita dengan bisikan-bisikan halus setiap hari.
*Jadi, lain kali Anda merasa terganggu dengan cara seseorang menyampaikan sesuatu, coba tanya diri sendiri:* "Apa aku sedang menolak pesannya karena tidak suka dengan kemasannya? Atau ada Tiyo internal di kepalaku yang sedang takut menghadapi kebenaran ini?" "Apakah aku lebih mementingkan kesopanan permukaan daripada substansi yang mendalam?" "Apakah aku sedang melakukan persis hal yang sama yang aku kritik: lebih peduli pada noise daripada sinyal?" Siapa tahu, di balik Tiyo yang berisik itu, ada pesan yang justru perlu Anda dengar.
Dan siapa tahu, di balik kepala Anda yang merasa paling benar, ada puluhan Tiyo internal yang justru menghalangi Anda mendengar kebenaran. Jika ada, ajak ngopi-ngopi dulu biar tidak terlalu berisik 😁
(mBogor, 14062026)

