China Sebut El Nino Bisa Memperparah Krisis Energi Global & Dampaknya di Indonesia
China Sebut El Nino Bisa Memperparah Krisis Energi Global & Dampaknya di Indonesia
China memang telah memberikan peringatan mengenai potensi fenomena El Nino untuk memperparah krisis energi global. Berikut adalah analisis mengenai mekanisme hal tersebut dapat terjadi menurut pandangan China, serta dampaknya bagi Indonesia:
Bagaimana El Nino Memperparah Krisis Energi Global menurut China ?
China, sebagai salah satu konsumen dan produsen energi terbesar di dunia, sangat mewaspadai dampak El Nino terhadap keamanan energinya. Kekhawatiran utama China didasarkan pada mekanisme berikut:
- Drought and Reduced Hydropower: El Nino seringkali dikaitkan dengan penurunan curah hujan di wilayah-wilayah tertentu, termasuk bagian selatan China yang kaya akan sumber daya energi air. Kekeringan yang berkepanjangan dapat menyebabkan penurunan debit air di sungai-sungai utama dan waduk, sehingga mengurangi output pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
- Increased Reliance on Fossil Fuels: Penurunan produksi listrik dari PLTA memaksa China untuk lebih mengandalkan pembangkit listrik berbahan bakar fosil, terutama batubara dan gas alam, untuk memenuhi permintaan listrik yang tetap tinggi atau bahkan meningkat akibat suhu udara yang lebih panas (permintaan untuk pendingin ruangan).
- Surge in Global Energy Demand and Prices: Peningkatan konsumsi batubara dan gas alam oleh China, yang merupakan importir energi terbesar di dunia, akan meningkatkan permintaan di pasar global. Hal ini berpotensi memicu lonjakan harga energi dunia, terutama jika terjadi bersamaan dengan gangguan pasokan energi dari wilayah lain akibat faktor geopolitik atau cuaca ekstrem lainnya.
- Supply Chain Disruptions: Cuaca ekstrem akibat El Nino, seperti banjir di beberapa wilayah dan kekeringan di wilayah lain, juga dapat mengganggu rantai pasok energi. Banjir dapat merusak infrastruktur tambang batubara atau jalur transportasi, sementara kekeringan dapat menghambat navigasi di sungai-sungai penting untuk pengangkutan energi.
Dampak bagi Indonesia :
- Sebagai negara yang juga rentan terhadap dampak El Nino dan memiliki ketergantungan pada energi fosil, Indonesia akan menghadapi beberapa konsekuensi jika krisis energi global diperparah oleh fenomena ini:
- Increased Energy Costs: Lonjakan harga energi global, terutama minyak bumi dan gas alam, akan meningkatkan biaya impor energi Indonesia. Hal ini dapat berdampak pada peningkatan beban subsidi energi dalam APBN, serta potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik di dalam negeri, yang pada akhirnya dapat memicu inflasi.
- Threats to Hydropower Production: Sama seperti China, Indonesia juga memiliki beberapa PLTA penting yang operasionalnya sangat bergantung pada ketersediaan air. Kekeringan akibat El Nino dapat mengurangi output listrik dari PLTA, sehingga menambah beban pada pembangkit listrik berbahan bakar fosil dan berpotensi menyebabkan gangguan pasokan listrik di beberapa wilayah.
- Pressure on Coal Export: Meskipun Indonesia merupakan salah satu eksportir batubara terbesar di dunia, lonjakan permintaan global akibat El Nino di China dan negara-negara lain dapat memberikan tekanan pada pasokan batubara domestik untuk pemenuhan kebutuhan Domestic Market Obligation (DMO) untuk PLTU.
- Focus on Energy Transition: Situasi ini menyoroti pentingnya Indonesia untuk mempercepat transisi energi menuju sumber energi terbarukan yang lebih stabil dan tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi cuaca ekstrem seperti El Nino. Diversifikasi sumber energi akan meningkatkan ketahanan energi nasional di masa depan.
Kesimpulan:
Peringatan China mengenai El Nino yang memperparah krisis energi global harus menjadi perhatian bagi Indonesia. Dampaknya akan terasa melalui peningkatan biaya energi, potensi gangguan pasokan listrik dari PLTA, dan tekanan pada pasokan batubara. Situasi ini menekankan perlunya langkah-langkah mitigasi yang efektif, termasuk peningkatan efisiensi energi, pengembangan energi terbarukan, dan pengelolaan sumber daya air yang bijaksana untuk menghadapi tantangan krisis energi di tengah perubahan iklim.
Berikut pemaparan detailnya :
China memperingatkan fenomena El Nino yang diprediksi menguat tahun ini berpotensi memperparah krisis energi global. Terutama di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik Iran dan Amerika Serikat (AS) yang masih memanas.
Pemerintah China melalui para ilmuwan iklim menyebut El Nino dapat meningkatkan permintaan bahan bakar fosil dunia karena banyak wilayah yang bergantung pada tenaga air atau hydropower berisiko kehilangan pasokan listrik akibat kekeringan maupun banjir ekstrem.
Kondisi tersebut dinilai bisa memaksa banyak negara beralih ke minyak dan gas sebagai sumber energi alternatif, sehingga memperbesar tekanan terhadap harga energi global. Fenomena El Nino sendiri terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan menyebabkan kenaikan suhu rata-rata global.
Dalam kondisi tertentu, El Nino dapat memicu cuaca ekstrem berupa kekeringan panjang maupun hujan deras yang berujung banjir besar. Kedua kondisi ini sama-sama dapat mengganggu operasional pembangkit listrik tenaga air, baik karena kekurangan pasokan air maupun kerusakan infrastruktur akibat banjir. “El Nino bisa menghantam keras wilayah yang bergantung pada tenaga air, mendorong mereka membakar lebih banyak bahan bakar fosil untuk listrik. Hal itu akan meningkatkan emisi karbon sekaligus biaya impor energi, menciptakan lingkaran merusak yang memperparah perubahan iklim dan menekan ekonomi,” kata Wang Yaqi, insinyur senior di National Climate Centre China, sebagaimana dikutip dari South China Morning Post, Senin, 20 April 2026. Baca Juga China Waspada Penuh Usai Jepang Longgarkan Ekspor Senjata: Tokyo Hidupkan 'Mesin Perang' Administrasi Meteorologi China memperkirakan kondisi El Nino kategori sedang hingga kuat akan mulai muncul secara global bulan depan dan terus berkembang sepanjang sisa tahun ini.
BMKG : Perkembangan Musim Kemarau dan Prediksi El Nino tahun 2026 (Kemarau Lebih Kering dan Panjang, BMKG Tekankan Pentingnya Antisipasi)
El Nino 2026 diprediksi memicu kemarau panjang dan ekstrem di Indonesia, mulai menguat akhir April dan terasa puncaknya pada Juli-September 2026, berpotensi menyebabkan krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta gagal panen. Fenomena yang dijuluki Godzilla El Nino ini mengancam ketahanan pangan dan meningkatkan suhu udara secara drastis.
Dampak utama El Nino 2026 berdasarkan informasi BMKG dan laporan terkini:
1. Kekeringan Ekstrem & Krisis Air: Musim kemarau akan berlangsung lebih lama dan lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, menyebabkan berkurangnya ketersediaan air bersih di banyak wilayah.
2. Ancaman Gagal Panen (Krisis Pangan): Penurunan curah hujan secara signifikan mengganggu sektor pertanian, meningkatkan risiko gagal panen akibat kekeringan lahan pertanian.
3. Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla): Kondisi kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan yang tinggi, berpotensi menimbulkan kabut asap.
4. Anomali Cuaca: Meskipun kemarau, beberapa wilayah mungkin mengalami anomali cuaca lain seperti badai atau curah hujan ekstrem dalam waktu singkat.
5. Dampak Wilayah: Terutama berdampak signifikan pada wilayah Selatan Indonesia termasuk NTB, Kalimantan, dan Sumatera.
Pemerintah melalui BMKG dan lembaga terkait memperingatkan perlunya antisipasi sejak dini terkait ketahanan air dan produksi pangan.
Konferensi Pers dari BMKG ;
Pasca Konferensi Pers untuk Prediksi Musim Kemarau dan Prediksi El Nino tanggal 4 Maret 2026 yang lalu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga akhir Maret 2026, sebanyak 7% Zona Musim (Z0M) di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Jumlah ini akan terus bertambah secara signifikan dengan sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada April, Mei, dan Juni 2026.
Gambar 1. Wilayah yang sedang mengalami musim kemarau (warna coklat), pemutakhiran dasarian III Maret 2026.Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa beberapa wilayah yang telah memasuki musim kemarau adalah sebagian kecil wilayah Aceh, sebagian kecil wilayah Sumatera Utara, sebagian kecil Riau, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, sebagian kecil NTB, sebagian kecil NTT dan Maluku, serta sebagian kecil Papua Barat.
“BMKG akan terus memantau perkembangan dinamika iklim global dan regional serta menyampaikan pembaruan informasi secara berkala. Masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG melalui berbagai kanal komunikasi yang tersedia,” kata Faisal di Jakarta, Minggu (5/4).
Di sisi lain, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan BMKG juga memprediksi peluang berkembangnya fenomena El Niño pada semester kedua tahun ini. Hingga akhir Maret 2026, kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) terpantau masih berada pada fase Netral. Namun, pemodelan iklim menunjukkan bahwa ENSO dapat berkembang menjadi fase El Niño pada semester kedua tahun 2026.
“Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Niño berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80%, dan mencatat adanya kemungkinan kecil (kurang dari 20%) fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat” ujarnya.
BMKG mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menginterpretasikan data prediksi saat ini karena adanya fenomena spring predictability barrier—penurunan drastis akurasi prediksi model cuaca dan iklim untuk ENSO saat belahan Bumi utara melewati periode musim semi (Maret, April, Mei). Akurasi prediksi El Niño yang dihasilkan pada periode Maret-April umumnya hanya andal untuk prakiraan tiga bulan ke depan, sehingga diperlukan expertise dalam pemahaman interaksi multi-faktor yang menyebabkan lahirnya kondisi El Nino maupun dampak telekoneksinya ke wilayah Indonesia. Untuk itu BMKG perlu terus memantau pembaruan data secara berkala dan mengkaji perkembangannya.
Senada dengan hal tersebut, bahwa tingkat kepercayaan (confidence) terhadap intensitas El Niño akan semakin tinggi pada hasil prediksi bulan Mei 2026. Secara statistik, prediksi pada bulan Mei memiliki keandalan yang lebih baik untuk menjangkau kondisi iklim hingga enam bulan ke depan.
“Meskipun intensitas pastinya masih berkembang, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya, sebagai kontribusi juga dari variabilitas iklim alamiah yang ada di wilayah Indonesia,” jelasnya.
Perkembangan Musim Kemarau dan Prediksi El Nino tahun 2026: Kemarau Lebih Kering dan Panjang, BMKG Tekankan Pentingnya Antisipasi
Gambar 1. Wilayah yang sedang mengalami musim kemarau (warna coklat), pemutakhiran dasarian III Maret 2026.Pasca Konferensi Pers untuk Prediksi Musim Kemarau dan Prediksi El Nino tanggal 4 Maret 2026 yang lalu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga akhir Maret 2026, sebanyak 7% Zona Musim (Z0M) di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Jumlah ini akan terus bertambah secara signifikan dengan sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada April, Mei, dan Juni 2026.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa beberapa wilayah yang telah memasuki musim kemarau adalah sebagian kecil wilayah Aceh, sebagian kecil wilayah Sumatera Utara, sebagian kecil Riau, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, sebagian kecil NTB, sebagian kecil NTT dan Maluku, serta sebagian kecil Papua Barat.
“BMKG akan terus memantau perkembangan dinamika iklim global dan regional serta menyampaikan pembaruan informasi secara berkala. Masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG melalui berbagai kanal komunikasi yang tersedia,” kata Faisal di Jakarta, Minggu (5/4).
Di sisi lain, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan BMKG juga memprediksi peluang berkembangnya fenomena El Niño pada semester kedua tahun ini. Hingga akhir Maret 2026, kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) terpantau masih berada pada fase Netral. Namun, pemodelan iklim menunjukkan bahwa ENSO dapat berkembang menjadi fase El Niño pada semester kedua tahun 2026.
“Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Niño berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80%, dan mencatat adanya kemungkinan kecil (kurang dari 20%) fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat” ujarnya.
BMKG mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menginterpretasikan data prediksi saat ini karena adanya fenomena spring predictability barrier—penurunan drastis akurasi prediksi model cuaca dan iklim untuk ENSO saat belahan Bumi utara melewati periode musim semi (Maret, April, Mei). Akurasi prediksi El Niño yang dihasilkan pada periode Maret-April umumnya hanya andal untuk prakiraan tiga bulan ke depan, sehingga diperlukan expertise dalam pemahaman interaksi multi-faktor yang menyebabkan lahirnya kondisi El Nino maupun dampak telekoneksinya ke wilayah Indonesia. Untuk itu BMKG perlu terus memantau pembaruan data secara berkala dan mengkaji perkembangannya.
Senada dengan hal tersebut, bahwa tingkat kepercayaan (confidence) terhadap intensitas El Niño akan semakin tinggi pada hasil prediksi bulan Mei 2026. Secara statistik, prediksi pada bulan Mei memiliki keandalan yang lebih baik untuk menjangkau kondisi iklim hingga enam bulan ke depan.
“Meskipun intensitas pastinya masih berkembang, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya, sebagai kontribusi juga dari variabilitas iklim alamiah yang ada di wilayah Indonesia,” jelasnya.
Gambar 3. Prediksi sifat Musim Kemarau 2026. Dapat diakses melalui https://www.bmkg.go.id/iklim/prediksi-musimMenghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan melalui langkah-langkah presisi yang bisa dilakukan oleh seluruh pihak. Informasi lengkap mengenai Prediksi Musim Kemarau 2026 dan langkah antisipasi pemangku kebijakan, beragam sektor dan masyarakat dapat di akses di link berikut ini:
https://www.bmkg.go.id/iklim/prediksi-musim/prediksi-musim-kemarau-tahun-2026-di-indonesia
Lebih lanjut dimohon pemangku kebijakan dan masyarakat untuk mengacu kepada informasi perkembangan iklim yang resmi dan kredibel dari BMKG melalui beragam kanal informasi.




