JP Morgan: Indonesia Jadi Negara Paling Tahan Nomor 2 Dunia Hadapi Krisis Energi, Ungguli China-AS

 JP Morgan: Indonesia Jadi Negara Paling Tahan Nomor 2 Dunia Hadapi Krisis Energi, Ungguli China-AS



POINT ConsultantNegara paling kuat hadapi krisis energi global 2026 (Kompas). Indonesia no 77%



POINT Consultant





JP. Morgan Chase & Co. adalah lembaga jasa keuangan terkemuka dunia dan bank terbesar di Amerika Serikat, dengan aset senilai lebih dari $3,7 triliun per 2023. Sebagai salah satu dari "big four" bank AS, perusahaan ini menyediakan layanan investasi, manajemen aset, dan perbankan korporasi di lebih dari 100 negara. 

Informasi Utama JP Morgan:
- Profil Perusahaan: JPMorgan Chase & Co. (NYSE: JPM) adalah hasil penggabungan lebih dari 1.200 institusi keuangan selama 225 tahun terakhir, termasuk J.P. Morgan & Co., The Chase Manhattan Bank, dan Bear Stearns. 
- Layanan: Fokus pada perbankan investasi, layanan keuangan korporasi, serta manajemen kekayaan. 
- Tokoh Sejarah: Perusahaan ini dinamai dari John Pierpont Morgan (1837–1913), seorang bankir dan pemodal Amerika yang mendominasi Wall Street pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. 
Kinerja & Posisi: Perusahaan ini diakui secara global, dan menurut laporan per 23 April 2026, menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia dalam ketahanan ekonomi terhadap guncangan energi global. 

Contoh Operasi di Indonesia:
J.P. Morgan Sekuritas Indonesia adalah salah satu broker yang aktif di Bursa Efek Indonesia. 


BACA JUGA :

China Sebut El Nino Bisa Memperparah Krisis Energi Global & Dampaknya di Indonesia


 .

Di tengah ancaman krisis energi global yang kian kompleks, Indonesia justru muncul sebagai salah satu negara paling tangguh di dunia.

Laporan terbaru JP Morgan Asset Management bertajuk Eye on the Market bertajuk Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026 yang dirilis 21 Maret 2026 menempatkan Indonesia di posisi kedua global dalam ketahanan energi, mengungguli sejumlah negara besar seperti China dan Amerika Serikat.

Studi yang menganalisis 52 negara dengan kontribusi 82 persen konsumsi energi dunia itu menggunakan indikator total insulation factor—ukuran komprehensif yang mencerminkan kemampuan suatu negara memenuhi kebutuhan energi dari sumber domestik.

Indonesia mencatat skor 77 persen, hanya terpaut tipis dari Afrika Selatan 79 persen, serta berada di atas Tiongkok 76 persen dan Amerika Serikat 70 persen.

Fondasi ketahanan ini ditopang oleh dominasi energi domestik, terutama batu bara yang menyumbang sekitar 48 persen konsumsi energi nasional, diikuti gas bumi 22 persen dan energi terbarukan 7 persen.

Dalam laporan tersebut, Indonesia bahkan dikelompokkan bersama negara-negara seperti China, India, dan Afrika Selatan sebagai pihak yang paling diuntungkan dari ketersediaan batu bara domestik saat terjadi guncangan energi global.

Keunggulan lain yang menjadi pembeda adalah rendahnya ketergantungan Indonesia terhadap jalur distribusi energi global yang rentan.

Impor energi melalui Selat Hormuz hanya berkontribusi sekitar 1 persen terhadap total konsumsi nasional—jauh di bawah negara-negara Asia Timur seperti Korea Selatan, Taiwan, hingga Singapura yang memiliki eksposur tinggi terhadap jalur tersebut.

Sebaliknya, negara-negara maju seperti Italia, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Belanda justru dinilai paling rentan karena tingginya ketergantungan pada impor minyak dan gas.

Menanggapi capaian tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa hasil ini merupakan buah dari konsistensi kebijakan energi nasional.

“Hasil ini bukan sekadar apresiasi atas kondisi saat ini, melainkan validasi atas pilihan kebijakan jangka panjang Pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber energi domestik dan akselerasi transisi energi,” ujar Airlangga.

“Di tengah volatilitas harga energi global, posisi ini memberikan ruang fiskal yang lebih terkendali bagi APBN 2026 dan membantu melindungi daya beli masyarakat serta kelangsungan aktivitas dunia usaha,” lanjutnya.

Meski demikian, pemerintah menegaskan tidak akan berpuas diri. Sejumlah langkah strategis terus didorong, mulai dari optimalisasi produksi migas domestik untuk menekan defisit neraca energi, percepatan transisi ke energi baru terbarukan, hingga ekspansi kendaraan listrik sebagai upaya struktural mengurangi ketergantungan pada minyak.

Selain itu, diversifikasi sumber pasokan dan jalur logistik energi juga menjadi prioritas untuk memperkuat daya tahan terhadap risiko geopolitik global yang semakin tidak menentu.



Sumber Referensi :

https://www.viva.co.id/bisnis/1894079-laporan-jp-morgan-indonesia-jadi-negara-paling-tahan-nomor-2-dunia-hadapi-krisis-energi-ungguli-china-as




Reposting by POINT Consultant 



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama