Mengibas Anjing : Pelajaran Donald Trump untuk Prabowo
Oleh : Lukas Luwarso
Ungkapan “wag the dog”--mengibas anjing--dalam literatur politik merujuk pada strategi pengalihan isu. Alih-alih anjing mengibas ekor; yang terjadi justru ekor mengibas anjing. Konsep ini dipopulerkan film _Wag the Dog_ (Robert De Niro), menggambarkan bagaimana perang fiktif direkayasa untuk menutup skandal seksual atau korupsi presiden. Menjadi alat analitis untuk membaca bagaimana krisis eksternal diciptakan untuk menenggelamkan problem domestik.
Dalam praktik politik modern, perang, retorika keamanan, atau penciptaan musuh bersama sering kali bukan semata soal pertahanan negara, melainkan kalkulasi elektoral dan penyelamatan legitimasi. Kebijakan luar negeri direduksi menjadi panggung pertunjukan, tempat opini publik dikelola lewat ketegangan dan ketakutan.
Perang Amerika-Israel terhadap Iran perlu dipahami melalui lensa "ekor mengibas anjing" ini. Amerika dan Israel adalah anjing, Donald Trump dan Netanyahu adalah ekor. Dua politikus populis ini membuat distraksi untuk mengalihkan tekanan politik domestik. Trump mengalihkan dari kontroversi “Epstein Files” dan kemungkinan dimakzulkan. Netanyahu, mengalihkan dari tuduhan korupsi dan krisis legitimasi internal. Mereka membuat pertunjukan perang, panggung untuk pengalihan isu dan memobilisasi solidaritas nasional.
Masalahnya, strategi perang _wag the dog_ bukan sekadar pengalihan politik; tapi berimplikasi serius terhadap stabilitas global. Ketika perang atau ancaman dijadikan alat pengalihan isu, rasionalitas kebijakan luar negeri tunduk pada kebutuhan psikologis dan elektoral personal politikus. Personalisasi kebijakan luar negeri lebih dominan ketimbang institusional negara. Trump menyatakan perang dengan Iran tanpa persetujuan kongres. Perang yang, jika tak terkendali, bisa memicu perang dunia Ketiga.
*Trump ancaman bagi demokrasi dan dunia.* Mengingatkan munculnya Hitler di Jerman, menjelang Perang Dunia III. Demokrasi Amerika belum pernah memiliki presiden seanomali Trump. Ia cenderung mengabaikan konstitusi, menyerang lembaga peradilan, dan mendelegitimasi hasil pemilu 2020 ketika tidak memenangkannya. Amerika yang dibangun sebagai negara imigran dan terbuka, menjadi negara anti-imigran dan ultra-konservatif di era Trump. Ia menggunakan aparat ICE _(Immigration and Customs Enforcement)_ untuk meneror warga pendatang sebagaimana Hitler memakai Gestapo, polisi rahasia.
Trump memakai kebijakan tarif perdagangan sebagai senjata ekonomi untuk menggertak negara lain. Termasuk membentuk Board of Peace (BOP) dengan menggelar perang di Iran sebagai program pertama. Geopolitik menjadi panggung personalisasi kekuasaannya. Ia iberpretensi ngin mengantikan PBB dengan klub eksklusif BOP yang ia dikendalikan. Ia ingin menegakkan kultus dirinya sebagai “kaisar dunia”.
Gaya komunikasi "omon-omon" Trump tipikal sosok megalomanic. Retorika impulsif, hiperbolik, klaim sepihak, dan ketidakpedulian terhadap akurasi fakta mengubah politik menjadi tontonan breaking news. Rasionalitas publik terkikis oleh polarisasi, dramatisas, dan sensasi.
*Pelajaran untuk Prabowo.* Kedekatan simbolik Prabowo dengan Trump mungkin menjanjikan keuntungan taktis personal sesaat. Tetapi berisiko menggerus posisi Indonesia sebagai negara dengan tradisi bebas-aktif dan non-blok. Dunia multipolar menuntut kepemimpinan yang tenang, kredibel, dan konsisten pada hukum internasional—bukan retorika konfrontatif.
Mengikuti telunjuk politik Trump, dalam kesepakatan tarif ART dan forum eksklusif BOP, hanya mempersempit ruang manuver Indonesia. Indonesia mustinya memainkan peran sebagai political conscience, dengan menolak perang. Khususnya perang bermotif petualangan wag the dog yang berbahaya. Prabowo perlu berani mengambil jarak dengan egomaniacTrump.
Mengikuti Trumpisme konsekuensinya bukan hanya diplomatik, tetapi juga domestik. Program Makan Bergizi Gratis yang secara normatif baik semakin terlihat hanya menjadi proyek logistik politik untuk kroni. Begitu pula Koperasi Merah Putih: tanpa desain kelembagaan yang matang, berisiko menjadi sekadar slogan ekonomi kerakyatan. Pemborosan fiskal, di tengah slogan efisiensi dan bangkrutnya ekonomi.
Jika terus membebek gaya wag the dog Trump, Prabowo berisiko bakal dikenang sebagai presiden gagal. Lebih sibuk membuat pertunjukan pollitik (political spectacle) ketimbang program substansial. Lantang berteriak "antek-antek asing" atau "Indonesia bubar 2030", untuk membuat dalih dan kegaduhan.
Prabowo bukanlah Donald Trump yang punya latar belakang media-entertainer dan pengusaha casino. Trump pernah menjadi produser dan pembawa acara hiburan televisi _(reality show)_ "The Apprentice" dan "The Celebrity Apprentice". Trump terbiasa menjadikan segala hal sebagai pertunjukan dan perjudian, termasuk ketika kini berpolitik dan menggelar perang. Pelajaran untuk Prabowo adalah, jangan pernah belajar dari Trump.
******


