Menaklukkan Seorang Cowboy
"Menaklukkan Seorang Cowboy"
Sebagian orang hanya melihat bergabungnya Prabowo ke Board of Peace (BOP) sebagai "kebodohan" dan upaya "cari muka". Lalu, ketika asumsi tersebut dibungkus oleh sentimen primordial–berteriaklah mereka agar kita keluar dari BOP–sesaat setelah Amerika-Israel menyerang Iran. Dul, Prabowo tidak "sebodoh" itu, pun tidak "sekacung" itu kepada Trump. Menurut saya, Prabowo salah satu pakar geopolitik terbaik negeri ini. Dia paham "sesuatu" yang kita tidak melihatnya.
Sesuatu itu adalah perlunya sebuah tekad bulat agar bangsanya tak menderita secara konyol. Secara geopolitik (global), Amerika memang tidak sendirian sebagai negara adidaya. Ada China dan Rusia. Tapi hanya Trump lah yang memerankan dirinya sebagai "cowboy" yang teramat sulit ditebak jalan pikirannya. Dan sekaligus, sulit dijinakkan. Tragedi Venezuela, pun Iran sekarang–salah satunya disebabkan oleh gaya kepemimpinan Cowboy tersebut.
Strategi terbaik menghadapi Trump adalah dengan merangkulnya daripada melawannya. Menempelnya daripada menjauhinya. Hanya dengan cara itu Prabowo relatif bisa "mengendalikan" Cowboy liar ini. Setidaknya, Trump punya rasa sungkan kepada Prabowo (Indonesia).
Pertanyaannya sederhana: apakah kita siap jika di "Venezuela"-kan? Atau di " Iran"kan? Apakah kita siap hanya dengan modal nasionalisme, heroisme dan patriotisme membusungkan dada dan melawan ketika Trump kumat lalu jadi Cowboy untuk Indonesia?
Sebagian orang itu hanya melihat "ulah" Prabowo dengan kaca mata hitam, maka mereka hanya melihat sisi gelap seorang Prabowo. Tentu saja Prabowo punya banyak kelemahan. Tapi jika kita mau melihatnya dengan kaca mata bening, maka akan terlihatlah sisi terangnya. Prabowo adalah orang yang punya harga diri tinggi. Bahkan sampai batas tertentu, dia agak megalomania. Tapi amatilah, orang dengan harga diri tinggi dan relatif megalomania itu bersedia "menaklukkan" dirinya, merundukkan kepalanya–dengan bersedia "mengikuti" (merangkul) Trump. Jelas itu bukan demi dirinya, tapi demi bangsanya. Dia hanya ingin melindungi bangsa dan rakyatnya dari tindakan agresif random seorang Cowboy dunia.
(Ada Profesor abal-abal, inteklektual, pun tokoh–di negeri ini, yang mengecam nyaris semua inisiatif kepemimpinan Prabowo. Di mata mereka, tak ada presiden yang benar–sebab mereka suka memakai kaca mata hitam. Dunia memang serba gelap bagi mereka).
Mereka memang gelap.
By: HT

