Ora Faham Dadine Ruwet
(Tidak paham, jadinya = malah, ruwet/rumit/kacau)
~ R. Try Nugroho ~
Dienggo lucu yo lucu, ning ndang buyar ambyar trus ora genah tatanane negara bangsane)
(Dibuat lucu ya lucu, namun akan cepat berantakkan tercerai berai amburadul) hancur negara bangsanya)
Ora Faham Dadine Ruwet
(Tidak paham, jadinya = malah, ruwet/rumit/kacau)
Alasan KPK jadikan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq mengaku sebagai musisi pedangdut tak paham hukum tapi tetap garap proyek. Bupati Pekalongan Fadia Arafiq tersangka menerangkan bahwa dirinya berlatar belakang sebagai musisi, bukan seorang birokrat. Ia mengaku urusan teknis diserahkan ke Sekda, sementara dirinya hanya menjalankan fungsi seremonial.
Tentu saja dilihat dari kacamata hukum, alasan tersebut bertentangan dengan asas presumptio iures de iure atau teori fiksi hukum, di mana setiap orang dianggap tahu hukum ketika peraturan sudah diundangkan, apalagi seorang kepala daerah ?
Fiksi hukum adalah asas yang menganggap semua orang tahu (presumptio iures de iure). Dalam bahasa Latin dikenal pula adagium ignorantia jurist non excusat, ketidaktahuan hukum tidak bisa dimaafkan.
Seseorang tidak bisa mengelak dari tuntutan/tindakan hukum dengan dalih belum atau tidak mengetahui adanya hukum.
Akibat memaksakan diri di luar kemampuan (takalluf) adalah sikap tercela yang berbahaya, baik secara fisik, mental, maupun dalam ajaran agama. Islam mengajarkan untuk beramal sesuai batas kemampuan, bukan melampauinya. Memaksakan diri seringkali berujung pada kelelahan ekstrem, stres, hasil yang tidak maksimal, bahkan membahayakan diri sendiri atau orang lain dan seseorang sebagai pejabat Publik tentunya hancurlah negara ini.
Mengutip dari hadits sebagai berikut :
فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
Artinya : “Apabila amanah sudah hilang, maka tunggulah terjadinya kiamat”. Orang itu (Arab Badui) bertanya, “Bagaimana hilangnya amanat itu?” Nabi saw menjawab, “Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat.” (HR. Al-Bukhari
Endingnya bila bukan ahlinya tinggal tunggu kehancurannya merupakan potongan dari hadist riwayat Bukhari yang menegaskan pentingnya kompetensi dan amanah dalam mengelola suatu urusan. Menyerahkan jabatan atau tugas kepada orang yang tidak berkompeten (bukan ahli) akan mengakibatkan kekacauan, kerusakan, dan hilangnya produktivitas.
Pemimpin inkompeten berdampak destruktif, seperti kebijakan irasional (berbasis emosi/insting), runtuhnya meritokrasi karena memilih bawahan "yes-men", hingga menyuburkan korupsi akibat lemahnya pengawasan. Ini mengakibatkan kerusakan sistem, produktivitas rendah, burnout karyawan, dan ketidakpuasan masyarakat.
Pemimpin yang tidak kompeten :
1. Kebijakan Irasional dan Lemah.
Pemimpin yang tidak paham tata kelola sering mengambil keputusan tanpa data (proyek mercusuar/bodoh), yang berakibat pada pemborosan anggaran dan kebijakan yang menyesatkan.
2. Runtuhnya Meritokrasi.
Pemimpin inkompeten merasa terancam oleh orang cerdas, sehingga merekrut orang yang tidak kompeten tetapi patuh, menciptakan lingkungan kerja beracun (toxic).
3. Penyuburan Korupsi.
Ketidaktahuan akan detail anggaran dan hukum membuat celah korupsi terbuka lebar bagi bawahan atau oknum yang memanfaatkannya.
4. Kerusakan Organisasi & Kesejahteraan Mental.
Menyebabkan stres, burnout, motivasi rendah, dan tingginya turnover (pergantian) karyawan.
5. Ketidakpercayaan Publik/Anggota.
Pemimpin yang zalim dan tidak kompeten menimbulkan kebencian dan perlawanan dari anggota atau masyarakat.
6. Dalam Pandangan Islam.
Pemimpin bodoh yang zalim merupakan tanda kerusakan, membawa dampak buruk bagi umat, dan peringatan akan mendekatnya masa-masa sulit (tanda-tanda kiamat).
Sanepan Jawa digunakan untuk nyemoni (menyindir) :
1. Abot kapuk (Abot merang segedheng)
Pekerjaan sangat mudah dan ringan, Seberapa besarnya merang, tetap saja tidak berat.
2. Aji godhong garing.
seseorang yang sudah tidak memiliki harga diri, sangat rendah, atau tidak berguna sama sekali.
3. Busuk ketekuk, pinter keblinger Oang bodoh akan terpuruk/sial, dan orang pintar pun bisa tersesat/salah langkah.
Kesimpulan :
Jika suatu bangsa dipimpin oleh pemimpin yang bobrok (tidak amanah, zalim, atau korup), nasib bangsa tersebut akan mengalami kemerosotan serius di berbagai lini, mulai dari krisis ekonomi, ketidakstabilan sosial, hingga potensi keruntuhan negara. Pemimpin yang tidak amanah hanya akan menciptakan ketidakpuasan, ketegangan, dan kerusakan sistemik.
POINT Consultant

