Panduan Lengkap Memahami Epstein Files dengan Bahasa Bayi
Nama Jeffrey Epstein, terdakwa kasus perdagangan anak di Amerika Serikat, kembali ramai diperbincangkan di dunia maya. Perbincangan ini mencuat setelah Department of Justice (DOJ) Amerika Serikat merilis “Epstein Files” yang memuat dokumen penyelidikan dan pengadilan terkait kejahatannya secara lengkap pada (30/1).
Dalam berkas setebal lebih dari tiga juta halaman tersebut, terdapat gambar, rekaman pengadilan, hingga video yang berkaitan dengan kejahatan seksualEpstein. Dokumen ini juga memuat catatan investigasi serta pernyataan saksi dalam persidangan kasus tersebut.
Jeffrey Epstein merupakan miliarder berkewarganegaraan Amerika Serikat. Berdasarkan catatan BBC, ia sempat bekerja sebagai guru Matematika sebelum beralih ke dunia keuangan. Pada 2008, Epstein divonis atas kejahatan seksual terhadap anak. Ia kemudian kembali ditangkap pada 2019 untuk menghadapi persidangan atas dakwaan perdagangan seks yang lebih serius. Namun, pada 10 Agustus 2019, Epstein ditemukan meninggal dunia di sel penjara Metropolitan Correctional Center, New York. Penyebab kematiannya dinyatakan sebagai bunuh diri.
Bukan Unggahan Pertama
Berdasarkan catatan Britannica, ini bukan kali pertama DOJ Amerika Serikat mengunggah dokumen kejahatan Epstein ke khalayak umum. Pada 19 Desember 2025, DOJ sudah merilis ratusan ribu dokumen kejahatan Epstein, setelah The House of Representatives Amerika Serikat menyetujui perilisan dokumen tersebut. Persetujuan itu sendiri tertuang dalam Undang-Undang Transparansi Dokumen Epstein.
Dalam unggahan pertama tersebut, ABC News melaporkan terdapat foto-foto tokoh terkenal yang termuat di dalamnya. Salah satu yang terlihat adalah mantan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton. Selain itu unggahan “Epstein Files”pertama ini juga memuat keterangan soal Lolita Express, jet pribadi milik Epstein.
Perilisan kedua dilakukan oleh DOJ pada 23 Desember 2025. Dalam unggahan kedua, DOJ merilis 30.000 halaman tambahan yang meliputi email, catatan pengadilan, dan juga foto-foto lain. Dalam unggahan kedua ini, termuat catatan perjalanan Donald Trump dengan Epstein dalam jet pribadinya pada 1990-an.
elain itu, tercantum pula nama-nama seperti Andrew Albert Christian Edward Mountbatten-Windsor atau sebelumnya Pangeran Andrew, anak ketiga dan putra kedua dari Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philip.
Sebulan berlalu, DOJ pun merilis “Epstein Files” lainnya dengan total 3 juta halaman pada (30/1) 2026. Catatan penyidikan dan pengadilan ini memuat rangkaian email sampai 2000 video dan 180 ribu foto terkait kasus Epstein. Todd Blanche, Wakil Jaksa Agung Amerika Serikat, menyebut ini adalah perilisan terakhir dari “Epstein Files”. Sejak berkas terakhir ini diunggah, perhatian publik pun tertuju pada bukti-bukti kejahatan Epstein.
Memuat Banyak Nama Tokoh
Seperti yang disebut di atas, terdapat nama-nama tokoh besar yang tercantum dalam dokumen Epstein. Berdasarkan rangkuman BBC, nama Donald Trump tercantum ratusan kali dalam dokumen tersebut. Trump sendiri merupakan teman Epstein, sebelum akhirnya ia berhenti berteman dengannya. Ia pun membantah telah mengetahui kejahatan seksual yang dilakukan Epstein.
Selain Donald Trump, nama besar lain seperti Elon Musk juga tercantum dalam dokumen tersebut. Masih dari media yang sama, namanya tercantum dalam catatan korespondensi email antara Elon dan Epstein. Pesan-pesan daring tersebut pun menunjukkan bahwa Musk tengah membahas rencana perjalanan ke Little Saint James, pulau pribadi Epstein. Meski begitu, Musk membantah keterlibatannya dan menyebut bahwa bukti tersebut banyak disalahgunakan oleh banyak orang untuk mencemarkan nama baiknya pada (2/2) lewat cuitannya di X.
Peter Mandelson, seorang politisi dan duta besar Inggris untuk Amerika Serikat, juga tercantum dalam “Epstein Files”. Dari laporan The Standard, Mendelson terlihat beberapa kali mengirim pesan ke Epstein pada tahun 2008. Pesan ini meliputi penyebutan Epstein sebagai sahabat terbaiknya, sampai ucapan dukungan kepadanya atas dakwaan pertama terkait prostitusi anak di bawah umur.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim juga tercatut dalam berkas satu ini. Nama Anwar sempat tercantum dalam sebuah email terkait kasus Epstein yang mencoba mengatur sebuah pertemuan. Namun, Anwar sendiri menegaskan bahwa ia tak pernah bertemu Epstein. Lewat cuitannya di akun X, Anwar bilang ia bahkan baru mengetahui namanya tercantum. Ia bersyukur karena tidak pernah memiliki hubungan dengan pihak Epstein.
Penyebutan Nama dan Wajah Korban Secara Terbuka
Selain menyebut nama-nama tokoh terkenal, “Epstein Files” yang telah lengkap diunggah juga memuat beberapa data korban secara gamblang. Hal ini meliputi nama sampai foto wajah yang tidak tersensor secara sempurna.
Gloria Allred, pengacara yang mewakili banyak korban Epstein, menyebut bahwa ada banyak hal yang perlu disunting ulang agar nama korban tidak terbaca secara jelas. Kepada BBC, ia bilang hal ini mengkhawatirkan, terlebih berkas tersebut sudah diunduh oleh ribuan orang.
Sementara itu, DOJ menimpali, pihaknya terus berkoordinasi dengan para korban dan pengacaranya untuk memastikan berjalannya proses penyuntingan. Dari laporan ABC News, pihak DOJ juga membuka layanan pengaduan agar para korban dapat menghubungi pihak DOJ secara langsung untuk menyunting dokumen tersebut.
Memuat Informasi tentang Negara Lain
Selain memuat kasus kejahatan seksual terhadap anak yang Epstein lakukan, berkas tersebut juga memaparkan hubungan Epstein dengan tokoh dari negara-negara lain. Salah satu yang tercantum adalah tokoh Israel, yakni Ehud Barak mantan Perdana Menteri Israel.
Dari rangkuman Anadolu Ajansi Barak ditemukan pernah beberapa kali menginap di apartemen Epstein di New York, Amerika Serikat. Selain itu, dokumen ini juga mengungkap Barak telah meminta Epstein untuk mengatur wawancara antara Israel dan Donald Trump pada 2016. Namun, Barak sendiri menyangkal kalau adanya aktivitas ilegal dalam komunikasinya dengan Epstein.
Selain informasi soal mantan perdana menteri Israel, dokumen tersebut juga memuat nama Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Dalam email, Macron tertulis meminta bantuan Epstein dalam masalah tata kelola. Berkas tersebut pun mencakup kutipan Macron dan pertemuan mereka yang terjadi sejak masa jabatannya sebagai menteri ekonomi. Sampai artikel ini ditulis, pihak kepresidenan Prancis belum mengeluarkan pernyataan.
Noam Chomsky, ahli linguistik dan Profesor Emeritus Linguistik di Massachusetts Institute of Technology (MIT), juga tercantum dalam beberapa email yang ada dalam dokumen tersebut. Mengutip berkas pesan Chomsky kepada Epstein terjadi sekitar 2015 saat perjanjian nuklir Iran atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) ditandatangani. Dalam pesan tersebut Chomsky bilang ia skeptis dengan perjanjian yang baru dibuat. Meski begitu ia tetap senang meski tidak terlalu optimis bahwa perjanjian tersebut akan mengubah politik global secara mendasar.
Jutaan lembar dokumen Epstein jadi data, kejahatannya mungkin saja melibatkan banyak pihak. Sampai artikel ini ditulis, satu-satunya nama yang terseret dan juga mendapat dakwaan hanyalah rekannya, yakni Ghislaine Maxwell. Dari laporan BBC, Maxwell sendiri juga jadi terdakwa atas kasus sex trafficking. Saat ini ia ditahan di penjara perempuan di Texas.
Banjir fakta yang termuat dalam “Epstein Files” juga menunjukkan, Epstein nyatanya punya banyak koneksi secara global, bahkan terlibat dalam beberapa isu besar. Meski begitu, banjir fakta ini tak membuat kita bisa dengan mudah mengidentifikasi faktanya.
Dalam mesin akal imitasi (AI), seperti Chat GPT dan Gemini, fakta dalam berkas Epstein ini tidak diberikan detail, melainkan hanya anjuran untuk tidak memberikan spekulasi. Pada DeepSeek, detail “Epstein Files” bahkan tidak dijelaskan dengan dalih mesin tidak memiliki informasi tersebut. Dakwaan terhadap Maxwell juga disebut bermula dari “konspirasi” perdagangan seks anak.
POINT Consultant

