KETIKA ZAMAN KEHILANGAN ARAH
(Membaca Kalatidha Ranggawarsita dan Sabda Jayabaya dalam Realitas Indonesia Hari Ini)
Penulis:
Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol
PENDAHULUAN:
SUARA YANG TIDAK PERNAH BENAR-BENAR HILANG
Dalam sejarah Jawa, terdapat dua suara besar yang sering dipahami secara terpisah:
Ranggawarsita, pujangga yang membaca kegelisahan zamannya
Jayabaya, tokoh yang dikenal melalui sabda tentang perputaran zaman
Namun jika dibaca dengan kesadaran yang utuh,
keduanya tidak sedang berbicara tentang masa lalu atau masa depan semata.
👉 Mereka sedang membaca pola yang terus berulang dalam kehidupan manusia.
I. RANGGAWARSITA: DIAGNOSIS ZAMAN KALATIDHA
Dalam Serat Kalatidha, Ranggawarsita tidak sekadar mengeluh.
Ia mencatat satu fase penting dalam peradaban:
ketika nilai kehilangan pijakan
ketika kebenaran menjadi kabur
ketika manusia berjalan tanpa arah yang jelas
Ini bukan kritik sosial biasa.
👉 Ini adalah diagnosis peradaban.
Yang menarik, Ranggawarsita tidak menempatkan masalah pada sistem semata,
melainkan pada:
menurunnya kualitas kesadaran manusia itu sendiri
II. JAYABAYA: MEMBACA SIKLUS, BUKAN MERAMAL
Jayabaya sering dipahami sebagai peramal.
Padahal yang ia wariskan adalah:
👉 pembacaan pola siklus zaman
Ia menggambarkan pergerakan yang berulang:
masa kejayaan
masa kemunduran
masa kebingungan
masa perubahan
Istilah “zaman edan” bukanlah ramalan,
melainkan peringatan.
Bahwa akan datang masa ketika:
kebenaran tidak lagi mudah dibedakan
kepentingan mengalahkan nilai
dan manusia diuji oleh kebisingan zamannya sendiri
III. BENANG MERAH: KALATIDHA ADALAH ZAMAN EDAN YANG TERJADI
Jika kedua pemikiran ini disatukan,
maka terlihat dengan jelas:
👉 Kalatidha adalah gambaran nyata
👉 dari apa yang oleh Jayabaya disebut sebagai zaman edan
Artinya:
yang satu membaca kondisi
yang satu membaca pola
Dan keduanya bertemu pada satu titik yang sama:
krisis tidak bermula dari sistem, tetapi dari manusia
IV. INDONESIA HARI INI: CERMIN YANG TERBUKA
Hari ini kita menyaksikan:
informasi melimpah, tetapi kebenaran diperdebatkan
kekuasaan berjalan, tetapi arah sering dipertanyakan
masyarakat terhubung, tetapi mudah terpecah
Dalam bahasa modern, ini disebut krisis global.
Namun dalam bahasa Jawa,
ini dapat dibaca sebagai:
👉 fase Kalatidha yang kembali muncul dalam bentuk baru
V. KESALAHAN TERBESAR: MENGANGGAP INI HAL BARU
Banyak yang menganggap kondisi hari ini sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi.
Padahal:
👉 pola ini telah dibaca oleh leluhur
Masalahnya bukan pada zaman,
melainkan pada:
ketidaksiapan manusia membaca tanda-tanda zaman
VI. PESAN TERDALAM: KESADARAN ADALAH PENENTU
Ranggawarsita tidak memberikan solusi teknis.
Jayabaya tidak menyusun langkah operasional.
Namun keduanya memberi satu hal yang jauh lebih penting:
👉 peringatan kesadaran
Bahwa di tengah:
kebisingan informasi
ketidakpastian arah
dan percepatan perubahan
manusia tetap memiliki pilihan:
untuk tetap sadar, atau ikut larut.
VII. TITIK BALIK: MENGULANG ATAU MELAMPAUI
Indonesia hari ini berada pada titik yang menentukan.
👉 apakah akan:
mengulang siklus yang sama
atau
melampaui dengan kesadaran yang lebih tinggi
Di sinilah pentingnya membaca kembali warisan leluhur:
bukan untuk dipercaya secara buta,
tetapi untuk dipahami sebagai pola.
PENUTUP: YANG MENENTUKAN BUKAN ZAMANNYA, TETAPI MANUSIANYA
Zaman akan terus berubah.
Siklus akan terus berulang.
Namun yang selalu menjadi penentu adalah:
manusia yang hidup di dalamnya
Ranggawarsita telah menulis.
Jayabaya telah mengingatkan.
Pertanyaannya tinggal satu:
👉 apakah kita hanya membaca, atau mulai memahami?
Penulis:
Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol

