BBM : Bikin Bingung Masyarakat
Prof. Sudarsono Soedomo
*BBM: Bikin Bingung Masyarakat*
--Sudarsono Soedomo—
Saya sedang duduk di teras, menyeruput kopi yang rasanya makin pahit—bukan karena robusta atau arabika, tapi karena dicampur realitas nasional tanpa gula. Di layar televisi, seorang pejabat negara tampil dengan wajah setenang danau, bahkan lebih tenang dari dompet rakyat sebelum tanggal tua. Beliau menjelaskan soal BBM.
Intinya begini:
_"Tenang saja. Kalau Selat Hormuz ditutup akibat konflik Iran vs Amerika-Israel, Indonesia aman. Kita tidak beli minyak dari sana. Kita belinya dari Singapura dan Malaysia dalam bentuk minyak jadi."_ Saya tidak hanya tersedak. Saya sempat mempertimbangkan pensiun dari logika.
Bayangkan: Anda lapar, beli nasi goreng. Abang penjual berkata,
_"Tenang, nasi goreng saya tidak terpengaruh gagal panen. Saya tidak beli beras dari petani, saya beli dari distributor."_ Masalahnya: distributornya beli dari petani yang gagal panen tadi.
Logika ini bukan sekadar muter. Ini sudah seperti odol dipencet dari tengah: keluar, tapi arah pikirannya tidak jelas. Singapura dan Malaysia itu ibarat Abang penjual nasgor versi internasional. Kilangnya canggih, teknologinya mutakhir, tapi bahan bakunya tetap dari minyak mentah global—yang salah satu jalur utamanya lewat Selat Hormuz.
Jadi kalau Selat Hormuz ditutup, itu bukan sekadar “jalan tikus macet.” Itu seperti dapur restoran tutup karena gasnya habis. Mau masak pakai semangat? Atau mungkin kita sudah masuk fase baru: *refining by optimism*. Minyak mentah tidak perlu ada, yang penting niatnya murni.
Lalu saya merenung, sambil mengaduk kopi yang sudah tidak dapat diselamatkan, seperti argumen tadi. Mungkin ini bukan sekadar salah logika. Ini fenomena yang lebih dalam. Lebih filosofis. Lebih … elastis. Saya pun merumuskan teori baru:
*Teori Migrasi Otot ke Otak yang Berhenti di Urat Malu karena Kelelahan Eksistensial.*
Dulu, nenek moyang kita kerja pakai otot. Angkat batu, bangun candi, buka hutan. Berat, tapi jelas: kalau tidak diangkat, ya tidak jadi.
Lalu kita ingin naik kelas: kerja otak. Analisis, data, sebab-akibat. Paham bahwa harga minyak itu global, bukan lokal seperti harga gorengan di depan gang.
Namun, dalam perjalanan sejarah, terjadi kemacetan epistemologis. Otot sudah pensiun dini. Otak masih dalam proses onboarding. Akhirnya, yang aktif justru satu organ yang selama ini diremehkan dunia medis: *Urat malu.*
Urat malu ini luar biasa. Elastisitasnya melebihi karet gelang proyek. Dapat ditarik sampai logika terlihat masuk akal, padahal sebenarnya sudah minta ampun.
Ketika seseorang berkata, _"Kita aman karena beli dari perantara,"_ padahal perantaranya juga bergantung pada sumber yang sama— itu bukan kesalahan. Itu prestasi. Prestasi dalam cabang olahraga baru:
*Senam Logika Artistik dengan Alat Urat Malu.* Nilainya tinggi. Terutama kalau dilakukan tanpa berkeringat.
Saya jadi kasihan pada otak. Dia sudah dirancang dengan miliaran neuron, koneksi kompleks, bahkan dapat diajak memahami teori relativitas. Tapi di sini, tugasnya sering direduksi menjadi … pajangan interior kepala. Seperti sofa mahal yang dilapisi plastik: ada, tapi tidak boleh dipakai.
Kadang saya berpikir, mungkin otak-otak terbaik kita sudah outsourcing. Dipinjamkan ke tukang bakso yang harus menghitung margin tipis, atau ke tukang ojek yang harus memilih rute tercepat sambil menghindari razia dan mantan.
Sebenarnya tidak masalah kalau urat malu dipakai. Itu bagian dari anatomi sosial kita. Tapi masalah muncul kalau dia mengambil alih fungsi otak secara penuh.
Bayangkan kalau rakyat ikut-ikutan: _"Saya tidak telat bayar listrik, kok. Saya tidak pakai listrik dari PLN. Saya pakai dari tetangga. Kebetulan tetangga saya nyolok ke PLN."_ Kalau logika ini diterima, kita tidak butuh pembangkit listrik. Cukup butuh tetangga yang percaya diri.
Saran Kebijakan (Versi Mukidi yang Sudah Minum Dua Gelas Kopi):
1. Kerja otot tidak perlu dihapus—minimal untuk angkat galon saat krisis air, atau angkat beban janji.
2. Kerja otak perlu segera diaktifkan—minimal sebelum konferensi pers, bukan setelah trending di media sosial.
3. Urat malu perlu dikalibrasi—jangan terlalu lentur, nanti melilit leher logika sendiri.
Semoga suatu hari kita benar-benar sampai pada fase “Kerja Otak.” Di mana pejabat berbicara berdasarkan data, bukan berdasarkan harapan yang dimasak setengah matang lalu disajikan dengan garnish optimisme.
Tapi kalau belum sampai juga? Ya sudahlah. Kita minum kopi lagi. Karena setidaknya kopi jujur: pahit ya pahit. Tidak pernah bilang,
_"Saya tidak pahit kok, saya cuma lewat perantara gula yang belum datang."_
Jangan-jangan … kopi juga nanti beli dari tetangga yang kebetulan nyambung ke kafe? _Salam hangat dari Mukidi, yang masih percaya bahwa otak itu ada—meski saat ini statusnya mungkin sedang WFH: Work From Hayalan._
(mBogor, 02042026)

