Bagaimana Hidup di Hastinapura
--Sudarsono Soedomo--
*Bagaimana Hidup di Hastinapura*
--Sudarsono Soedomo--
Pada tahun 1987, K.H. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) menulis sebuah puisi yang menjadi senjata makan tuan bagi masyarakat kita: *“Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana”*. Puisi ini lahir dari rasa muak melihat kemunafikan, di mana para penguasa berkhotbah tentang surgawi, namun bertindak setan. Jika Gus Mus membayangkan ulang puisi ini dan melemparkannya ke alam wayang, niscaya ia akan menunjuk hidung satu tokoh: Lesmana Mandrakumara, Putra Mahkota Hastinapura.
Jika Anda membayangkan Lesmana sebagai ksatria yang merenungi keindahan semesta, mohon maaf, Anda salah wayang. Bagi Anda yang lupa, Lesmana adalah anak tertua Duryudana. Lesmana adalah buah yang tidak hanya jatuh dekat pohonnya, tapi nyaris meniru bentuk akarnya. Ia adalah duplikat persis dari ayahnya: sombong, rakus, dan menempatkan hukum di bawah telapak kakinya. Jika Anda bertanya, apa hubungannya puisi Gus Mus dengan pemuda berkuncir yang mati ditusuk Abimanyu ini? Hubungannya adalah rasa frustrasi publik.
Sebagai warga jelata Hastinapura, Anda adalah "Aku" dalam puisi Gus Mus itu. Setiap pagi Anda membeli minyak tanah yang harganya naik karena pajak kerajaan, sementara di istana, Lesmana mengadakan pesta pora dengan harta hasil rampasan. Di pasar, Anda ditegur petugas keamanan karena salah potong rambut, sementara di pendopo agung, Lesmana dan pamannya, Sengkuni, menyusun strategi penipuan dagang-dagang.
Dan jangan lupakan kaum "cendekiawan" istana. Gus Mus pasti akan garuk-garuk kepala melihat para berkelung jubah keilmuan ini. Mengaku berpikir kritis, tetapi hobinya ternyata cuma mem-_forward_ narasi busuk dari pendopo. Di Hastinapura, para resi dan penasehat kerajaan ini tak sibuk merumuskan keadilan, melainkan sibuk menjadi terompet Sengkuni. Mereka mempercantik kebohongan dengan bahasa sanskerta, memintal dalil agama untuk membenarkan kediktatoran Duryudana, dan menjual narasi bahwa kezaliman itu adalah _dharma_ terselubung. Saat rakyat berteriak minta keadilan, mereka hanya menyalin ulang titah kerajaan tanpa pernah menelaahnya. Ini bentuk kemunafikan paling malas: otak yang dipakai bukan untuk menalar, melainkan sekadar mesin fotokopi bagi para penindas.
Di sinilah puisi "Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana" menampar wajah realitas Hastinapura. Penguasa menuntut rakyatnya jujur dan patuh, sementara Lesmana memberi teladan kezaliman paling koplak. Anda sebagai warga negara dihadapkan pada kebingungan eksistensial: Kau ini bagaimana, Lesmana? Dan para cendekiawan yang mengaku pintar tapi hanya jadi penganter wacana istana, kalian ini bagaimana?
Lalu, pertanyaan pamungkas datang dari Gus Mus: “Atau aku harus bagaimana?” Ini adalah pertanyaan yang harus Anda—sebagai warga Hastinapura—jawab setiap hari.
Melihat kelakuan Lesmana dan para pengekor istana, wajar jika Anda tergoda untuk ikut-ikutan menjadi nakal. _“Ah, pangeran saja curang, kenapa saya harus bayar pajak?”_ begitu godaan dalam hati. “Jika cendekiawan saja hanya _copy-paste_ kebohongan, kenapa saya harus jujur?” Ini adalah bahaya terbesar. Jika Anda ikut membusuk, maka kemenangan sesungguhnya berada di tangan Kurawa. Mereka ingin Anda berpura-pura buta, ikut menjadi becek, hingga tidak ada lagi garis pemisah antara yang benar dan salah.
Jawaban dari "Aku harus bagaimana" adalah: bertahan menjadi bodoh yang jujur di tengah orang-orang pintar yang licik. Kehidupan di Hastinapura memang teatrikal. Anda harus pandai-pandai mengangguk saat para menteri berorasi tentang keadilan, sambil diam-diam mengunci pintu gudang agar tidak dimasuki tentara kerajaan. Katanya beras melimpah, tetapi harganya semakin tidak ramah. Harga BBM dapat dipertahankan, hanya antraiannya saja yang semakin mengular. Anda harus tersenyum saat Lesmana Mandrakumara lewat dengan kereta kencananya, sambil berbisik dalam hati: "Tunggu saja di Kurukshetra nanti."
Gus Mus mengajarkan kita untuk tidak menyerah pada keadaan, meskipun lingkungan sudah membuat kita ingin mencakar tembok. Jangan biarkan kemunafikan Lesmana dan kemalasan nalar cendekiawan istana merusak akal sehat Anda. Teruslah mencari nafkah dengan cara lurus. Berdaganglah dengan timbangan yang pas. Jangan jadi Sengkuni kecil di pasar, apalagi menjadi "cendekiawan" yang otaknya disewa oleh Sengkuni, atau yang lebih lucu menjadi “cendekiawan penjaja koran”.
Lesmana Mandrakumara akhirnya tewas dalam perang Bharatayudha di medan Kurushetra, ditusuk Abimanyu. Para cendekiawan istana pun gugur atau berpindah haluan mencari ampun. Kemunafikan dan kesombongan itu pada akhirnya digagahi oleh kebenaran. Pada saat itulah, puisi Gus Mus menemukan titik terangnya. Kau (Lesmana, rezimnya, dan pemaju narasinya) pada akhirnya akan binasa oleh kebusukanmu sendiri. Dan aku? Aku cukup bertahan, tidak ikut menjadi busuk, dan menyaksikan sejarah memutar rodanya.
Hidup di Hastinapura memang butuh kesabaran tingkat dewa. Tapi selama Anda tahu di mana harus berpijak dan tidak tergoda meniru kelakuan istana, Anda akan selamat. Mungkin tidak kaya raya, tapi setidaknya dapat tidur nyenyak tanpa takut bayangan Abimanyu mengetuk pintu.
(mBogor, 14092026)

