Mikul Duwur, Mendem Jero” Ala Cina
--Sudarsono Soedomo--
*“Mikul Duwur, Mendem Jero” Ala Cina*
--Sudarsono Soedomo--
Ada ungkapan Jawa yang dahulu terdengar biasa saja: _mikul duwur, mendem jero_. Menghormati jasa orang yang lebih dahulu berjalan, sambil menyimpan dalam-dalam aib dan kekurangannya.
Belakangan ungkapan semacam itu sering dianggap kuno. Bahkan kadang menjadi bahan cemoohan. Di zaman ketika membongkar kesalahan orang lain dapat menjadi prestasi tersendiri, _mikul duwur, mendem jero_ terdengar seperti ajaran untuk menutupi kesalahan.
Barangkali kita perlu belajar kepada Cina. Bukan karena Cina selalu benar. Justru karena Cina pernah membuat kesalahan yang luar biasa besar, tetapi kemudian mampu memperbaiki diri tanpa menghancurkan orang yang dianggap sebagai pendiri negaranya.
Tiga nama penting dalam cerita itu adalah Mao Zedong, Zhou Enlai, dan Deng Xiaoping.
Mao adalah tokoh yang membawa Partai Komunis memenangkan perang saudara dan mendirikan Republik Rakyat Cina pada 1949. Di bawah kepemimpinannya, Cina membangun fondasi industrialisasi, pendidikan, pemerintahan nasional, dan pertahanan. Tetapi Mao juga memimpin kebijakan-kebijakan yang menimbulkan bencana besar, terutama Great Leap Forward dan Cultural Revolution.
Zhou Enlai berada di sisi Mao hampir sepanjang perjalanan itu. Ia adalah administrator, diplomat, dan perdana menteri yang menjaga mesin negara tetap berjalan dalam keadaan politik yang sering sangat bergejolak. Pada 1975, Zhou kembali menegaskan gagasan _Four Modernizations_: modernisasi pertanian, industri, pertahanan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Gagasan itu kemudian menjadi salah satu landasan pembangunan Cina.
Deng Xiaoping adalah generasi yang sama, tetapi kemudian menjadi orang yang mengubah cara Cina bekerja. Ia tidak membuang negara yang dibangun Mao. Ia juga tidak mengatakan bahwa seluruh masa lalu Cina adalah kesalahan.
Justru di sinilah kebesaran sikap politik Deng terlihat. Pada awal 1980-an, ketika Partai menyusun penilaian resmi terhadap sejarahnya, Deng menolak dua ekstrem. Mao tidak boleh dipuja sebagai manusia yang tidak pernah salah. Tetapi Mao juga tidak boleh dihancurkan sebagai sumber segala kesalahan.
Deng bahkan mengatakan bahwa jika kesalahan Mao dibesar-besarkan, akibatnya bukan hanya mendiskreditkan Mao, melainkan dapat berarti mendiskreditkan Partai dan negara. Ia juga menegaskan bahwa kesalahan masa lalu tidak seluruhnya merupakan kesalahan seorang individu; pimpinan kolektif juga harus memikul tanggung jawab.
Inilah yang menarik. Deng mengoreksi Mao tanpa menghancurkan Mao. Ia mengubah kebijakan tanpa menghancurkan legitimasi sejarah. Ia membuka ruang bagi pasar, teknologi, investasi, dan dunia luar tanpa mengatakan bahwa semua yang dilakukan generasi sebelumnya harus dibuang ke tong sampah sejarah. Bahkan Deng sendiri mengingatkan bahwa tujuan _Four Modernizations_ sebenarnya telah ditetapkan Mao dan Zhou.
Dalam perdebatan mengenai penilaian Mao, kemudian populer angka *70 persen jasa dan 30 persen kesalahan*. Angka itu sebenarnya lebih rumit daripada sekadar matematika kehidupan seseorang. Namun semangatnya jelas: *jangan menilai manusia dengan logika hitam-putih*.
Bayangkan kalau setiap orang yang pernah melakukan kesalahan harus dinyatakan seluruh hidupnya salah. Kalau prinsip itu diterapkan kepada manusia, mungkin kita semua harus masuk museum sebagai contoh kegagalan. Termasuk penulis esai ini. Bedanya, kesalahan saya belum pernah membuat 700 juta orang keluar dari kemiskinan.
Maka pembangunan Cina tidak dimulai pada hari Deng menemukan resep ekonomi baru. Ia dimulai dari sesuatu yang lebih mendasar: *kemampuan sebuah kepemimpinan untuk menjaga kesinambungan sambil melakukan koreksi*. Teknologi kemudian masuk. Pasar kemudian diberi ruang. Investasi asing kemudian dimanfaatkan. Ilmu pengetahuan dikembangkan. Tetapi semuanya membutuhkan negara yang stabil, tujuan yang jelas, dan kepemimpinan yang tidak sibuk membakar rumah sendiri hanya karena menemukan bahwa tukang batu generasi sebelumnya pernah salah memasang genteng.
Di sinilah _mikul duwur, mendem jero_ menjadi menarik, meski agak malang nasibnya. _Mikul duwur_ tidak berarti mengatakan bahwa leluhur selalu benar. _Mendem jero_ tidak berarti menyembunyikan fakta. Yang dipikul tinggi adalah jasanya. Yang dikubur dalam-dalam adalah dendamnya. Kesalahannya tetap dipelajari.
Ini persis semangat yang terlihat dalam penilaian Deng terhadap Mao. Mao dinilai mempunyai jasa yang sangat besar sekaligus melakukan kesalahan serius. Resolusi 1981 tetap mempertahankan Mao Zedong Thought sebagai bagian penting dari warisan politik Partai, sementara _Cultural Revolution_ dinilai sebagai kesalahan besar. Tujuannya bukan menghidupkan kembali pertengkaran masa lalu, melainkan menyatukan pikiran dan mengarahkan tenaga kepada masa depan.
Di sini kita barangkali menemukan sesuatu yang sering dilupakan oleh para teknokrat. Pembangunan bukan pertama-tama persoalan teknologi. Teknologi adalah alat. Pasar adalah alat. Birokrasi adalah alat. Bahkan modal adalah alat. Yang lebih dahulu menentukan adalah *bagaimana manusia yang memegang kekuasaan memperlakukan sejarah, perbedaan pendapat, dan orang-orang yang datang sebelum mereka*.
Sebuah bangsa yang setiap pergantian pemimpin selalu merasa perlu menghina pendahulunya akan sulit membangun kesinambungan. Setiap generasi akan sibuk membongkar pekerjaan generasi sebelumnya. Gedungnya mungkin berganti desain, tetapi fondasinya tidak pernah selesai.
Cina memilih jalan lain. Mao membangun fondasi negara. Zhou menjaganya tetap berdiri. Deng memperbaiki cara negara itu bekerja. Mereka bukan manusia tanpa kesalahan. Justru karena mereka manusia, sejarah mereka penuh keberhasilan, kegagalan, konflik, dan paradoks. Tetapi ada satu hal yang patut direnungkan. Deng tidak membutuhkan Mao menjadi manusia sempurna untuk menjadikan Mao sebagai bagian penting dari sejarah Cina.
Barangkali itulah makna politik paling dalam dari mikul duwur, mendem jero. *Kita tidak harus menganggap orang tua kita selalu benar untuk tetap menghormati mereka*. Dan sebuah bangsa tidak harus menganggap pendirinya tanpa dosa untuk mengakui bahwa tanpa mereka, mungkin bangsa itu tidak akan sampai ke tempat ia berdiri sekarang.
Para teknokrat mungkin kemudian bertanya: berapa investasi yang diperlukan? Berapa tingkat pertumbuhan? Berapa produktivitas tenaga kerja? Berapa banyak teknologi yang harus dikuasai? Semua pertanyaan itu penting. Tetapi sebelum semuanya, mungkin ada satu pertanyaan yang lebih sederhana: *Apakah kita cukup dewasa untuk memperbaiki kesalahan pendahulu tanpa terlebih dahulu menghancurkan kehormatannya?*
Cina memberi kita contoh yang layak dipelajari. Bukan karena Mao selalu benar. Bukan karena Zhou selalu berhasil. Bukan pula karena Deng selalu benar. Melainkan karena mereka, dalam konteks sejarahnya masing-masing, memperlihatkan bahwa *membangun bangsa membutuhkan kemampuan untuk menghormati masa lalu tanpa menjadi tawanan masa lalu*.
Dan mungkin, setelah melihat Cina, kita perlu memandang kembali ungkapan Jawa yang sekarang sering ditertawakan itu. _Mikul duwur, mendem jero._ Barangkali ia bukan ajaran untuk menjadi pengecut. Barangkali ia adalah ajaran agar sebuah bangsa *tidak kehilangan ingatan, tetapi juga tidak kehilangan masa depan*.
(mBogor, 15092026)

