SAUDI DI UJUNG JURANG : Ansarullah (Houthi), Transaksi Trump, dan Runtuhnya Hegemoni Teluk (Mangesti Waluyo Sedjati)

SAUDI DI UJUNG JURANG :

Ansarullah (Houthi), Transaksi Trump, dan Runtuhnya Hegemoni Teluk

(Mangesti Waluyo Sedjati)







*SAUDI DI UJUNG JURANG*

*Ansarullah (Houthi), Transaksi Trump, dan Runtuhnya Hegemoni Teluk*


✍️ _Mangesti Waluyo Sedjati_

📍 Sidoarjo, 18 September 2026



‎*بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ*


_Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh._


*_Bapak, Ibu, dan Sahabat yang saya hormati_,*


Hari Kamis, 17 September 2026. Langit Yaman kembali membara. Angkatan Bersenjata Yaman menembak jatuh sejumlah *drone milik Saudi* buatan Tiongkok, Turki, Amerika, dan Eropa. Sehari sebelumnya, satu *F-15 Saudi* jatuh. *Wall Street Journal* sendiri sudah mengakui: sistem pertahanan udara *Ansarullah* semakin canggih dan mematikan.


Saudi masih mencoba memukul dari utara. Pangkalan udara di Abha diserang balasan. Di selatan dan timur, pasukan pro-Saudi berusaha maju. Tapi realitas sudah bergeser. *Ansarullah tidak lagi bertahan.* Mereka menyerang, menguasai, dan semakin dipercaya rakyat Yaman.


Ini bukan sekadar eskalasi. Ini pernyataan keras: perang proxy hampir *dua belas tahun* tidak lagi berjalan sesuai skenario Riyadh dan Washington. Saudi yang dulu unggul dengan superioritas udara kini menghadapi kenyataan pahit. *Kekuatan udara saja tidak cukup.*


Patrick Henningsen menyebut ini *krisis strategis*. Bukan hanya karena kehilangan drone dan jet, tetapi karena seluruh konstruksi “pasukan pemerintah Yaman yang diakui internasional” ternyata *harimau kertas*. Mereka tentara bayaran, dulu dari Sudan, sekarang siapa saja yang mau dibayar 500 dolar sebulan. Ketika tekanan datang, mereka kabur. Senjata tertinggal. Sebagian jatuh ke Ansarullah.


Ansarullah justru semakin kuat. Bukan hanya militer, tapi juga popularitas. Dukungan rakyat Yaman, dukungan regional, bahkan dukungan *Ummah* terus tumbuh. Bagi Saudi dan Teluk, ini bukan lagi ancaman dari Iran semata. Ini *ancaman eksistensial* yang lebih dekat dan lebih dalam.


Konflik dimulai Maret 2015. Saudi, didukung UAE, Amerika, Inggris, Prancis, dan Israel, melancarkan intervensi. Tujuannya menghancurkan Ansarullah (yang Barat sebut “Houthi”) dan mengembalikan pemerintahan boneka.


Ini *perang proxy klasik*. Obama sudah menerapkan “offshore balancing” biarkan mitra lokal yang mengerjakan pekerjaan kotor, Washington hanya menyediakan senjata, intelijen, dan koordinasi. Saudi menjadi pelaksana utama.


Tapi realitas di lapangan selalu berbeda. Siapa yang menguasai *Sanaa* dan wilayah berpenduduk mayoritas? *Ansarullah.* Pemerintah di Aden hanyalah konstruksi propaganda. Tidak punya legitimasi, tidak punya kekuatan mandiri.


Gencatan senjata sempat terjadi setelah Ansarullah menyerang fasilitas *Aramco*. Truce bertahan hingga lebih dari sebulan lalu. Atas desakan Washington, Saudi menyerang Bandara Sanaa. Ansarullah menjawab keras dan mulai menguasai posisi strategis dekat *Selat Bab al-Mandab*.


Saudi panik. Mereka minta paket serangan udara dari Amerika. *Bantuan itu ditolak.*


Di sinilah ironinya. Amerika yang selama bertahun-tahun menopang perang ini kini menjaga jarak. Bukan karena damai, melainkan karena ada *perhitungan transaksi*. Trump sedang bermain kartu. Saudi diminta kembali ke jalur *Abraham Accords*. Normalisasi dengan Israel. Tekanan maksimal diterapkan. Ansarullah untuk sementara “dilepas tali” terhadap Saudi.


Dua belas tahun perang. Puluhan ribu nyawa. Hasilnya? Saudi semakin terjebak dalam dilema eksistensial, Ansarullah semakin solid. Perjanjian Taiz 1934 dan Jeddah 2000 yang mengatur *Najran, Jizan, dan Asir* kini dipertanyakan ulang.


Saudi tidak punya kekuatan darat yang memadai. UAE sudah menarik diri. Amerika menolak terlibat langsung. Yang tersisa hanyalah serangan udara berulang sebagai pertunjukan kekuatan yang semakin kosong.


Ini bukan lagi perang untuk “mengembalikan pemerintahan sah”. Ini perang untuk mempertahankan *sisa-sisa hegemoni Teluk*.


Di media Barat mereka masih disebut “pasukan pemerintah Yaman”. Nama indah itu sengaja dibuat agar publik tidak bertanya terlalu dalam.


Patrick Henningsen membongkar tipu daya ini. Pasukan itu *harimau kertas*. Sumber daya tentara bayaran Sudan sudah habis. Sekarang hanya praktik murahan: bagikan seragam kepada siapa saja yang mau dibayar murah. Tidak ada ideologi. Hanya uang.


Ketika Ansarullah menekan, mereka kabur. UAE meninggalkan gudang senjata. Sebagian jatuh ke Ansarullah. Hasilnya jelas: Ansarullah semakin kuat, “pemerintah” boneka semakin lemah.


Lebih berbahaya: Ansarullah mendapat dukungan rakyat, dukungan regional, bahkan dukungan *Ummah*. Saudi dan Teluk panik. Ancaman ini terasa lebih *eksistensial* daripada Iran. Karena ini ancaman dari tetangga yang merasa wilayah kaya energi pernah dirampas.


Ansarullah membuktikan satu hal menyakitkan: perang udara dua belas tahun *gagal total*. Saudi hanya punya satu kartu serangan udara dan terus mengulanginya. Empat puluh lebih serangan dalam beberapa hari terakhir hanyalah pertunjukan kosong. Di lapangan, *Ansarullah terus maju*.


Sejarah perseteruan ini jauh lebih tua dari 2015. Sejak kerajaan Saudi berdiri, konflik sudah ada. Perjanjian lama hanya bertahan selama ada pemerintahan di Sanaa yang patuh  Saleh, lalu Mansur Hadi.


Mansur Hadi sudah dua kali mengundurkan diri, tapi tetap dianggap “presiden sah” versi *Juan Guaidó*-nya Yaman. Ilusi itu kini retak.


Wilayah sengketa itu kaya energi. Kehilangan kontrol atasnya adalah ancaman langsung terhadap fondasi kerajaan. Saudi tidak punya pasukan darat yang sesungguhnya. Mereka hanya bisa menyewa orang. Dan sumber daya itu sudah kering.


Lebih dalam: Saudi Arabia *bukan negara dalam pengertian peradaban* seperti Mesir, Iran, atau Yaman historis. Ia emirat yang dinamai menurut satu keluarga. Ditopang Inggris, lalu Amerika. Mereka hanya berguna selama tetap patuh pada petrodolar, proyek Greater Israel, dan agenda Barat.


Begitu tidak berguna, mereka bisa diganti dalam seminggu. *Coup.* Selesai. Keluarga kerajaan kabur ke London atau Paris. Itu realitas yang dipahami Patrick dengan sangat jelas.


Saudi sedang bermain api. Mereka harus *double down*. Tapi setiap kegagalan justru mengikis legitimasi mereka. Ansarullah memandang Saudi sebagai *perampas* ciptaan kolonial Barat yang mengklaim diri penjaga Mekkah dan Madinah.


Ini dilema historis. Bukan sekadar kalah perang. Melainkan mempertaruhkan *kelangsungan rezim itu sendiri*.


Hubungan Amerika–Saudi sekarang adalah titik paling krusial. Saudi minta paket serangan udara. Jawaban Washington: *ditolak*.


Patrick membaca pola khas Trump: *transaksi*. Ada laporan pejabat Amerika bertemu mediator Ansarullah di Muscat. Kesepakatannya: Ansarullah tidak menyerang kapal Amerika dan Israel di Laut Merah, tapi tetap bebas menyerang kapal dan infrastruktur energi Saudi.


Jika laporan itu bahkan hanya setengah benar, semuanya masuk akal. Trump tidak menolong Saudi karena ada perhitungan lebih besar. Amerika menekan Saudi agar kembali ke *Abraham Accords*.


Posisi resmi Saudi jelas: tidak ada normalisasi tanpa negara Palestina. Tapi bagi Trump dan lobi Israel, pernyataan itu tidak bisa dibiarkan. Maka Ansarullah “dilepas tali”. Saudi dibiarkan terbakar dulu.


Ini bukan posisi permanen. Ini posisi tengah menuju transaksi lebih besar. Jika Saudi masuk kembali ke Abraham Accords, negara Teluk lain yang goyah juga akan ikut. *Saudi adalah hadiah terbesar*.


Amerika rela mengorbankan keamanan Saudi dalam jangka pendek. Lobi Israel senang. Wall Street senang dengan volatilitas. Lingkaran dalam Trump juga senang.


Saudi sedang dijepit. Di satu sisi Ansarullah. Di sisi lain Amerika. *Tidak ada jalan keluar yang mudah.*


Ketika Saudi kesulitan mengekspor minyak - bahkan ada peringatan pasokan ke Eropa bisa tertunda hingga November - siapa diuntungkan?


*Amerika. Jelas.*


Amerika sudah belajar memanfaatkan kerusakan pasokan energi global. Harga di pasar berjangka bisa 108 dolar per barel, sementara harga fisik berbeda. Gap itu mulai menyempit ke arah lebih mahal.


Di Amerika, solar sudah di atas 6 dolar per galon. Bensin rata-rata 4,70–4,80 dolar. Situasi hanya akan lebih buruk menjelang Natal. Perang dagang dengan Kanada memperburuk keadaan.


Untuk Eropa lebih kejam. Setelah Nord Stream, Amerika punya *monopoli efektif* atas impor energi. Mereka tidak peduli warga Eropa akan kedinginan musim dingin ini.


Saudi yang kesulitan mengekspor justru memberi leverage tambahan. Amerika bisa tawarkan bailout atau bridge finance. Saudi yang sudah 100 persen tergantung dolar, senjata, dan teknisi Amerika, kini semakin tergantung secara finansial.


Trump melihat ini sebagai peluang. Mereka akan memeras sisa-sisa “madu” dari Semenanjung Arab. Saudi harus patuh lebih dalam: beli obligasi Amerika, dukung Israel, tetap di sistem petrodolar.


Krisis energi ini *bukan kecelakaan*. Ini bagian dari perhitungan.


Ada puisi Persia yang diingat Nima: belum pernah melihat negeri membunuh dirinya sendiri seperti yang dilakukan Saudi. Dan itu tepat.


Saudi tahu mereka kesulitan mengekspor. Tahu pemulihan 30–50 persen saja sudah sulit. Tapi terus melanjutkan perang. Setiap hari ketergantungan pada Amerika semakin dalam.


Saudi Arabia *bukan negara peradaban*. Ia emirat satu keluarga. Ditopang Inggris lalu Amerika. Hanya berguna selama mengalirkan petrodolar dan menjadi proxy militer.


Begitu tidak berguna, bisa diganti dalam seminggu. *Coup.* Keluarga kerajaan kabur. Itu bukan teori. Itu mekanisme yang dipahami semua pihak di kawasan.


Saudi sedang bermain api eksistensial. Mereka mengklaim Ansarullah menyerang Mekkah - narasi yang terdengar seperti delusi. Mereka butuh menjadi korban. Padahal merekalah agresornya.


Neom dan The Line adalah enklave modern dengan pendingin udara raksasa di tengah gurun. Bukan peradaban. Jika kotak petrodolar dan proxy militer tidak tercentang, keluarga ini selesai.


Saudi mencoba mencari bantuan. Meminta Pakistan dan Turki. Menghidupkan “Aliansi Mekkah”. Bahkan mengklaim serangan drone dekat Mekkah.


Respons Pakistan? *Hampir nol.* Militer Pakistan modern dan strategis. Mereka tidak akan masuk perang Saudi–Yaman hanya karena uang yang selama ini mengalir deras.


Uang itu besar. Dua dekade Saudi menyuntik dana ke media, masjid, dan bisnis di Pakistan. Tapi ketika kas mengencang, pengaruh ikut surut. Pakistan bahkan tidak mampu memenuhi permintaan *interceptor*.


Turki tidak bergerak. Prancis dan Inggris terbatas. Saudi kehabisan rudal interceptor. Silo kosong.


Mesir punya hutang sejarah karena kudeta yang dibiayai Saudi dan UAE. Tapi Mesir sekarang sangat rentan, terjerat IMF. Jika terlalu aktif membantu, risiko retaliasi di *Terusan Suez* nyata. Mesir akan berhati-hati.


Saudi semakin sendiri. *Aliansi Mekkah gagal* pada ujian pertama. Konstruksi kekuasaan yang dibangun di atas uang minyak dan perlindungan Amerika semakin terlihat rapuh.


Jika ini berlanjut, yang dipertaruhkan bukan hanya Saudi. Seluruh arsitektur Teluk goyah.


Bahrain paling rapuh. Mayoritas Syiah, keluarga kerajaan minoritas yang bertahan hanya karena Saudi. Jika Saudi melemah, Bahrain ikut terancam. Jika pangkalan Armada Kelima Amerika semakin rentan, motivasi Washington melindungi mereka akan hilang.


Kuwait praktis negara Amerika. Tapi jika posisi militer di sana tidak lagi berguna, mengapa mempertahankan? Irak dengan PMF secara teoritis bisa memanfaatkan kekosongan. Bayangkan pasukan Syiah Irak masuk Kuwait tanpa perlawanan berarti. Itu *puncak simbolik* keruntuhan pengaruh Amerika di Asia Barat.


Patrick menyebut kemungkinan rangkaian domino dalam satu-dua tahun. Batas negara di kawasan ini artifisial. Hanya bertahan selama ada hegemoni Amerika. Begitu retak, semua masalah bisa meledak sekaligus.


Qatar punya aliansi lebih kuat dengan Turki. UAE harus khawatir. Jika Yaman berhasil mengirim pesan bahwa Saudi bisa digoyang, pelabuhan alternatif UAE juga bisa jadi target.


Iran, Irak, dan Yaman akan keluar sebagai pemenang. *Peta regional bisa berubah secara fundamental.*


Trump dijadwalkan bertemu pemimpin Teluk di sela-sela Sidang Umum PBB. Diklaim bisa membentuk fase berikutnya perang Iran.


Patrick membaca jelas: jangan harapkan penyelesaian tulus dengan Iran di bawah Trump. *Bukan sekarang.*


Kartu yang tersisa hanya ekonomi. Trump akan menenangkan: “Kalian aman selama bermain bola dengan Washington dan Israel.” Janji interceptor mungkin ada. Tapi jangan harapkan F-35 datang menyelamatkan. *Itu tidak akan terjadi.*


Yang terjadi adalah tekanan ekonomi lebih dalam. Saudi digiring ke sudut: beli obligasi Amerika, dukung Israel, tetap di petrodolar.


Sementara Ansarullah terus memperkuat posisi. *Bab al-Mandab* semakin dalam pengaruh mereka. Djibouti rentan. Amerika bermain hati-hati justru karena alasan ini.


Ini pilihan yang disadari. Amerika dan lobi Israel menerima konsekuensi negatif demi leverage atas Saudi dan volatilitas pasar.


Saudi berdiri di *ujung jurang*. Setiap langkah justru mempercepat erosi kekuasaan mereka. Ansarullah, lahir dari tanah Yaman yang bersejarah sebagai buaian peradaban, sedang menulis ulang persamaan kekuatan di Asia Barat.


Tanda-tandanya sudah sangat jelas. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, *inisiatif tidak lagi sepenuhnya di tangan Riyadh atau Washington*.


*Inisiatif sedang berpindah.*

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama