AJENGAN
*🌹 AJENGAN 🌹*
Istilah *Ajengan* merujuk pada sebutan khas masyarakat Sunda (Jawa Barat) untuk *ulama* atau *Kyai* yang memimpin pesantren dan memiliki kedalaman ilmu agama. Di masa lalu (tempo doeloe), tanah Pasundan melahirkan banyak sekali sosok Ajengan kharismatik yang tidak hanya dihormati karena keilmuannya, tetapi juga pengaruh sosial dan perjuangan mereka.
Berikut adalah beberapa sosok Ajengan tempo doeloe yang paling kharismatik dan melegenda di Jawa Barat:
1. *Mama Ajengan KH. Ahmad Syatibi (Mama Gentur) – Cianjur*
Beliau dikenal sebagai "gurunya para ajengan di Jawa Barat". Berpusat di Pesantren Gentur, Cianjur, kharisma Mama Gentur sangat luar biasa sehingga hampir sebagian besar ulama dan pimpinan pesantren besar di tanah Sunda pada abad ke-20 merupakan murid langsung atau tidak langsung dari beliau. Beliau sangat dihormati karena kedalaman ilmu fikih, alat (nahwu-sharaf), dan ketasawufannya.
2. *KH. Choer Affandi (Uwa Ajengan) – Tasikmalaya.*
Lahir pada tahun 1923, beliau adalah pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, Tasikmalaya. Disebut Uwa Ajengan karena menjadi figur pengayom umat. Sebelum fokus mengajar secara damai di pesantren, beliau memiliki sejarah perjuangan yang panjang, termasuk menjadi salah satu tokoh penting pergerakan di masa pergolakan kemerdekaan dan pasca-kemerdekaan. Kharismanya melahirkan ribuan santri dan puluhan cabang pesantren di berbagai daerah.
3. *KH. Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom) – Tasikmalaya.*
Beliau adalah pemimpin Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya. Kharisma Abah Anom melintasi batas negara sebagai Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN). Beliau sangat dikagumi karena pendekatan dakwahnya yang santun, sejuk, dan metodenya yang terkenal dalam menyembuhkan para pecandu narkoba melalui metode zikir dan pemulihan spiritual (Inabah).
4. *Mama Ajengan KH. Abdullah bin Nuh – Bogor & Cianjur.*
Seorang ulama, sastrawan, dan pejuang kemerdekaan. Pemikiran dan karismanya tidak hanya diakui di Jawa Barat, tetapi hingga ke Timur Tengah. Beliau menguasai bahasa Arab dengan sangat fasih dan menulis banyak kitab. Di Bogor, beliau mendirikan Pesantren Al-Ghazaly dan dikenal sebagai tokoh yang berwibawa, cerdas, namun sangat bersahaja.
5. *"Haji Hasan Mustapa – Bandung.*
Hidup di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, beliau adalah Hoofdpanghulu (Kepala Penghulu) Bandung yang sangat legendaris. Selain ulama, beliau merupakan seorang pujangga besar Sunda yang karya-karya guguritan dan tasawufnya memiliki kedalaman spiritualitas tinggi. Kharismanya terletak pada perpaduan antara keilmuan Islam dan kearifan lokal Sunda yang sangat kental.
6. *KH. Abbas Abdul Jamil (Kiai Abbas Buntet, Cirebon)*
• Kharisma & Julukan: Dijuluki sebagai *Singa JawaBarat*
oleh Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari karena keberaniannya yang luar biasa dan penguasaan ilmu kanuragan (bela diri) serta spiritual yang tinggi. Beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren Buntet Cirebon.
• Peran Legendaris di Pertempuran 10 November: Saat Resolusi Jihad dikumandangkan, KH. Hasyim Asy'ari menahan pasukan santri untuk tidak menyerbu Surabaya terlebih dahulu sebelum Kyai Abbas Buntet tiba. Beliau ditunjuk menjadi salah satu komandan spiritual utama dalam pertempuran berdarah melawan Sekutu di Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Banyak kisah tutur (manaqib) yang menceritakan karomah beliau saat merontokkan pesawat Sekutu hanya dengan sorban dan butiran tasbih.
• Kedalaman Ilmu: Selain ahli strategi perang, ia adalah ulama multidisiplin yang menguasai ilmu Qiraat Al-Qur'an tingkat tinggi, ahli fiqih, serta menjadi Mursyid Tarekat Syathariyah dan Muqaddam Tarekat Tijaniyah.
7. *KH. Tubagus Muhammad Falak bin Abbas (Mama Falak / Abah Falak Bogor).*
• Kharisma & Julukan: Lebih akrab dipanggil Mama Falak Pagentongan atau Abah Falak. Lahir di Pandeglang, Banten, beliau memiliki garis keturunan (nasab) yang bersambung langsung ke Kesultanan Banten dan Sunan Gunung Jati. Kharismanya begitu besar hingga dihormati oleh seluruh kyai, habaib, dan pejabat negara lintas generasi.
• Ahli Astronomi Islam (Ilmu Falak): Gelar "Falak" disematkan langsung oleh gurunya di Makkah (Syekh Affandi Turki) karena kecerdasan luar biasanya dalam menguasai ilmu perbintangan dan penanggalan Islam (astronomi Islam/falakiyah).
• Paku Spiritual & Pencetak Ulama: Beliau bermukim di Bogor dan mendirikan Pondok Pesantren Al-Falak Pagentongan pada tahun 1878. Abah Falak merupakan seorang sufi agung yang bertindak sebagai Mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Menariknya, beliau memiliki usia yang sangat panjang (wafat dalam usia sekitar 130 tahun pada tahun 1972), menjadikannya jembatan sanad keilmuan yang sangat kokoh bagi para ulama modern.
Baik Kyai Abbas maupun Mama Falak adalah bukti nyata bagaimana ajengan tempo dulu menyeimbangkan antara kedalaman tasawuf (kesufian), benteng pertahanan fisik (kanuragan), dan nasionalisme demi kemerdekaan bangsa Indonesia.

