GOEROE & CIKGU
Dinn Wahyudin
GOEROE & CIKGU
Dinn Wahyudin
Kisah guru sesungguhnya kisah universal. Dari zaman ke zaman, rekam jejak mereka selalu menempati ruang istimewa dalam kehidupan masyarakat. Ia adalah sosok yang membawa ilmu, menuntun pikiran, sekaligus memberi teladan. Tidak mengherankan jika profesi guru sejak dahulu dipandang terhormat dan disegani. Guru dipercaya sebagai orang yang berilmu, bijaksana, dan mampu menunjukkan jalan kebajikan bagi generasi penerus.
Begitu istimewanya sosok guru, Plato, filsuf Yunani yang hidup sekitar 25 abad lalu (427–347 SM) pernah berujar, _Teachers have such power that prime ministers can only dream about it._ Guru memiliki kekuatan sedemikian rupa yang bahkan hanya dapat diimpikan oleh seorang perdana menteri.
Kekuatan itu bukan kekuasaan dalam arti jabatan. Bukan pula kekuasaan karena pangkat. Kekuatan guru terletak pada ilmu, keteladanan, dan kemampuannya membentuk cara berpikir manusia.
Goeroe zaman doeloe, sengaja ditulis dengan huruf ”oe” sebagai nostalgia, memiliki tempat khusus dalam ingatan masyarakat. Lulusan _Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers,_ sekolah pendidikan guru bagi kaum pribumi, tampil sebagai sosok yang disegani. Beberapa dekade kemudian, guru-guru muda lulusan Sekolah Guru Bagian B (SGB) hadir mendidik anak-anak pribumi di bangku Sekolah Rakyat (SR).
Saat itu, ungkapan guru sebagai “digugu dan ditiru” benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari. Guru bukan hanya tempat bertanya tentang ilmu pengetahuan. Ia juga menjadi rujukan dalam hal moral, integritas, karakter, sopan santun, bahkan perilaku sehari-hari.
Cikgu
Dalam tradisi masyarakat Melayu Malaysia, guru dipanggil 'Cikgu' . Panggilan Cikgu merupakan bentuk penghormatan kepada guru. Panggilan ini menggambarkan masyarakat Melayu yang menjunjung tinggi adab dan ilmu.
Seorang Cikgu tidak hanya sebagai penyampai ilmu pengetahuan di bilik darjah (ruang kelas). Ia juga sebagai pendidik budi pekerti. Pembimbing kehidupan, dan teladan dalam masyarakat. Penghormatan terhadap Cikgu mencerminkan falsafah masyarakat Melayu yang menempatkan ilmu dan orang berilmu pada kedudukan yang mulia. Panggilan Cikgu kerap digunakan bukan saja oleh murid kepada guru, tetapi juga oleh ibu bapa dan masyarakat kepada guru. Ungkapan keakraban sekaligus penghormatan.
Sebutan Cikgu melampaui sekadar gelar profesional. Ia merupakan simbol hubungan kemanusiaan yang berteraskan adab, kasih sayang, kepercayaan. Cikgu juga penghargaan terhadap jasa seorang pendidik.
Goeroe tempo Doeloe
Guru zaman dulu bukan hanya mengajar membaca, menulis, dan berhitung. Kehadirannya di kelas sudah cukup membuat murid mendadak duduk tegak, merapikan rambut, dan menghilangkan suara gaduh. Tongkat kecil, penggaris kayu, atau sekadar tatapan tajam sang goeroe sering lebih ampuh daripada bel sekolah.
Setelah murid muridnya dewasa, mereka sering mengenangnya dengan senyum. Dulu takut sekali kepada pak goeroe, tetapi sekarang baru terasa. Ternyata yang ditakuti bukan orangnya, melainkan kasih sayang dan cara menyampaikannya agak keras. Begitulah goeroe zaman doeloe. Ia disegani karena ilmunya, ditakuti karena wibawanya, dan ia dikenang karena jasanya.
Inspeksi Sekolah
Sistem manajemen sekolah pada masa itu antara lain dilakukan melalui sistem inspeksi. Kepala sekolah dikenal dengan istilah Mantri Goeroe. Sedangkan jabatan pengawas sekolah disebut School Opzichter, yang dalam percakapan sehari-hari sering disebut Opsiner.
Al kisah, pada suatu hari. Toean Opsiner datang ke sebuah sekolah untuk melakukan inspeksi mendadak. Kedatangannya segera membuat suasana sekolah berubah.. “Opsiner datang!”, kata pak Mantri goeroe kepada para goeroe. “Benarkah?” “Iya. Cepat, rapikan kelas!”
Guru yang sedang berbincang di ruang guru segera memperbaiki posisi duduknya. Anak-anak pun masuk kelas dengan lebih tertib. Namun, ada kejadian kecil yang kemudian menjadi cerita tersendiri.
Sebelum masuk kelas, Toean Opsiner terlebih dahulu pergi ke toilet. Ia melepas pakaian kebesarannya. Jas putih dan topi bundar khasnya diletakan di meja guru depan kelas.
Tak lama kemudian, murid-murid mulai berdatangan. Satu per satu mereka masuk. Begitu melihat jas putih dan topi bundar itu, seorang murid berbisik kepada temannya.
“Jangan macam-macam. Itu punya Opsiner.” Temannya mengangguk cepat. Ketika melewati meja, anak-anak secara spontan “membungkukkan badan”. Ada rasa hormat. Ada pula sedikit rasa takut. Padahal yang ada di depan mereka bukanlah sang Opsiner. Hanya jas dan topinya.
Bagi anak-anak sekolah pada masa itu, wibawa seorang guru, mantri goeroe dan opseners seolah melekat bahkan pada pakaian yang dikenakannya. Kisah kecil itu memperlihatkan sisi lain pendidikan pada zaman kolonial. Mereka merupakan figur yang dihormati dan ditakuti para murid.
Zaman memang berubah. Sebutan goeroe berganti menjadi guru. Mantri goeroe dan Opsiner menjadi bagian dari sejarah. Sistem inspeksi berkembang menjadi supervisi akademik dan manajemen sekolah.
Pendidikan guru pun bergerak dari Kweekschool, SGB, SPG, hingga saat sekarang ini Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Ada satu hal yang tetap bertahan. Masyarakat membutuhkan sosok yang tidak hanya pandai mengajar, tetapi juga layak diteladani. Joeragan goeroe hingga guru profesional tetap dibutuhkan.
Perjalanan pendidikan guru bukan hanya perjalanan tentang sekolah. Ia merupakan perjalanan tentang bagaimana sebuah bangsa memuliakan ilmu, mendidik manusia, dan menyiapkan masa depannya. _A nation that honors knowledge, educates its people, and prepares them for the future._

