𝗝𝗘𝗝𝗔𝗞 𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗧𝗔𝗞 𝗣𝗘𝗥𝗡𝗔𝗛 𝗛𝗜𝗟𝗔𝗡𝗚
(Menyimak Al-Qur’an, Menemukan Kehidupan)
Oleh Guru Luthfi
Kemarin kami berdiskusi dalam Forum Tokoh tentang 500 Tahun Kota Banjarmasin, dengan tema: “Menjaga Marwah Islam di Tanah Banua.”
Dalam risalah ini, saya ingin mencatat sedikit hal yang berbeda dari tema besar tersebut.
Ustadz Humaidi sebagai moderator mengingatkan kami bahwa setiap kegiatan yang kita lakukan akan menjadi atsar—jejak atau bekas yang ditinggalkan.
Beliau mengingatkan bahwa atsar kehidupan kita selalu direkam oleh Allah SWT, baik yang positif maupun negatif.
Beliau kemudian menyitir ayat yang sudah sangat kita hafal:
إِنَّا نُحۡیِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَـٰرَهُمۡۚ وَكُلَّ شَیۡءٍ أَحۡصَیۡنَـٰهُ فِیۤ إِمَامࣲ مُّبِینࣲ
“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas.” (QS. Yasin: 12)
𝗣𝗘𝗡𝗗𝗔𝗣𝗔𝗧 𝗣𝗔𝗥𝗔 𝗠𝗨𝗙𝗔𝗦𝗜𝗥
𝗧𝗮𝗳𝘀𝗶𝗿 𝗔𝗹𝗶 𝗔𝘀𝗵-𝗦𝗵𝗮𝗯𝘂𝗻𝗶
Ali Ash-Shabuni menjelaskan bahwa آثارهم adalah jejak-jejak yang ditinggalkan manusia setelah melakukan suatu perbuatan. Termasuk di dalamnya langkah menuju kebaikan dan pengaruh amal yang tetap ada setelah seseorang meninggalkannya.
Dengan demikian, yang dicatat Allah bukan hanya amal yang dilakukan, tetapi juga atsar yang lahir dari amal tersebut.
Para mufasir lainnya, seperti Ibn Katsir, Al-Qurthubi, Az-Zamakhsyari, dan As-Sa'di, juga menjelaskan keluasan makna آثارهم, yaitu berbagai jejak yang ditinggalkan manusia dan tetap memberikan pengaruh setelahnya.
𝗕𝗔𝗟𝗔𝗚𝗛𝗔𝗛 𝗔𝗬𝗔𝗧
Ada keindahan yang menarik dalam susunan:
نَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ
“Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.”
𝗠𝗮'𝗮𝗻𝗶
Kata مَا قَدَّمُوا menggunakan ungkapan “apa yang mereka dahulukan”, bukan sekadar “apa yang mereka kerjakan”.
Di dalamnya ada gambaran bahwa amal manusia seakan-akan dikirim terlebih dahulu ke hadapan mereka, menjadi bekal yang akan mereka temui di akhirat.
Kemudian disusul:
وَآثَارَهُمْ
“dan jejak-jejak mereka.”
Ada amal yang selesai ketika dilakukan, tetapi ada pula amal yang terus meninggalkan pengaruh.
𝗕𝗮𝘆𝗮𝗻
Kata آثار secara bahasa berarti jejak atau bekas yang ditinggalkan sesuatu.
Pilihan kata ini sangat indah.
Al-Qur'an tidak hanya mengatakan bahwa Allah mencatat perbuatan mereka, tetapi juga jejak yang ditimbulkan oleh perbuatan itu.
Seolah-olah Al-Qur'an mengajak kita melihat kehidupan bukan hanya dari apa yang kita lakukan, tetapi dari apa yang tersisa setelah kita melakukannya.
𝗕𝗮𝗱𝗶'
Perhatikan pula pasangan:
مَا قَدَّمُوا — وَآثَارَهُمْ
Ada keseimbangan antara amal yang dilakukan dan jejak yang ditinggalkan.
Yang pertama berbicara tentang apa yang kita kerjakan. Yang kedua berbicara tentang apa yang terus berjalan setelah kita mengerjakannya.
Dan di sinilah keindahannya:
umur kita mungkin terbatas, tetapi atsar kita bisa lebih panjang daripada umur kita.
𝗠𝗘𝗡𝗘𝗠𝗨𝗞𝗔𝗡 𝗞𝗘𝗛𝗜𝗗𝗨𝗣𝗔𝗡
Sering kali kita sibuk menghitung apa yang sudah kita kerjakan, tetapi lupa bertanya:
“Apa yang akan saya tinggalkan?”
Seorang guru mungkin hanya mengajar satu kelas. Tetapi ilmu yang ia ajarkan bisa hidup puluhan tahun melalui murid-muridnya.
Seorang ayah mungkin hanya mendidik anaknya. Tetapi kebaikan itu bisa diteruskan kepada cucu dan generasi berikutnya.
Seorang ulama mungkin telah lama meninggalkan dunia. Tetapi kitab dan ilmunya masih dibaca dan diamalkan.
Itulah atsar.
Begitu pula keburukan.
Sebuah ucapan yang melukai, keputusan yang zalim, atau keteladanan yang buruk juga dapat meninggalkan jejak panjang.
Karena itu, pertanyaan kehidupan bukan hanya:
“Apa yang sudah saya lakukan?” Tetapi: “Apa yang akan tersisa dari apa yang saya lakukan?”
Dan di sinilah rahasianya.
Kita mungkin lupa apa yang pernah kita lakukan, tetapi Allah tidak pernah lupa.
𝗜𝗕𝗥𝗔𝗛
Ayat ini mengajarkan kepada kita:
① Setiap kehidupan meninggalkan jejak. Tidak ada manusia yang benar-benar hidup tanpa atsar.
② Kebaikan dapat hidup lebih lama daripada pelakunya. Karena itu, jangan hanya mengejar amal yang besar di mata manusia. Carilah amal yang panjang atsarnya di sisi Allah.
③ Keburukan pun dapat diwariskan melalui pengaruh. Maka berhati-hatilah dengan setiap ucapan, keputusan, dan keteladanan.
④ Hidup adalah kesempatan menanam jejak.
Kita tidak tahu berapa lama usia kita, tetapi kita masih bisa memilih jejak apa yang akan kita tinggalkan.
Maka ketika kita berbicara tentang masa depan Banjarmasin, Banua, dan umat Islam, pertanyaannya bukan hanya:
“Apa yang akan kita bangun?” Tetapi juga: “Atsar apa yang akan kita tinggalkan?”
Kota Banjarmasin akan berubah. Generasi akan berganti. Tokoh akan datang dan pergi. Tetapi atsar kebaikan dapat terus hidup.
Semoga ketika kita tidak lagi berada di dunia, masih ada ilmu yang kita ajarkan, amal yang kita tanamkan, generasi yang kita didik, dan kebaikan yang terus berjalan.
Sebab kita semua sedang meninggalkan jejak. Dan semuanya akan dicatat.
وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
“Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas.”
𝗦𝗲𝗺𝗼𝗴𝗮 𝗷𝗲𝗷𝗮𝗸 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗷𝗲𝗷𝗮𝗸 𝗸𝗲𝗯𝗮𝗶𝗸𝗮𝗻.
#MenyimakAlQuranMenemukanKehidupan
#JejakYangTakPernahHilang
#Atsar
#TadabburAlQuran
#AlQuranDanKehidupan
#MenjagaMarwahIslam
#TanahBanua
#Banjarmasin
#Banua
#Dakwah
#AmalJariyah
#Ibrah
Reposting by POINT Consultant

