Hutan Di Bawah Laut
Hutan bawah laut, atau dikenal sebagai hutan kelp, adalah ekosistem laut yang sangat produktif yang dibentuk oleh ganggang cokelat raksasa (kelp) di perairan pesisir yang sejuk dan kaya nutrisi.
Ekosistem ini berfungsi sebagai habitat, tempat berkembang biak, dan pelindung bagi ratusan spesies laut, sekaligus menyerap karbon dioksida secara signifikan.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai hutan bawah laut :
- Definisi dan Struktur: Hutan bawah laut bukan dibentuk oleh pohon, melainkan rumput laut raksasa (Macrocystis pyrifera) yang dapat tumbuh hingga 600 cm (dua kaki) per hari dan mencapai ketinggian lebih dari 30 meter. Mereka menciptakan kanopi 3D yang kompleks, mirip dengan hutan di daratan.
- Contoh Utama: Dua contoh terbesar adalah Great African Sea Forest (GASF) di Afrika Selatan yang membentang lebih dari 1.000 km, dan Great Southern Reef (GSR) di Australia.
- Fungsi Ekologis: Hutan ini bertindak sebagai "penyerap karbon" (karbon biru) untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Mereka juga mengurangi erosi pantai dan mendukung perikanan serta pariwisata.
- Ancaman: Hutan kelp sangat rentan terhadap pemanasan global, badai, dan gelombang panas laut, yang dapat menyebabkan penurunan luas hutan secara signifikan, seperti yang terjadi pada Great Southern Reef.
- Hutan Bawah Laut Purba: Selain ekosistem rumput laut yang hidup, terdapat juga "hutan bawah laut" purba, seperti di lepas pantai Alabama, AS, di mana sisa-sisa hutan cemara berusia 60.000 tahun terkubur di bawah sedimen dan kini menjadi habitat unik.
Hutan bawah laut adalah salah satu ekosistem paling dinamis dan penting di Bumi, sering kali menutupi area yang lebih luas daripada hutan darat tertentu.
Hutan Belantara Laut
Hutan di bawah laut lebih sering dipahami sebagai hamparan luas rumput laut yang membentuk kanopi. Padahal tidak ada kelebatan tumbuhan di bawah laut.
Segitiga terumbu karang sendiri adalah segitiga imajiner yang melingkupi wilayah terumbu karang di enam negara.
Setiap tanggal 9 Juni diperingati sebagai Hari Segitiga Karang untuk mengingatkan pentingnya konservasi keanekaragaman hayati, keamanan pangan, dan pengelolaan sumber daya laut berkelanjutan.
Dengan luas 6 juta kilometer persegi, kawasan segitiga terumbu karang memuat sepertiga terumbu karang dunia.
Kerap kali penamaan, julukan, atau istilah yang berhubungan dengan alam dipahami berbeda antara orang awam dengan komunitas ilmiah. Penamaan ini di satu sisi memudahkan orang untuk mengingat suatu nama dan mendorong kepedulian. Namun di sisi lain kadang membingungkan dan menimbulkan kerancuan.
Misalnya, julukan hutan hujan tropis di laut, atau juga hutan Amazon di laut bagi segitiga terumbu karang. Benarkah ada hutan di dalam laut? Sebagian orang boleh jadi akan membayangkan kelebatan flora dan keragaman fauna, mirip hutan hujan tropis Amazon di lautan.
Kenyataannya, tidak ada kelebatan tetumbuhan di sana. Bahkan tidak ada vegetasi beraneka jenis seperti halnya hutan di darat yang bisa ditemui di laut manapun. Yang ada adalah, kawasan itu menjadi rumah bagi aneka kehidupan terutama hewan laut dalam jumlah luar biasa banyaknya, mirip ekosistem hutan hujan tropis.
Seorang pakar di bidang ilmu kelautan dari Universitas Newscastle, Pippa Moore, mencoba menjelaskan istilah hutan di bawah laut. Jika hutan diartikan sebagai pepohonan yang menempati suatu kawasan, memiliki kepadatan, tumbuh di suatu ketinggian, dan menjalankan fungsi ekologis tertentu, maka tidak ada hutan di dalam laut.
Hutan di bawah laut lebih sering dipahami sebagai hamparan luas rumput laut yang membentuk kanopi. Sebagaimana tanaman lain, rumput laut terdiri dari pegangan yang mirip akar, batang, dan daun. Rumput laut yang menutupi wilayah luas ini mengubah kondisi lingkungan menjadi habitat dan tempat mencari makan bagi berbagai organisme.
Segitiga terumbu karang sendiri adalah segitiga imajiner yang melingkupi wilayah terumbu karang di enam negara. Yaitu Filipina, Indonesia, Malaysia, Timor Leste, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon. Pada 2009, enam negara ini membentuk Coral Triangle Initiative.
Setiap tanggal 9 Juni diperingati sebagai Hari Segitiga Karang untuk mengingatkan pentingnya konservasi keanekaragaman hayati, keamanan pangan, dan pengelolaan sumber daya laut berkelanjutan.
Dengan luas 6 juta kilometer persegi, kawasan segitiga terumbu karang memuat sepertiga terumbu karang dunia. Sekitar 76 persen spesies karang, 37 persen ikan karang, dan spesies bernilai komersial tinggi misalnya ikan tuna. Sekurang-kurangnya ada enam spesies ikan tuna yang bisa ditemukan di sini. Selain itu terdapat enam dari tujuh spesies penyu laut, juga bisa dijumpai paus, lumba-lumba, pari, dan hiu.
Dalam jumlah terbatas, rumput laut tidak membahayakan keberadaan terumbu karang. Namun jika rumput laut mendominasi, maka terumbu karang akan mati. Pada 1990-an, peneliti kelautan di Karibia menemukan fenomena, saat karang mulai mati, rumput laut tumbuh menggantikannya.
Pola ini rupanya sama di seluruh dunia. Ketika karang mati, rumput laut mengambil alih. Setelah rumput laut mengokupasi, sulit bagi karang untuk kembali.
Rumput laut seperti rumput liar di taman, mengutip sebuah artikel di Conversation. Mereka dapat berkolonisasi dengan cepat, tumbuh tinggi, menyerap sinar matahari dan bersaing langsung dengan karang untuk mendapatkan cahaya dan ruang. Belajar dari pengalaman di Great Barrier Reef di Australia, agar terumbu karang tetap lestari rumput laut perlu disiangi seperti menyiangi rumput liar di taman.
Seorang penyelam sedang melihat biodersitas terumbu karang yang luar biasa di perairan Kepulauan Lease, Maluku Tengah, Maluku. Foto : Purwanto / Coral Triangle CenterIstilah lain yang juga bisa menjebak adalah taman laut untuk terumbu karang. Taman berasosiasi dengan aneka tanaman dengan bunga warna-warni, dan bentuk daun bermacam-macam. Meski tumbuh dari dasar laut, menampilkan aneka warna dengan bentuk yang juga beraneka, karang bukanlah tanaman. Karang adalah hewan. Kumpulan karang ini lalu membentuk terumbu karang.
Hewan yang disebut polip hidup bersama dan menggunakan mineral laut untuk membangun karang guna melindungi mereka. Polip karang memiliki mulut, tentakel, bahkan semacam sengat untuk mengusir musuh.
Warna-warni yang muncul di terumbu karang merupakan hasil simbiosis antara alga dengan polip. Sementara aneka bentuk karang tergantung dari spesies polip karang. Di dunia ada sekitar enam ribu spesies karang.
Secara umum karang terbagi menjadi dua bentuk, karang keras dan karang lunak. Itu sebabnya di terumbu karang sering terlihat karang yang berayun di antara karang keras berbatu. Karang yang berayun itu akan terlihat seperti tumbuhan yang tertiup angin.
Mungkin belum banyak yang mengetahui, secara taksonomi, polip karang berkerabat dengan ubur-ubur, anemon, hydra. Mereka disatukan dalam filum Cnidaria, atau hewan dengan ciri-ciri berbentuk silinder, memiliki tentakel, tidak memiliki tulang, juga pusat syaraf.
Terumbu karang dan biota laut di perairan Nusa Penida, Bali. Foto : Marthen Welly/Hope Spot
Sebutan lain yang telah menjadi salah kaprah adalah ikan paus dan ikan lumba-lumba. Keduanya tidak tepat disebut ikan karena meskipun lincah berenang. Mamalia laut ini memiliki sistem reproduksi yang berbeda dengan ikan. Tidak seperti ikan yang bertelur, keduanya mengandung dan melahirkan anak-anaknya. Mereka juga memiliki kelenjar susu sebagaimana mamalia lainnya.
Jika ikan bernapas dengan insang, paus dan lumba-lumba dengan paru-paru. Itu sebabnya, mereka harus naik ke atas permukaan untuk mengambil oksigen dari udara kemudian menyelam lagi.
Hiu meski kebanyakan melahirkan dan ada yang memiliki ukuran serta bentuk sepintas mirip lumba-lumba justru adalah ikan sesungguhnya. Mereka menghasilkan telur, dan memiliki insang.
Banyak wisatawan yang berminat menyaksikan paus, lumba-lumba, dan hiu di perairan segitiga terumbu karang. Di Indonesia, pengamatan terbaik paus antara lain di NTT yang menjadi jalur lintasan 18 jenis paus dan lumba-lumba bisa disaksikan di pantai Lovina, Bali. Sementara hiu paus yang merupakan ikan terbesar di dunia bisa disaksikan di Gorontalo.
Ilmuwan Ungkap Keberadaan Terumbu Karang Kuno di Laut Galapagos
Sejumlah ilmuwan yang tergabung dalam tim ekspedisi Galapagos Deep 2023 berhasil mengungkap ‘harta karun’ laut yang amat berharga bagi penelitian. Mereka telah menemukan terumbu karang kuno di dalam Cagar Alam Laut Galapagos.
Terumbu karang kuno ditemukan pada kedalaman 400-600 meter di bawah permukaan laut. Berada di puncak gunung bawah laut, lokasi ini rupanya belum dipetakan sebelumnya.
Temuan ini memperlihatkan keanekaragaman hayati yang masih alami, beserta ekosistem laut di dalamnya.
Terumbu karang ini kemungkinan telah bertahan selama berabad-abad dari ancaman perubahan iklim.
Ekspedisi Galapagos Deep 2023 yang berlangsung pada 27 Maret hingga 22 April, berhasil mengungkap “harta karun” laut yang amat berharga bagi ilmu pengetahuan. Sebanyak 21 ilmuwan menemukan terumbu karang paling kuno di kawasan Cagar Alam Laut Galapagos di Ekuador.
Wilayah laut ini memang masih misteri. Tak banyak yang berhasil diungkap. Belum pernah juga dipetakan sekalipun dengan teknologi canggih manapun. Agaknya karena itu kapal “robot” human-occupied vehicle (HOV) Alvin coba dilibatkan. Dan berhasil membuat senang hati para peneliti.
Ekspedisi ini merupakan konsorsium dari Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI), University of Bristol (Inggris), Boise State University (AS), dan University of Essex, bekerja sama dengan Direktorat Taman Nasional Galapagos (GNPD), Yayasan Charles Darwin dan Institut Oseanografi dan Antartika Angkatan Laut Ekuador (INOCAR). Ekspedisi ini didanai oleh US National Science Foundation (NSF) dan Natural Environmental Research Council (NERC) di Inggris.
Struktur terumbu yang mengesankan dijelajahi dan direkam lewat video 4K melalui HOV Alvin. Terumbu karang yang belum terdokumentasikan ini ditemukan pada kedalaman 400-600 meter di puncak gunung laut yang sebelumnya tidak terpetakan di bagian tengah kawasan lindung Galapagos.
Para peneliti menggambarkan detail terumbu karang laut dalam kuno tersebut sebagai tempat tinggal bagi perpaduan stuktur geologi dan keragaman biotanya. Ini merupakan momen pertama kali didokumentasikan sejak Cagar Alam Laut Galapagos disahkan pada tahun 1998.
Meliputi sekitar 51.000 mil persegi di lepas pantai Ekuador, Cagar Alam Laut Galapagos merupakan salah satu kawasan konservasi laut terbesar keempat di dunia. Dikenal dengan keanekaragaman hayatinya yang sangat besar, termasuk banyak spesies yang unik di daerah yang terbentang sejauh 133,000 kilometer persegi.
Hasil itu menarik komitmen Menteri Lingkungan Hidup Ekuador, Jose Antonio Dávalos. Dia bilang, “Ini adalah berita yang menggembirakan untuk melindungi 30% lautan dunia pada tahun 2030. Terlebih, kekayaan laut Ekuador yang belum dijelajahi adalah alasan untuk berusaha mencapai komitmen Global Ocean Alliance.”
Jose berkeinginan temuan karang kuno makin menegaskan tekad pemerintah untuk membangun kawasan lindung laut baru di Ekuador sekaligus mempromosikan perlindungan kawasan lindung laut regional di Pasifik Tropis Timur. Tujuan akhirnya yakni menyelaraskan kepentingan ekonomi dan konservasi.
Lengan wahana HOV Alvin mengumpulkan sampel dari singkapan berbatu di puncak punggungan, dihuni oleh karang air dingin, lobster jongkok, anemon, bintang keranjang, dan ikan laut dalam. Foto : L. Robinson (U. Bristol), D. Fornari (WHOI), M. Taylor (U. Essex), D. Wanless (Boise State U.) Fasilitas MISO NSF/NERC/HOV Alvin/WHOI, Lembaga Oseanografi Woods Hole 2023
Sebelum penemuan ini, Wellington Reef di lepas pantai Pulau Darwin sebelah utara dianggap sebagai salah satu dari sedikit terumbu karang dangkal struktural di Kepulauan Galapagos yang selamat dari peristiwa El Nino 1982-1983. Catatan geologis tersebut manjadi pijakan dalam upaya mitigasi anomali iklim saat ini.
Apalagi penemuan baru para ilmuwan di HOV Alvin menunjukkan bahwa karang laut dalam yang terlindung kemungkinan telah bertahan selama berabad-abad. Penemuan ini juga mendukung keanekaragaman laut yang kaya, beragam, dan unik. Terutama daya adaptasinya.
Para peneliti beranggapan bahwa menjelajahi, memetakan, dan mengambil sampel Galapagos adalah kesempatan untuk menerapkan teknologi pemetaan dasar laut pada abad ke-21. Teknik pencitraan laut dalam dengan sistem pencitraan video 4K berkualitas tinggi dan ultra-high definition dinilai sangat efektif mengungkap proses vulkanik dan biologis di Galapagos. Metode semacam ini sangat memungkinkan dilakukan di daerah lain.
Dr. Stuart Banks, Peneliti Kelautan Senior di Charles Darwin Foundation, menambahkan, terumbu karang yang ditemukan dengan usia tua (kuno) di Galapagos itu unik. Tidak banyak ditemukan di lautan di dunia. Bagi dia, penemuan ini memberikan referensi untuk memahami betapa pentingnya terumbu karang sebagai warisan keanekaragaman hayati alam laut.
BACA JUGA :
Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI) is the world’s leading independent non-profit dedicated to ocean science, technology, education, and communication. Our work fuels economic growth, strengthens national security, and improves lives and livelihoods by advancing the frontiers of knowledge and accelerating the search for solutions to some of our most pressing challenges.
.
Sementara menurut Dr. Michelle Taylor, co-lead ekspedisi dan Ketua Deep Sea Society dari University of Essex, pentingnya penemuan ini tak lain adalah tentang bagaimana proses penciptaan atau terbentuknya habitat di laut. Terutama yang membikin Taylor penasaran karena terumbu yang ditemukan memiliki 50-60% karang hidup, artinya karang jenis ini memang sudah sangat langka. Padahal terumbu karang ini menjadi tumpuan atau pusat persebaran biota laut yang mengagumkan.
“Terumbu karang yang baru ditemukan ini berpotensi memiliki signifikansi secara global. Ini menjadi situs yang dapat kita pantau dari waktu ke waktu secara simultan untuk melihat bagaimana habitat laut berevolusi. Tentu ini sangat berguna untuk dikembangkan mengingat kita sedang menghadapi krisis iklim,” tambahnya.
Berdasarkan laporan Sciencedaily, temuan ilmiah ini membantu menginformasikan tindakan pengelolaan dan konservasi yang efektif bagi konservasi terumbu karang. Momentum ini penting karena negara-negara Pasifik-Tropis di Timur Panama, Kosta Rika, Kolombia, dan Ekuador juga mulai peduli dan secara aktif berkolaborasi untuk melindungi dan mengelola lautan secara bertanggung jawab.
Sumber Referensi : sciencedaily.com dan whoi.edu
Resume artikel & disusun oleh, POINT Consultant






