CIKARACAK NINGGANG BATU, LAUN-LAUN JADI LEGOK
Dinn Wahyudin
"CIKARACAK NINGGANG BATU, LAUN-LAUN JADI LEGOK"
Dinn Wahyudin
Alkisah, di sebuah kampung di Tatar Sunda, hiduplah seorang anak penggembala yang sering duduk di pinggiran aliran Sungai. Sambil beristirahat, ia duduk termenung di sela sela bongkahan batu. Setiap hari ia memperhatikan tetesan air yang jatuh di titik yang sama, perlahan dan tanpa henti. Mula-mula tampak tak berarti, namun seiring waktu, ia melihat batu yang keras itu mulai membentuk cekungan kecil. Kisah sederhana ini kerap dituturkan oleh orang tua di kampung sebagai pelajaran bahwa alam pun mengajarkan arti kesabaran dan ketekunan.
Dalam cerita lain yang hidup dalam tradisi lisan Sunda, dikisahkan seorang petani yang terus mengolah tanahnya yang keras dan tandus. Berkali-kali ia mengalami kegagalan panen, tetapi ia tidak menyerah. Dengan kesabaran dan usaha yang terus-menerus, perlahan tanah itu menjadi subur dan menghasilkan panen yang melimpah. Para tetua kemudian menjadikannya sebagai contoh nyata dari peribahasa “cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok,” bahwa segala hasil besar berawal dari proses kecil yang dilakukan secara tekun.
Peribahasa Sunda buhun “cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok” mengandung makna mendalam tentang kekuatan ketekunan dan kesabaran dalam kehidupan. Tetesan air yang jatuh perlahan, meskipun tampak lemah dan tidak berarti, jika berlangsung terus-menerus mampu mengikis batu hingga membentuk cekungan. Hal ini mengajarkan bahwa usaha kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan perubahan besar seiring waktu.
Dalam kehidupan sehari-hari, peribahasa ini mengingatkan agar manusia tidak mudah menyerah (never gve up). Segala keinginan dan cita-cita tidak selalu dapat dicapai secara instan. Seperti halnya air yang terus menetes tanpa henti, manusia perlu bersabar, tekun, dan istiqamah dalam berusaha, meskipun hasilnya belum segera terlihat.
Dalam kearifan budaya Sunda buhun, nilai ini berkaitan erat dengan ajaran hidup yang menekankan proses dan kesinambungan. Ketekunan tidak hanya dimaknai sebagai kerja keras, tetapi juga sebagai upaya menjaga perilaku baik, budi pekerti luhur, do’a yang selalu dipanjatkan, serta niat yang tulus dalam setiap tindakan. Peribahasa tersebut bukan sekadar ungkapan, melainkan pedoman hidup yang menegaskan bahwa perubahan yang bermakna lahir dari usaha yang kecil namun terus dilakukan. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, nilai ini menjadi pengingat agar tetap sabar dan konsisten dalam berbuat baik, karena hasil yang sejati membutuhkan waktu dan ketekunan.
Masih relevan dengan masa kini ?
Di tengah arus kehidupan modern yang serba cepat dan instan, nilai-nilai kesabaran dan ketekunan justru semakin diuji keberadaannya. Oleh karena itu, penting untuk meninjau kembali kearifan lokal seperti peribahasa ini sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda yang tangguh dan berdaya tahan. Ada tiga hal mengapa peribahasa “cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok” patut dipompakan kepada generasi muda kita.
Pertama, peribahasa “cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok” tetap relevan karena sejalan dengan konsep ketekunan (grit) dalam psikologi modern yang dikemukakan oleh Angela Duckworth (2016). Ia menjelaskan bahwa keberhasilan jangka panjang lebih ditentukan oleh konsistensi usaha dan ketahanan menghadapi kegagalan dibandingkan sekadar bakat. Di tengah budaya instan yang banyak memengaruhi generasi muda saat ini, yaitu hasil cepat sering lebih dihargai daripada proses, nilai ketekunan menjadi semakin penting untuk ditanamkan. Peribahasa ini mengajarkan bahwa capaian besar tidak lahir dari usaha sesaat, tetapi dari proses panjang yang dilakukan terus-menerus, sebagaimana tetesan air yang akhirnya mampu mengubah batu.
Kedua, relevansi peribahasa ini juga diperkuat oleh teori growth mindset dari Carol Dweck (2006) yang menekankan bahwa kemampuan individu dapat berkembang melalui usaha, latihan, dan pembelajaran berkelanjutan. Generasi muda yang memiliki growth mindset cenderung melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai akhir dari segalanya. Dalam konteks ini, “cikaracak” menjadi simbol proses belajar yang berulang dan bertahap, sementara “legok” melambangkan hasil perkembangan kompetensi yang diraih. Oleh karena itu, penguatan nilai ini penting agar murid tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan akademik maupun tantangan kehidupan.
Ketiga, dari perspektif regulasi diri (self-regulation), teori Albert Bandura (1997) menegaskan bahwa keberhasilan individu sangat dipengaruhi oleh kemampuan mengelola motivasi, emosi, dan perilaku secara konsisten menuju tujuan. Peribahasa ini mengandung pesan implisit tentang disiplin diri dan konsistensi tindakan, yang menjadi kunci dalam membangun kebiasaan positif (habit formation). Dalam era distraksi digital dan tuntutan serba cepat, kemampuan untuk tetap fokus, sabar, dan tekun menjadi kompetensi penting bagi generasi muda. Dengan demikian, peribahasa ini tidak hanya relevan sebagai warisan budaya atau cultural heritage, tetapi juga memiliki landasan kuat dalam kajian psikologi kontemporer sebagai prinsip pembentukan karakter dan keberhasilan jangka panjang.
Langkah nyata di sekolah
Dalam konteks pendidikan masa kini, memperhatikan warisan budaya lokal, dapat dipertimbangkan sebagai ikhtiar agar pembelajaran lebih bermakna dan kontekstual dengan tidak tercerabut pada budaya lokal murid. Contoh peribahasa ”cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok” merupakan salah satu ikhtiar agar pengalaman belajar muird dapat diperoleh secara optimal. Ada lima pertimbangan mengapa contoh peribahasa ini masih relevan untuk digunakan sebagai pemicu agar murid bisa belajar secara optimal.
Pertama, mengintegrasikan nilai ketekunan dalam proses pembelajaran. Sekolah tidak cukup menekankan hasil akhir, tetapi perlu merancang pembelajaran berbasis proses (process-oriented learning), seperti project-based learning dan refleksi berkala. Murid diajak menyadari bahwa kemajuan kecil yang konsisten merupakan bagian penting dari keberhasilan, sejalan dengan prinsip grit yang dikembangkan oleh Angela Duckworth (2016).
Kedua, membangun budaya growth mindset di lingkungan sekolah dan keluarga. Guru dan orang tua perlu membiasakan memberikan umpan balik yang menekankan usaha, strategi, dan ketekunan, bukan sekadar hasil. Pendekatan ini sejalan dengan pemikiran Carol Dweck (2006) bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar yang harus dihargai sebagai peluang untuk berkembang.
Ketiga, melatih regulasi diri dan disiplin kebiasaan harian siswa. Sekolah dapat mengembangkan program pembiasaan seperti jurnal refleksi, target mingguan, dan manajemen waktu. Hal ini penting untuk memperkuat kemampuan mengelola diri sebagaimana dijelaskan dalam teori Albert Bandura tentang self-regulation, yang menekankan konsistensi perilaku dalam mencapai tujuan.
Keempat, memberikan pengalaman nyata melalui praktik dan keteladanan. Nilai “cikaracak” perlu dihidupkan dalam aktivitas nyata, seperti kegiatan kewirausahaan, koperasi sekolah, atau proyek sosial jangka panjang. Guru dan orang tua juga harus menjadi teladan dalam menunjukkan kesabaran, ketekunan, dan komitmen dalam kehidupan sehari-hari.
Kelima, mengelola lingkungan digital agar mendukung ketekunan. Di tengah distraksi teknologi, penting untuk membangun literasi digital yang sehat, seperti pengaturan waktu penggunaan gawai, fokus pada pembelajaran mendalam (deep learning), dan pengurangan budaya serba instan. Dengan demikian, generasi muda dapat tetap fokus, tidak mudah teralihkan, dan mampu menjalani proses panjang menuju keberhasilan yang bermakna.
Budaya Antarbangsa
Meskipun tidak persis sama secara metafora, beberapa peribahasa atau ungkapan dalam budaya bangsa lain, yang maknanya dekat dengan peribahasa “cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok”. Dalam Bahasa Inggris misalnya, _constant dripping wears away the stone._ Artinya Tetesan air yang terus-menerus akhirnya mengikis batu. Atau peribahasa berikut ini, _Rome wasn’t built in a day._ Hal ini menegaskan bahwa pencapaian besar membutuhkan waktu dan proses panjang.
Dalam Bahasa dan kebudayaan Jepang, ada juga beberapa peribahasa yang sangat dekat maknanya dengan “cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok”, terutama dalam hal ketekunan, kesabaran, dan usaha yang berulang. Misalnya, dalam Budaya Jepang, dikenal dengan istilah _Ishi no ue ni mo sannen._ Artinya duduk di atas batu pun (akan hangat) setelah tiga tahun. Maknanya, jika kita bertahan dan tekun dalam suatu hal, meskipun awalnya sulit, hasilnya akan datang seiring waktu. Ini sangat selaras dengan pesan kesabaran dan konsistensi. Atau peribahasa Jepang berikut ini _Keizoku wa chikara nari._ Ketekunan adalah kekuatan. Maknanya, diperlukan konsistensi dalam melakukan sesuatu akan menghasilkan kekuatan dan keberhasilan.
Dalam ungkapan dalam tradisi masyarat Arab, dikenal dengan ungkapan yang maknanya sangat dekat, yaitu _Man jadda wajada._ Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil. Makna di atas, mengungkap pesan yang hampir bersamaan yaitu usaha kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan perubahan besar seiring waktu.
Pandangan dalam Islam
Peribahasa dalam bahasa Sunda “cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok” sejalan dengan ajaran Islam, baik dalam Al-Qur’an maupun hadist. Salah satu yang paling dekat maknanya, yaitu sabda Baginda Rosululloh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini memberi pesan mendalam, bahwa Allah SWT lebih mencintai amalan kecil tetapi konsisten, dibandingkan amalan besar yang hanya sesaat. Inilah rahasia keberkahan dalam hidup, bahwa istiqamah lebih utama daripada sekadar semangat sesaat.
Allah SWT dalam Al Quran Surah Al baqarah ayat 153, berfirman _Yā ayyuhallazina amanusta'inụ biṣ-ṣabri waṣ-ṣalaah, innalloha ma'aṣ-ṣobirīn._ Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Peribahasa Sunda cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok memiliki keselarasan nilai yang kuat dengan ajaran Islam—bahwa amal kecil yang terus dilakukan lebih bermakna dan berdampak dalam jangka panjang. Peribahasa bukan hanya sekadar warisan kearifan lokal (local wisdom), melainkan prinsip universal (universal principle) yang melintasi budaya, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai keagamaan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan sejati tidak lahir dari kecepatan sesaat, tetapi dari ketekunan yang sabar, konsistensi yang terjaga, dan proses panjang yang dijalani dengan penuh kesadaran. Di tengah tantangan zaman yang serba instan, peribahasa ini justru semakin menemukan relevansinya sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda yang tangguh, reflektif, dan berdaya tahan.
Upaya menghidupkan kembali nilai-nilai lokal yang sarat pesan dalam pendidikan, keluarga, dan kehidupan sosial merupakan ikhtiar penting untuk menumbuhkan manusia yang tidak hanya berhasil secara lahiriah, tetapi juga matang secara batiniah dan bermakna dalam perjalanan hidupnya. Pembentukan karakter sebagai bekal ikhtiar dan amal menuju Sang Khalik. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Hasyr ayat 18: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).”
DAFTAR PUSTAKA
Albert Bandura. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. New York, NY: W.H. Freeman.
Carol S. Dweck. (2006). Mindset: The new psychology of success. New York, NY: Random House.
Angela Duckworth. (2016). Grit: The power of passion and perseverance. New York, NY: Scribner.
Al-Qur’an. (n.d.). Al-Qur’an al-Karim. (QS. Al-Baqarah: 153; QS. Al-Hasyr: 18).
Shahih Bukhari & Shahih Muslim. (n.d.). Hadith collections (Kitab al-Riqaq: Amal yang kontinu lebih dicintai Allah).

