Nahdlatul Ulama (NU)
Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia yang didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Dipelopori oleh para ulama pesantren seperti Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Hasbullah, NU lahir untuk mempertahankan ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja), menguatkan persatuan umat, serta merawat kemerdekaan NKRI.
Pilar Utama Pembentukan NU
NU tumbuh dan bergerak melalui tiga pilar penting yang sudah berdiri sejak sebelum organisasi resmi dibentuk:
- Tasywirul Afkar (1914): Forum diskusi ilmiah keagamaan dan kebangsaan bagi para ulama dan santri.
-Nahdlatul Wathan (1916): Gerakan pendidikan yang bertujuan menumbuhkan semangat nasionalisme dan cinta tanah air.
- Nahdlatut Tujjar (1918): Koperasi atau jaringan dagang untuk memperkuat kemandirian ekonomi kaum muslimin.
Ideologi dan Prinsip Keagamaan
NU menganut paham Ahlussunnah wal Jama’ah dengan pendekatan yang moderat. Dalam menginterpretasikan hukum Islam, NU menyeimbangkan antara wahyu (naql) dan akal (aql). NU memegang teguh empat prinsip utama:
- Tawasuth: Mengambil jalan tengah dan bersikap moderat.
-Tawazun: Menjaga keseimbangan dalam segala aspek kehidupan.
- I'tidal: Berlaku adil dan tegak lurus.
- Tasamuh: Toleran terhadap perbedaan paham keagamaan maupun budaya.
Dalam bidang fiqih, NU mengikuti salah satu dari empat mazhab besar (Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali), dengan mayoritas jemaahnya mempraktikkan mazhab Syafii. NU juga dikenal akomodatif terhadap budaya lokal sebagai sarana dakwah (Islam Nusantara).
Struktur Kepengurusan (PBNU)
Kepengurusan tertinggi NU berada di bawah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang berkantor pusat di Jakarta. Kepemimpinan dibagi menjadi dua badan utama:
- Syuriyah (Dewan Penasihat/Legislatif): Dipimpin oleh seorang Rais Aam, yang bertugas sebagai pemegang kendali tertinggi dalam menentukan kebijakan keagamaan dan marwah organisasi.
- Tanfidziyah (Dewan Pelaksana/Eksekutif): Dipimpin oleh seorang Ketua Umum, yang bertugas menjalankan roda roda organisasi dan program kerja sehari-hari.
Dinamika dan Kebijakan Terbaru
Sebagai organisasi yang adaptif memasuki abad keduanya, NU terus merumuskan langkah strategis keorganisasian:
- Munas dan Konbes NU: Melalui forum legislatif tertinggi di bawah Muktamar, seperti yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, NU aktif merumuskan fiqih kontemporer dan rekomendasi kebijakan publik.
- Rekomendasi Strategis: NU aktif menyoroti kemandirian ekonomi melalui tata kelola pesantren, desakan transparansi pengelolaan keuangan haji, serta merumuskan regulasi internal mengenai pembatasan rangkap jabatan politik bagi para pengurusnya.
By, POINT Consultant

