JALALUDIN RUMI
(Sang Penyair Cinta Ilahi dan Guru Tasawuf Sepanjang Zaman)
By, Imajiner Nuswantoro
Selayang Pandang
Jalaluddin Rumi (1207–1273) adalah seorang tokoh sufi dan penyair legendaris asal Persia yang sangat dihormati. Ia terkenal dengan ajaran cinta universal dan karya sastranya yang mendalam. Kumpulan puisinya yang fenomenal, Matsnawi, diakui dunia karena mengandung pesan spiritual yang luar biasa.
Profil Singkat & Warisan Spiritual:
- Nama Lengkap: Jalaluddin Muhammad bin Muhammad bin Husin Al Khatibi Al Bakri.
- Julukan: Rumi. Gelar ini diberikan karena ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Konya (dulunya wilayah Romawi/Anatolia, kini wilayah Turki).
- Karya Populer: Diwani Kabir (kumpulan syair) dan Matsnawi (dikenal juga sebagai Masnavi).
- Tari Sufi: Rumi adalah pelopor Tari Sufi (Sema) dan pendiri Tarekat Maulawiyah (dikenal sebagai Whirling Dervishes). Tarian berputar ini melambangkan perjalanan spiritual manusia menuju Tuhan.
- Esensi Ajaran Rumi:
Ajaran Rumi sangat menekankan Cinta (Mahabbah) sebagai esensi kehidupan manusia dan jalan utama untuk mengenal Sang Pencipta. Baginya, cinta kepada sesama makhluk adalah cerminan cinta kepada Allah, dan luka atau kesedihan adalah proses di mana cahaya spiritual dapat masuk ke dalam hati manusia.
Di antara tokoh besar dalam sejarah Islam, nama Jalaluddin Rumi menempati posisi yang sangat istimewa. Ia bukan hanya seorang ulama, ahli fikih, dan mufasir, tetapi juga seorang sufi, penyair, filsuf, dan guru spiritual yang karya-karyanya melintasi batas agama, bangsa, bahasa, dan zaman.
Puisi-puisinya mengajarkan bahwa hakikat kehidupan adalah perjalanan kembali kepada Allah. Menurut Rumi, manusia berasal dari Tuhan dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Seluruh kehidupan adalah proses penyucian jiwa agar mampu mengenali Sang Pencipta.
Karya monumentalnya, Mathnawi, sering dijuluki sebagai "Al-Qur'an dalam bahasa Persia" (ungkapan penghormatan dari sebagian ulama sufi, bukan berarti setara dengan Al-Qur'an).
Identitas Singkat
Nama lengkap:
Muhammad Jalaluddin Muhammad Balkhi Rumi
Lahir:
30 September 1207 M
Balkh (sekarang Afghanistan)
Wafat:
17 Desember 1273 M
Konya (Turki)
Ayah:
Bahauddin Walad
Gelar:
- Maulana (Guru Besar)
- Mawlana Rumi
- Jalaluddin Balkhi
Latar Belakang Keluarga
Ayahnya merupakan ulama besar dan ahli tasawuf yang sangat dihormati. Karena kondisi politik dan ancaman invasi Mongol, keluarganya meninggalkan Balkh sebelum pasukan Mongol menghancurkan kota tersebut.
Perjalanan panjang membawa mereka melewati JALALUDIN RUMI wilayah Islam hingga akhirnya menetap di Konya, yang saat itu berada di bawah Kesultanan Seljuk Rum. Dari nama wilayah "Rum" inilah kemudian muncul julukan "Rumi".
Pendidikan
Sejak kecil Rumi mempelajari:
- Al-Qur'an
- Hadist
- Tafsir
- Fikih
- Bahasa Arab
- Bahasa Persia
- Logika
- Filsafat
- Tasawuf
Beliau kemudian menggantikan ayahnya sebagai guru besar di Konya.
Pada masa muda, Rumi dikenal sebagai ulama fikih yang sangat disegani, sebelum mengalami transformasi spiritual yang mendalam.
Pertemuan dengan Syams Tabrizi
Titik balik kehidupan Rumi terjadi ketika bertemu dengan seorang sufi pengembara bernama Syamsuddin Tabrizi sekitar tahun 1244 M.
Pertemuan mereka menjadi kisah yang sangat terkenal dalam sejarah tasawuf.
Dikisahkan bahwa Syams bertanya kepada Rumi:
- "Siapakah yang lebih agung, Nabi Muhammad atau Bayazid al-Bisthami ?"
- Pertanyaan itu memicu dialog panjang tentang kerendahan hati, makrifat, dan cinta kepada Allah.
- Sejak saat itu hubungan guru dan murid berkembang menjadi persahabatan spiritual yang sangat mendalam.
Hilangnya Syams
Kedekatan Rumi dan Syams menimbulkan kecemburuan sebagian murid.
Menurut banyak riwayat sejarah, Syams kemudian menghilang. Ada yang menyebut beliau pergi meninggalkan Konya, sementara riwayat lain menyebut beliau dibunuh. Kepastian sejarah mengenai hal ini belum dapat dipastikan.
Kehilangan Syams membuat Rumi tenggelam dalam kerinduan kepada sahabat spiritualnya. Dari pengalaman inilah lahir ribuan syair cinta kepada Allah.
Lahirnya Mathnawi
Atas dorongan muridnya, Husamuddin Chalabi, Rumi mulai menulis karya agung:
Mathnawi-yi Ma'nawi
Berisi sekitar 25.000 bait puisi.
Isinya meliputi:
- Tafsir kehidupan
- Kisah para nabi
- Kisah para wali
- Hikmah Al-Qur'an
- Pendidikan akhlak
- Cinta Ilahi
- Penyucian jiwa
Ajaran Rumi
1. Cinta kepada Allah
Menurut Rumi, cinta adalah jalan tercepat menuju Allah.
Ia menulis:
"Apa pun agamamu, datanglah. Pintu rahmat Tuhan selalu terbuka."
Ungkapan ini sering dipahami sebagai ajakan untuk bertobat dan mencari Tuhan. Sebagian redaksinya berasal dari tradisi yang dinisbatkan kepada Rumi dan tidak seluruhnya dapat dipastikan berasal langsung dari karya autentiknya.
2. Mengenal Diri
Rumi mengajarkan bahwa mengenal diri sendiri adalah jalan mengenal Tuhan.
Hawa nafsu harus dibersihkan melalui:
- Dzikir
- Ibadah
- Keikhlasan
- Kesabaran
- Cinta
3. Ego adalah Penghalang
Musuh terbesar manusia bukan orang lain, tetapi ego (nafs).
Selama ego masih berkuasa, manusia sulit melihat cahaya Allah.
4. Seluruh Alam Bertasbih
Rumi melihat seluruh alam sebagai ayat-ayat Tuhan.
Gunung, sungai, angin, pepohonan, dan burung menjadi guru bagi manusia yang mau merenung.
Kisah-Kisah Hikmah Jalaluddin Rumi
Kisah Gajah dalam Ruangan Gelap
Beberapa orang memasuki ruangan gelap yang berisi seekor gajah.
Karena gelap, mereka hanya meraba sebagian tubuh gajah.
Yang memegang belalai berkata:
"Gajah seperti ular."
Yang memegang kaki berkata:
"Gajah seperti tiang."
Yang memegang telinga berkata:
"Gajah seperti kipas."
Mereka saling menyalahkan.
Rumi mengajarkan bahwa manusia sering melihat kebenaran hanya dari sebagian kecil kenyataan. Cahaya ilmu diperlukan agar dapat melihat gambaran secara utuh.
Kisah Seruling Bambu (Ney)
Pembukaan Mathnawi berbunyi:
"Dengarkanlah suara seruling bambu..."
Seruling menangis karena terpisah dari rumpun bambunya.
Maknanya:
Jiwa manusia selalu merindukan asalnya, yaitu Allah.
Kisah Singa dan Kelinci
Seekor singa menindas semua binatang.
Seekor kelinci cerdik mengajak singa melihat "musuhnya" di dalam sumur.
Singa melihat bayangannya sendiri lalu melompat ke dalam sumur dan binasa.
Pelajarannya:
Kesombongan dapat menghancurkan diri sendiri.
Pandangan tentang Kematian
Bagi Rumi, kematian bukan akhir kehidupan.
Ia menyebut hari wafat sebagai:
Syab-e Arus
(Malam Pengantin)
Mengapa ?
Karena menurutnya saat itulah ruh bertemu kembali dengan Allah.
Ia pernah berkata:
"Ketika aku mati, jangan katakan aku telah pergi. Aku baru saja pulang."
Ungkapan ini mencerminkan pandangan tasawuf tentang kerinduan seorang hamba kepada Tuhannya.
Kisah Menjelang Wafat
Pada akhir hayatnya, Rumi mengalami sakit selama beberapa hari di Konya.
Banyak ulama, murid, pejabat, dan masyarakat datang menjenguk.
Murid-murid menangis karena khawatir kehilangan guru mereka.
Rumi justru tampak tenang.
Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa ia menghibur murid-muridnya dan mengingatkan agar tidak takut kepada kematian, karena bagi seorang pencinta Allah, kematian adalah pertemuan dengan Sang Kekasih.
Pada malam 17 Desember 1273 M, beliau wafat dengan tenang.
Malam itu kemudian diperingati sebagai Syab-e Arus oleh para pengikut tarekat Mevlevi.
Pemakaman
Prosesi pemakamannya sangat luar biasa.
Menurut berbagai sumber sejarah, tidak hanya kaum Muslim yang ikut mengantar jenazahnya, tetapi juga penganut Kristen dan Yahudi yang menghormatinya karena kebijaksanaan dan akhlaknya. Hal ini menunjukkan luasnya pengaruh moral dan intelektual Rumi di masyarakat Konya.
Makam beliau kini berada di Konya, Turki, dan menjadi salah satu tujuan ziarah yang terkenal di dunia.
Tarekat Mevlevi
Setelah wafatnya Rumi, putranya Sultan Walad mendirikan Tarekat Mevlevi.
Tarekat ini dikenal melalui tarian berputar (Sema) yang melambangkan perjalanan spiritual menuju Allah.
Gerakan berputar dimaknai sebagai simbol bahwa seluruh alam semesta bergerak dalam keteraturan ciptaan Allah.
Karya-Karya Besar
- Mathnawi
- Diwan-e Syams Tabrizi
- Fihi Ma Fihi
- Majalis-i Sab'ah
- Makatib
Pengaruh di Dunia
Karya Rumi telah diterjemahkan ke puluhan bahasa dan dipelajari oleh para ulama, akademisi, penyair, maupun pencari spiritual di berbagai negara. Banyak puisinya menginspirasi dialog lintas budaya dan refleksi tentang cinta, kasih sayang, dan kedekatan kepada Tuhan.
Hikmah Kehidupan Jalaluddin Rumi
Dari perjalanan hidupnya, terdapat sejumlah pelajaran penting:
- Ilmu hendaknya melahirkan kerendahan hati.
- Cinta kepada Allah menjadi inti kehidupan seorang mukmin.
- Ujian dapat menjadi jalan menuju kedewasaan spiritual.
- Kesombongan adalah penghalang bagi cahaya hati.
- Kematian dipandang sebagai kepulangan menuju Sang Pencipta.
- Perbedaan tidak menghalangi manusia untuk saling menghormati dan berbuat baik.
Penutup
Jalaluddin Rumi dikenang bukan hanya sebagai penyair besar, tetapi juga sebagai ulama dan sufi yang mengajak manusia mendekat kepada Allah melalui ilmu, akhlak, dan cinta yang tulus. Warisannya menunjukkan bahwa perjalanan spiritual tidak berhenti pada pengetahuan, melainkan diwujudkan dalam penghambaan kepada Allah, kasih sayang kepada sesama, dan penyucian jiwa sepanjang hayat.
Daftar Pustaka Singkat
- Rumi. Mathnawi-yi Ma'nawi.
- Rumi. Diwan-e Shams-e Tabrizi.
- Annemarie Schimmel. The Triumphal Sun.
- William C. Chittick. The Sufi Path of Love.
- Franklin D. Lewis. Rumi: Past and Present, East and West.
- A.J. Arberry. Mystical Poems of Rumi.
Berikut Buku-buku terkait Jalaluddin Rumi :
By, Imajiner Nuswantoro

