Menyusun Puzzle Pelanggaran HAM 1965
(KontraS)
Menyusun Puzzle Pelanggaran HAM 1965: Sebuah Upaya Pendokumentasian" adalah laporan dan buku dokumentasi yang dirilis oleh KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) untuk mengungkap fakta-fakta terkait tragedi kemanusiaan tahun 1965–1966 di Indonesia.
Poin Utama Pendokumentasian
1. Tujuan Pengungkapan: Mengumpulkan kepingan informasi, catatan sejarah, dan kesaksian yang berserakan mengenai pembunuhan massal, penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, serta penghilangan paksa pasca-G30S.
2. Pendekatan Wilayah: Laporan ini menyoroti berbagai daerah spesifik (seperti Blitar, Buton, dan wilayah lainnya) untuk memperlihatkan pola pelanggaran HAM berat yang sistematis di tingkat lokal.
3. Melawan Impunitas: Berperan sebagai basis data alternatif guna melawan impunitas (pembebasan dari hukuman) dan mengakhiri pengaburan sejarah yang dialami para penyintas maupun korban.
"Menyusun Puzzle Pelanggaran HAM 1965: Sebuah Upaya Pendokumentasian" adalah sebuah laporan komprehensif berupa buku yang dirilis oleh KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) pada Juni 2012. Laporan ini disusun sebagai inisiatif kolektif untuk mengumpulkan, mencatat, dan merangkai kembali fakta-fakta sejarah yang terpecah mengenai tragedi kemanusiaan pasca-peristiwa G30S pada tahun 1965–1966.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai buku dan gerakan pendokumentasian tersebut:
1. Fokus Utama Pendokumentasian
Buku ini berupaya menyatukan kesaksian para penyintas, data lapangan, serta dokumen sekunder guna memetakan pola pelanggaran HAM berat yang terjadi secara sistematis. Narasi yang didokumentasikan berfokus pada beberapa wilayah spesifik, termasuk wilayah basis konflik seperti Blitar dan Buton.
2. Tujuan Penerbitan
KontraS menyusun dokumen ini dengan tiga poin urgensi utama:
- Melawan Impunitas: Membuka kabut sejarah yang sengaja ditutupi oleh narasi tunggal penguasa Orde Baru dan menuntut tanggung jawab negara.
- Memulihkan Hak Korban: Memberikan ruang bagi para korban dan keluarga korban (termasuk para eksil politik) untuk mendapatkan keadilan, pemulihan nama baik, serta hak-hak sipil mereka.
- Edukasi Publik: Menyediakan literatur alternatif sejarah bagi generasi muda agar peristiwa serupa tidak terulang kembali di masa depan.
3. Pentingnya Pengarsipan
Melalui inisiatif seperti Menyusun Puzzle Pelanggaran HAM 1965 - KontraS, lembaga ini menegaskan bahwa keadilan tidak dapat dicapai tanpa dokumentasi yang solid. Buku ini telah menjadi salah satu rujukan akademik dan advokasi penting dalam studi transisi keadilan serta rekonsiliasi nasional di Indonesia.
Berikut penulis lampiran buku tersebut :



