TAUHID ADALAH JIWAKU
(Pidato Bersejarah Ir. Soekarno, 3 Agustus 1965)
Oleh : Aris Heru Utomo, dkk (BPIP 2023)
Tauhid adalah Jiwaku merupakan judul pidato bersejarah Ir. Soekarno yang disampaikan pada tanggal 3 Agustus 1965. Pidato ini dibacakan saat Bung Karno menerima gelar Doktor Honoris Causa dalam Falsafah Ilmu Tauhid dari Universitas Muhammadiyah Jakarta di Istana Negara.
Naskah atau buku fisik pidato ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1965 oleh penerbit Tjendekia dengan ejaan lama Tauhid adalah djiwaku.
Ringkasan buku :
Pidato "Tauhid Adalah Djiwaku" disampaikan oleh Presiden Soekarno pada 3 Agustus 1965 di Istana Negara, Jakarta, saat ia menerima gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Falsafah Ilmu Tauhid dari Universitas Muhammadiyah. Teks pidato ini kemudian banyak diterbitkan dan dibedah dalam literatur pemikiran Islam Bung Karno (seperti buku Religi dan Religiusitas Bung Karno).
1. Konteks Pidato
Gelar Doktor Honoris Causa tersebut dianugerahkan oleh Universitas Muhammadiyah sebagai bentuk pengakuan atas sumbangsih pemikiran keislaman dan kebangsaan Soekarno. Dalam penganugerahan ini, Soekarno menegaskan bahwa keterlibatannya dengan ajaran Islam dan ajaran Muhammadiyah bukan sekadar ikatan keorganisasian formal, melainkan landasan keyakinan spiritual paling mendasar dalam hidupnya.
2. Pokok-Pokok Pemikiran Utama
a. Tauhid Inti Keyakinan Hidup
Fondasi Utama: Soekarno menyatakan bahwa Tauhid (pengesaan Allah SWT) adalah jiwa dan penggerak seluruh gerak-gerik serta perjuangannya.
Kehadiran Allah: Bagi Bung Karno, Tauhid bukan sekadar konsep ilmu kalam atau perdebatan teologis yang abstrak, melainkan kesadaran hidup sehari-hari akan kemahakuasaan dan kehadiran Tuhan di mana-mana.
b. Tauhid Dinamis dan Pembebasan
Pengikis Kemusyrikan Modern: Tauhid mengajarkan manusia untuk tidak menyembah apa pun selain Allah. Bung Karno menafsirkan Tauhid sebagai sarana membebaskan diri dari perbudakan materi, jabatan, kekuasaan, penjajahan, dan ketakutan sesama manusia.
Semangat Perjuangan: Kesadaran akan Tauhid melahirkan keberanian nasionalismenya. Karena percaya hanya Allah yang Maha Agung, manusia tidak boleh takut kepada kekuatan imperialis atau penderitaan perjuangan.
c. Tauhid sebagai Kalimatun Sawa' (Perekat Bangsa)
- Prinsip Kemanusiaan dan Kebebasan: Nilai-nilai Ketuhanan dijadikan landasan dasar dalam memimpin bangsa yang majemuk.
- Integrasi Islam dan Kebangsaan: Bung Karno menepis pandangan yang memisahkan antara nilai keagamaan dan semangat kebangsaan. Menurutnya, Tauhid yang sejati justru mendorong seseorang untuk membela keadilan, kemerdekaan, dan kemanusiaan.
3. Kesimpulan Ringkasan
Pidato "Tauhid Adalah Djiwaku" mencerminkan dimensi spiritual dan intelektual Bung Karno. Karya ini merangkum keyakinan bahwa:
Pancasila (khususnya Sila Ketuhanan Yang Maha Esa) berakar kuat dari pemahaman Tauhid yang mendalam.
Tauhid harus dipraktikkan secara dinamis untuk membangun keadilan sosial dan kemerdekaan, bukan sekadar dipelajari secara teoretis.
Penulis sengaja menambahkan buku-buku karya BPIP
Tafsir Karya-karya Sukarno :
Buku Api Pancasila :



