SOEHARTO MEMBACA G30S
Malam 1 Oktober 1965, Jakarta sedang kehilangan kepastian.
Radio berpindah tangan. Sejumlah jenderal diculik. Sebuah nama muncul di udara: Gerakan 30 September. Dan di tengah kekacauan itu, Soeharto berbicara.
Ia belum menggunakan istilah “G30S/PKI” seperti yang kemudian sangat dikenal. Dalam siaran malamnya, ia menyebut G30S sebagai gerakan kontra-revolusioner dan mengatakan gerakan itu telah berusaha mengambil alih kekuasaan negara, atau sebuah “coup”. Tetapi menariknya, pada saat yang sama ia masih menegaskan bahwa perjuangan dilakukan dalam kerangka Pancasila dan Republik tetap berada di bawah pimpinan Bung Karno.
Beberapa hari kemudian, setelah para jenderal ditemukan di Lubang Buaya, pembacaan Soeharto mulai bergerak lebih jauh.
Ia mulai menghubungkan peristiwa itu dengan Pemuda Rakyat, Gerwani, latihan Sukwan-Sukwati, dan oknum tertentu di Angkatan Udara. Krisis yang semula tampak sebagai perebutan komando militer mulai dibaca sebagai jaringan politik yang lebih luas.
Lalu datang perubahan terbesar.
12 Maret 1966.
Bahasa negara berubah menjadi “G30S/PKI”. PKI dibubarkan dan dinyatakan terlarang. Sejak titik itu, G30S tidak lagi hanya menjadi persoalan beberapa perwira atau perebutan kekuasaan di Jakarta. Ia menjadi dasar untuk membersihkan sebuah kekuatan politik dari negara Indonesia.
Namun di sinilah sejarah mulai menarik.
Karena ketika kita membaca Soeharto dari dokumen ke dokumen, kita menemukan bahwa cara ia mendefinisikan G30S tidak muncul sekaligus dalam satu malam.
Ia berkembang.
1 Oktober 1965:
G30S sebagai kontrarevolusi dan coup.
4 Oktober 1965:
G30S mulai dibaca sebagai jaringan yang melibatkan unsur politik dan militer.
12 Maret 1966:
G30S telah menjadi G30S/PKI, dan pembubaran PKI menjadi kebijakan negara.
Jadi pertanyaannya bukan hanya:
“Apa yang diyakini Soeharto tentang G30S?”
Tetapi juga:
“Bagaimana sebuah tafsir tentang G30S berubah dari penilaian seorang panglima menjadi dasar penataan ulang sebuah negara?”
Di situlah Soeharto menjadi penting untuk dibaca.
Bukan hanya sebagai tokoh.
Tetapi sebagai seseorang yang ikut menentukan bahasa apa yang akhirnya dipakai negara untuk mengingat 1965.
Sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang menang.
Kadang sejarah juga dibentuk oleh mereka yang pertama kali berhasil memberi nama pada kekacauan.
PUTERA PEMBEBAS BANGSA
Perbaikan Diri Dalam Rangka Perbaikan Bangsa.
#PPB #PuteraPembebasBangsa #Soeharto #G30S #G30S1965

