Kita hampir kehilangan kosakata untuk melukiskan moral bangsa yang semakin buruk dari hari ke hari
Kutipan "Kita hampir kehilangan kosakata untuk melukiskan moral bangsa yang semakin buruk dari hari ke hari" merupakan jeritan keprihatinan yang mendalam dari almarhum Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii). Sebagai salah satu guru bangsa dan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, beliau kerap menyuarakan kritik tajam namun santun terhadap merosotnya etika bernegara di Indonesia.
Kritik moral Buya Syafii ini mengandung beberapa esensi penting bagi situasi kebangsaan kita:
1. Krisis Etika dan Kehilangan Rasa Malu
Pernyataan ini menyoroti situasi di mana pelanggaran etika, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan kebohongan publik seolah-olah telah bertransformasi menjadi hal yang lumrah. Istilah "kehilangan kosakata" menggambarkan tingkat kejenuhan dan keputusasaan sosiologis, di mana kata-kata hujatan atau teguran normatif tidak lagi mempan untuk mengetuk hati sanubari para pelaku penyimpangan.
2. Retorika Politik yang Mengkhianati Pancasila
Dalam pemikiran kebangsaannya, Buya Syafii menegaskan bahwa rapuhnya moral bangsa bukan disebabkan oleh kegagalan nilai Pancasila itu sendiri. Sebaliknya, kehancuran ini dipicu karena Pancasila sering kali dikhianati dalam tindakan nyata dan hanya dijadikan sebagai tameng atau retorika politik amoral oleh sebagian golongan elite.
3. Hilangnya Keteladanan dari Para Pemimpin.
Beliau sangat mengkhawatirkan hilangnya figur teladan di tingkat nasional. Ketika para pemimpin mengabaikan integritas demi kompromi politik pragmatis, masyarakat kehilangan kompas moral untuk membedakan apa yang benar dan apa yang salah.
Bagi Buya Syafii, perbaikan moral adalah fondasi yang sangat fundamental. Agama seharusnya hadir sebagai energi moral yang inklusif untuk merawat keadilan dan demokrasi, bukan sekadar komoditas politik kelompok.
Politik Moral Buya Syafii Maarif
Pemikiran dan kesederhanaan Ahmad Syafii Maarif menjadi keteladanan bagi bangsa Indonesia. Sosok guru bangsa yang telah menjadi simbol politik moral di negeri ini.
Setiap mendengar namanya, barangkali kita semua sepakat, ia layak menjadi guru bangsa bagi negeri ini. Gagasan-gagasan kebangsaan yang ia sampaikan hampir selalu menggugah kesadaran kita sebagai anak bangsa.
Gagasan-gagasannya pun tercatat rapi, tidak saja dalam bentuk buku, tetapi ratusan artikel opininya juga kerap menghiasi media cetak, termasuk Kompas. Jika ditelusuri lebih detail, nama Ahmad Syafii Maarif atau kerap disapa Buya Syafii ini pertama kali menjadi perbincangan pada 1998 saat ia menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Buya Ahmad Syafii Maarif: Menyalakan Nurani Bangsa Lewat Ilmu, Iman, dan Integritas.
Dalam lintasan sejarah pemikiran dan perjuangan moral bangsa, nama Buya Ahmad Syafii Maarif tidak hanya tercatat sebagai tokoh bangsa, tetapi juga sebagai penyalur suara nurani yang konsisten memperjuangkan keadilan, persatuan, dan kemanusiaan.
Buya Syafii, sapaan akrab bagi Ahmad Syafii Maarif, adalah seorang cendekiawan Muslim, pendidik, dan tokoh bangsa yang telah mengabdikan hidupnya untuk membangun pemikiran Islam yang mencerahkan, moderat, dan membumi. Lahir di Sumpur Kudus, Sumatera Barat pada 31 Mei 1935, Buya tumbuh dari keluarga sederhana dan ditempa dalam lingkungan pesantren yang kuat nilai spiritual dan sosialnya.
Sepanjang hidupnya, Buya Syafii gigih menyuarakan pentingnya Islam yang inklusif, nasionalisme yang berkeadaban, dan kejujuran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam bukunya Islam dan Politik: Teori Belah Bambu Ia kerap menjelaskan bahwa agama harus menjadi energi moral bagi demokrasi dan kemanusiaan, bukan dijadikan alat kekuasaan.
Sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah (1998–2005), Buya memimpin di tengah masa transisi reformasi yang penuh turbulensi. Ia tetap berdiri tegak sebagai penyejuk di tengah kegaduhan politik, menjadikan Muhammadiyah sebagai kekuatan civil society yang kritis sekaligus konstruktif.
Jejak perjuangan Buya Syafii terlihat nyata sejak masa mudanya sebagai aktivis hingga menjelang akhir hayatnya pada 27 Mei 2022 di Yogyakarta. Dari ruang kelas hingga mimbar internasional, dari dusun terpencil hingga Istana Negara, Buya menyalakan gagasan dan integritas.
Buya adalah satu dari sedikit intelektual Indonesia yang tidak tergoda oleh kekuasaan. Ucapannya lugas, kadang tajam, tetapi jernih dan tanpa pamrih. Ia menjadikan kritik sebagai bentuk cinta kepada bangsa. Dalam dirinya berpadu iman, ilmu, dan keberanian moral nilai yang kini semakin langka dalam lanskap kepemimpinan Indonesia.
MAARIF Institute lembaga yang ia ilhami dan didirikan menjadi salah satu penjaga api pemikiran Buya. Melalui riset, advokasi, pendidikan toleransi, dan kerja-kerja sosial, warisan intelektual dan moral Buya terus hidup, menjelma menjadi kekuatan yang membela kaum rentan dan mendidik generasi muda menjadi warga bangsa yang adil dan beradab.
“Berpikir bebas, beriman teguh, dan membela yang lemah itulah jalan Buya.”
Tulisan ini menjadi pengingat bahwa Buya Syafii Maarif bukan hanya milik Muhammadiyah, bukan hanya milik umat Islam, tapi milik bangsa Indonesia yang rindu kejujuran dan kejernihan nurani. Sosok yang kini tiada, namun suaranya abadi.
By, POINT Consultant



