Titip Pisang kepada Monyet : _Sebuah tafsir institutional design dari dalang mbeling_
--Sudarsono Soedomo--
*Titip Pisang kepada Monyet*: _Sebuah tafsir institutional design dari dalang mbeling_
--Sudarsono Soedomo--
_Catatan_: Tulisan ini bukan tafsir resmi pewayangan. Ini lakon dari seorang dalang mbeling kawan bermain Mukidi. Kalau ada yang melenceng sedikit dari pakem, harap dimaklumi. Namanya juga dalang mbeling. Kalau terlalu patuh pada pakem, nanti malah jadi pegawai arsip.
Ada sebuah gambar sederhana. Seseorang berkata kepada monyet, *“Tolong titip jagain.”* Yang dititipkan? Pisang.
Kita tidak perlu menjadi ahli primatologi untuk menebak akhir ceritanya. Pisang dimakan. Monyet bahagia. Pemilik pisang kecewa. Lalu, kalau mengikuti tradisi birokrasi, mungkin dibentuk tim untuk menyelidiki mengapa pisang bisa hilang. Padahal masalahnya sederhana: *siapa yang punya ide menitipkan pisang kepada monyet?*
Nah, di sinilah dalang Mukidi mulai mengeluarkan wayang. Pertama muncul tiga tokoh dari *Tripama*: Sumantri, Kumbakarna, dan Karna. Ketiganya memang memiliki karakter berbeda, tetapi ada satu pelajaran penting yang dapat dipinjam untuk membaca perkara pisang ini.
*Sumantri* mengajarkan kesetiaan, tanggung jawab, dan kesediaan mengorbankan diri untuk memenuhi tugas dan janji kepada raja. Maka Sumantri akan bertanya: _Apakah orang yang diberi amanat sungguh mempunyai watak untuk menjalankan amanat itu?_
Monyet jelas memiliki kemampuan memegang pisang. Tetapi kemampuan memegang tidak sama dengan kemampuan menjaga. Bahkan, bagi monyet, pisang adalah godaan yang terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Jadi kesalahan pertama bukan semata-mata monyet gagal menjaga pisang. *Kesalahan pertama adalah memilih penjaga tanpa memperhitungkan wataknya.* Oleh para pertapa di Alas Purwo, ini dinamakan _adverse selection_.
Lalu datang *Kumbakarna*. Ia mengajarkan patriotisme: membela negara meskipun sadar bahwa persoalan yang melibatkan negaranya bermula dari kesalahan kakaknya sendiri. Kacamata Kumbakarna mengajukan pertanyaan lain: _Apa yang harus dilindungi, dan apakah kepentingan pribadi penjaga sejalan dengan kepentingan yang harus dilindungi?_
Monyet tidak memiliki persoalan filosofis seperti itu. Pisang adalah pisang. Negara boleh bubar, kerajaan boleh runtuh, tetapi pisang tetap menarik. Di sini kita menemukan istilah yang lebih modern: *conflict of interest.* Jangan meminta seseorang menjaga sesuatu yang sekaligus menjadi kepentingan langsungnya, lalu berharap ia tiba-tiba berubah menjadi Kumbakarna.
Terakhir muncul *Adipati Karna*, dengan loyalitas dan balas budinya kepada pihak yang telah membesarkan dan memberinya kedudukan. Dari Karna kita belajar bahwa sebelum memberikan amanat, kita sebaiknya bertanya: *kepada siapa sesungguhnya orang itu loyal?*
Ini penting dalam kelembagaan. Seorang penjaga tidak cukup hanya pintar dan berani. Kita perlu tahu kepada siapa loyalitasnya akan bekerja ketika kepentingan bertabrakan.
Tetapi kemudian datang Togog dan Bilung. Mereka tidak mau repot-repot menguji monyet dengan tiga pertanyaan tadi. Togog melihat pisang. Bilung melihat monyet. Keduanya melihat pisang lagi. Lalu bertanya: *“Lho, kok pisangé dititipaké marang kethek?”*
Nah! Inilah yang oleh dalang Mukidi disebut *institutional design*.
Institutional design bukan sekadar membuat aturan agar monyet tidak makan pisang. Itu pekerjaan yang terlalu mudah. Kita dapat membuat Peraturan Menteri, Peraturan Pemerintah, bahkan undang-undang: _Monyet dilarang memakan pisang titipan._ Tetapi kalau pisang tetap kita berikan kepada monyet, aturan tersebut hanya mengubah persoalan menjadi perkara penegakan hukum.
Institusi yang baik bukan institusi yang berharap semua orang menjadi malaikat. *Institusi yang baik justru memperhitungkan bahwa manusia mempunyai kepentingan.* Kalau kita tahu monyet suka pisang, jangan beri monyet tugas menjaga pisang. Sederhana.
Tetapi manusia sering membuatnya rumit. Kita menunjuk penjaga yang berkepentingan terhadap barang yang dijaga, kemudian ketika barang hilang kita menyalahkan moral penjaganya. Setelah itu kita membuat lembaga pengawasan, auditor, satgas, komite etik, dan seminar integritas.
Togog mungkin sudah menggaruk kepala. Bilung mungkin sudah menghabiskan pisang yang tersisa. Maka dari wayang mbeling ini kita memperoleh pelajaran yang lumayan serius: *Tripama mengajarkan bagaimana seharusnya seorang pemegang amanat bersikap. Togog dan Bilung mengingatkan kita untuk bertanya apakah sejak awal amanat itu dirancang dengan benar.*
Jangan selalu berharap monyet bertingkah seperti Sumantri, Kumbakarna, atau Karna. *Kalau tahu monyet suka pisang, jangan titipkan pisang kepadanya.* Sebab kadang-kadang masalah bangsa bukan karena penjaganya tidak bermoral. *Boleh jadi kita memang salah merancang siapa yang diberi tugas menjaga pisang.*
(Situbondo, 06102026)

