Prof. M. Nuh dan Ikhtiar Membesarkan Khidmah NU
*Prof. M. Nuh dan Ikhtiar Membesarkan Khidmah NU*
Bagi saya, terpilihnya Prof. Mohammad Nuh sebagai Katib Aam PBNU masa khidmah 2026–2031 adalah kabar yang menumbuhkan harapan. Bukan karena beliau pernah memegang banyak jabatan, melainkan karena perjalanan hidupnya memperlihatkan satu hal penting: beliau memahami dunia pesantren, sekaligus mengerti bagaimana lembaga besar harus dikelola dengan baik.
NU adalah jam’iyah yang besar, bahkan sangat besar. Dakwah usahanya tersebar di mana-mana: pesantren, madrasah, sekolah, kampus, rumah sakit, koperasi, hingga lembaga sosial. Namun, kebesaran itu harus terus diiringi dengan pembenahan mutu. Jangan sampai kita hanya bangga dengan jumlah, tetapi tertinggal dalam kualitas pelayanan kepada warga.
Di titik inilah pengalaman Prof. Nuh menjadi penting.
Beliau lahir dan tumbuh dalam lingkungan pesantren. Ayah beliau, KH Muchammad Nabhani, mendirikan Pondok Pesantren Gununganyar Surabaya. Tentu beliau memahami bahwa pendidikan tidak cukup hanya melahirkan anak yang pintar, tetapi juga harus membentuk manusia yang beradab, jujur, tahan uji, dan bermanfaat bagi sesama.
Dunia akademik beliau jalani dari bawah. Menjadi dosen, memimpin PENS, kemudian menjadi Rektor ITS, sebelum akhirnya dipercaya menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pengalaman panjang itu memang bukan jaminan segala persoalan akan mudah selesai. Tetapi setidaknya, beliau memahami bagaimana membangun sistem, menyiapkan sumber daya manusia, dan membawa sebuah lembaga bergerak menuju kemajuan.
Ini sangat dibutuhkan oleh NU.
Pesantren dan sekolah-sekolah NU harus terus naik kelas. Bukan berarti meninggalkan kitab kuning, adab kepada guru, dan tradisi keilmuan pesantren. Justru nilai-nilai itulah yang harus menjadi pondasi. Namun di atas pondasi tersebut, kita perlu membangun kecakapan baru: penguasaan teknologi, bahasa, sains, manajemen, kewirausahaan, dan kemampuan membaca perubahan zaman.
Santri hari ini harus tetap tawadluk kepada kiai, tetapi juga tidak boleh gagap menghadapi dunia digital. Harus pandai mengaji, tetapi juga siap menjadi dokter, insinyur, guru, peneliti, pengusaha, dan pemimpin bangsa. Jangan sampai anak-anak NU hanya menjadi pengguna teknologi, sementara orang lain menjadi pencipta dan pengendalinya.
Pengalaman Prof. Nuh dalam membesarkan RSI dan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya patut menjadi pelajaran. Rumah sakit dan Kampus NU dapat maju bila dikelola dengan serius, disiplin, dan profesional. Nama besar NU memang penting, tetapi nama besar saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah kerja keras, tata kelola yang sehat, serta keberanian untuk memperbaiki kekurangan.
Demikian pula bidang kesehatan. Warga NU, terutama masyarakat kecil, masih membutuhkan layanan kesehatan yang mudah dijangkau dan manusiawi. Rumah sakit Islam, klinik, fakultas kesehatan, dan pendidikan tenaga medis di lingkungan NU harus terus diperkuat. Berkhidmah kepada umat bukan hanya melalui ceramah dan pengajian, tetapi juga melalui pelayanan ketika masyarakat sedang sakit, lemah, dan membutuhkan pertolongan.
Katib Aam tentu bukan pelaksana teknis seluruh program. Namun, posisi ini sangat menentukan arah pemikiran, ketertiban organisasi, serta kesinambungan perjuangan NU. Katib Aam harus mampu menjaga warisan para masyayikh, memberi pandangan yang jernih di tengah persoalan, dan membantu memastikan bahwa organisasi berjalan dengan tertib serta tetap berpihak kepada kemaslahatan umat.
Prof. Mohammad Nuh membawa perpaduan yang baik: akar pesantren, pengalaman akademik, pengalaman mengelola lembaga, serta pemahaman atas kebijakan publik. Modal ini semoga dapat memperkuat kerja kolektif PBNU, bukan untuk mengejar pencitraan, melainkan untuk memperluas manfaat.
NU sejak awal didirikan untuk berkhidmah. Karena itu, ukuran keberhasilan kepengurusan bukan ramai atau tidaknya pemberitaan, melainkan sejauh mana warga di desa dan ranting merasakan manfaatnya. Apakah sekolah NU semakin baik? Apakah pesantren semakin kuat? Apakah warga kecil lebih mudah memperoleh pendidikan dan layanan kesehatan? Apakah kader muda NU mendapat ruang untuk tumbuh?
Dengan bimbingan Rais Aam KH Miftachul Akhyar, kepemimpinan Ketua Umum KH Abdul Hakim Mahfudz, dan peran Prof. Mohammad Nuh sebagai Katib Aam, kita berharap PBNU masa khidmah 2026–2031 dapat bekerja dengan tenang, kompak, dan sungguh-sungguh.
NU tidak perlu sibuk membuktikan diri kepada siapa pun. Cukup bekerja dengan ikhlas, menjaga adab, memperbaiki lembaga, dan menghadirkan manfaat. Bila itu dilakukan dengan istiqamah, insyaallah NU akan semakin kokoh, maju, dan tetap menjadi rumah besar umat.
Dr. H. Ahmad Fahrur Rozi.
Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur 1 Bululawang Malang

