KESERAKAHAN: KETIKA CUKUP TERNYATA TIDAK PERNAH CUKUP
By : AR Datuk Rajo Batuah
BAGIAN II - EPISODE 12 – PERANG MELAWAN KORUPSI
BAGIAN II - EPISODE 12 – PERANG MELAWAN KORUPSI
KESERAKAHAN: KETIKA CUKUP TERNYATA TIDAK PERNAH CUKUP
*By : AR Datuk Rajo Batuah*
*((Pengajar, Pendiri Himpunan Alumni Tunisia, Pendiri Himpunan Alumni Maroko, dan Pendiri Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI))*
Ada orang yang korup karena merasa kekurangan. Tetapi tidak sedikit yang melakukan korupsi ketika hidupnya sebenarnya sudah lebih dari cukup.
Rumah ada. Kendaraan ada. Penghasilan besar. Jabatan tinggi. Masa depan keluarga terjamin. Namun tangan masih menjulur.
Mengapa?
Karena persoalannya bukan lagi kebutuhan. Persoalannya adalah keserakahan.
Kebutuhan mempunyai batas. Ketika terpenuhi, manusia bisa berhenti. Keserakahan tidak mengenal batas semacam itu. Ia terus mendorong seseorang untuk menginginkan lebih banyak, bahkan ketika yang sudah dimiliki sebenarnya jauh melampaui kebutuhan hidupnya.
Di sinilah korupsi menemukan salah satu sumber tenaga yang paling kuat.
Pada mulanya manusia hanya ingin hidup layak. Itu wajar. Setiap orang ingin memiliki rumah, pendidikan yang baik untuk anak, kesehatan yang terjamin, dan kehidupan yang tenang. Tetapi persoalan berubah ketika ukuran “layak” terus bergerak.
Satu rumah terasa cukup, lalu ingin dua. Kendaraan biasa terasa kurang, lalu ingin yang lebih mahal. Setelah mendapatkan satu jabatan, mulai mengincar jabatan berikutnya. Setelah memiliki kekayaan tertentu, muncul keinginan menandingi orang lain.
Akhirnya seseorang tidak lagi menikmati apa yang sudah dimiliki. Ia sibuk melihat apa yang dimiliki orang lain.
Keserakahan sering tumbuh dari perbandingan.
“Dia lebih kaya.”
“Dia punya rumah lebih besar.”
“Dia punya aset lebih banyak.”
“Kenapa saya tidak?”
Pada titik itu, rasa cukup mulai hilang. Standar hidup terus naik, sementara kepuasan tetap berada di tempat yang sama.
Inilah sebabnya keserakahan tidak selalu berwajah kasar. Ia bisa tampil sangat sopan, rapi, bahkan masuk akal.
Ia bisa bersembunyi di balik kalimat:
“Ini untuk masa depan anak.”
“Saya hanya ingin mengamankan keluarga.”
“Selagi masih ada kesempatan.”
Kalimat-kalimat itu terdengar wajar. Tetapi pertanyaannya sederhana: sampai berapa banyak?
Satu miliar?
Sepuluh miliar?
Seratus miliar?
Pada angka berapa seseorang akhirnya berkata, “Sudah cukup”?
Jika jawaban itu tidak pernah muncul, kebutuhan telah berubah menjadi ketamakan.
Keserakahan memang jarang menyebut dirinya keserakahan. Ia lebih suka memakai nama lain: keamanan, kesempatan, investasi, penghargaan, atau masa depan keluarga.
Padahal akar persoalannya tetap sama: keinginan untuk terus menambah.
Psikologi telah lama menunjukkan bahwa manusia mudah terbiasa dengan kenyamanan. Sesuatu yang dahulu sangat membahagiakan, setelah beberapa waktu terasa biasa. Rumah baru yang semula membanggakan kemudian menjadi pemandangan sehari-hari. Kendaraan mahal yang awalnya menyenangkan perlahan kehilangan sensasinya. Jabatan yang dahulu sangat diinginkan, setelah diperoleh, berubah menjadi batu loncatan menuju jabatan berikutnya.
Keadaan ini sering disebut hedonic adaptation.
Manusia cepat menyesuaikan diri dengan kesenangan baru. Karena sudah terbiasa, ia membutuhkan sesuatu yang lebih besar untuk memperoleh rasa puas yang sama.
Maka terbentuklah siklus:
mendapatkan, menikmati, terbiasa, lalu menginginkan lebih banyak.
Ketika siklus seperti ini bertemu dengan kekuasaan, uang publik, kewenangan, atau akses terhadap proyek, risiko korupsi menjadi semakin besar.
Masalahnya kemudian bukan lagi soal berapa banyak seseorang memiliki, tetapi bagaimana ia memandang harta.
Uang pada dasarnya adalah alat. Ia diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup, membantu keluarga, membayar pendidikan, menjaga kesehatan, dan menjalankan berbagai kepentingan yang sah.
Namun pada sebagian orang, uang berubah menjadi ukuran harga diri.
Semakin besar kekayaan, semakin tinggi rasa keberhasilannya. Semakin banyak aset, semakin besar perasaan bahwa ia telah “menang” dalam kehidupan.
Ketika harta sudah berubah menjadi simbol martabat, keinginan untuk menambah kekayaan tidak lagi berkaitan dengan kebutuhan.
Ia berkaitan dengan ego.
Di titik itu seseorang dapat terus mengumpulkan kekayaan meskipun sebenarnya tidak mungkin lagi menghabiskan seluruh hartanya sepanjang hidup.
Ia bukan lagi mencari apa yang dibutuhkan.
Ia sedang mencari rasa unggul.
Dan rasa unggul tidak mempunyai batas akhir.
Selalu ada orang yang lebih kaya. Selalu ada rumah yang lebih besar. Selalu ada kendaraan yang lebih mahal. Selalu ada rekening yang lebih tebal.
Karena itu, keserakahan sebenarnya adalah perlombaan tanpa garis finis.
Ada pula keserakahan yang tumbuh dari ketakutan.
Takut kehilangan jabatan.
Takut masa pensiun.
Takut tidak lagi dihormati.
Takut keluarga tidak menikmati kenyamanan yang sama ketika kekuasaan berakhir.
Ketakutan ini bisa mendorong seseorang mengumpulkan sebanyak mungkin selama kesempatan masih terbuka.
“Selagi masih menjabat.”
Kalimat seperti itu menunjukkan bagaimana jabatan dapat diperlakukan bukan lagi sebagai amanah, tetapi sebagai musim panen.
Selama kekuasaan masih di tangan, sebanyak mungkin harus dikumpulkan.
Di sinilah keserakahan bertemu dengan kecemasan.
Semakin takut kehilangan, semakin banyak ingin ditimbun. Semakin banyak yang ditimbun, semakin besar pula ketakutan kehilangan apa yang telah diperoleh.
Akhirnya manusia menjadi tawanan dari kekayaannya sendiri.
Itulah ironi dalam banyak perkara korupsi. Pelakunya sering bukan orang miskin. Sebagian mempunyai penghasilan yang sangat layak, aset besar, dan kehidupan yang jauh lebih baik daripada rata-rata masyarakat.
Tetapi semua itu tidak membuat mereka berhenti.
Karena masalah keserakahan memang tidak selesai dengan bertambahnya uang.
Jika akar persoalannya adalah ketidakmampuan merasa cukup, tambahan kekayaan justru dapat memperbesar selera.
Hari ini satu miliar terasa banyak.
Besok sepuluh miliar terasa biasa.
Lalu seratus miliar menjadi target berikutnya.
Jumlah berubah, tetapi rasa kurang tetap tinggal.
Dalam tradisi agama, persoalan ini telah lama diingatkan. Islam mengajarkan bahwa kekayaan tidak boleh menjadi ukuran utama kemuliaan manusia. Manusia juga diperingatkan agar tidak tenggelam dalam perlombaan menumpuk harta.
Pesannya sederhana: harta dibutuhkan, tetapi manusia jangan sampai diperbudak oleh harta.
Nabi Muhammad juga mengingatkan tentang tabiat manusia yang, apabila memiliki satu lembah harta, masih menginginkan lembah berikutnya.
Pesan itu sangat relevan dalam pembicaraan tentang korupsi.
Masalahnya bukan mencari kekayaan secara halal.
Masalahnya adalah ketika tidak ada lagi batas antara kebutuhan dan kerakusan.
Karena itu, salah satu kekayaan terbesar sesungguhnya bukanlah banyaknya harta, tetapi kemampuan berkata:
“Ini sudah cukup.”
Negara tentu tidak dapat membuat undang-undang yang memaksa seseorang merasa cukup. Hukum tidak bisa masuk ke dalam hati.
Tetapi negara dapat membangun pagar.
Transparansi kekayaan, pengawasan transaksi, pembatasan gratifikasi, pemeriksaan sumber aset, sistem pengadaan yang terbuka, serta sanksi yang tegas diperlukan agar keserakahan pribadi tidak mudah berubah menjadi kerugian publik.
Namun sekuat apa pun sistem dibangun, tetap ada pertarungan yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh hukum.
Pertarungan itu berlangsung dalam diri manusia.
Antara ingin dan cukup.
Antara mengambil dan menahan diri.
Antara kesempatan dan batas.
Pada akhirnya, keserakahan bukan hanya persoalan uang. Ia adalah cara memandang kehidupan.
Ketika keberhasilan hanya diukur dari seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, manusia akan selalu merasa tertinggal.
Ketika kekayaan menjadi ukuran kehormatan, batas moral mudah dinegosiasikan.
Ketika “lebih” menjadi tujuan hidup, “cukup” kehilangan makna.
Di sanalah korupsi menemukan ruang yang subur.
Sebab uang yang ditumpuk melalui korupsi bukan sekadar angka dalam rekening seseorang.
Di belakangnya bisa ada sekolah yang tidak selesai dibangun.
Jalan yang cepat rusak.
Rumah sakit yang kekurangan fasilitas.
Bantuan sosial yang berkurang.
Atau masyarakat yang kembali harus menanggung akibat dari kerakusan seseorang.
Keserakahan akhirnya selalu mempunyai korban.
Karena itu pertanyaan terpenting bukanlah:
“Berapa banyak lagi yang bisa saya dapatkan?”
Melainkan:
“Pada titik mana saya berani berkata: ini sudah cukup?”
Sebab manusia yang tidak pernah belajar merasa cukup akan selalu menemukan alasan untuk mengambil lebih banyak.
Dan ketika kesempatan bertemu dengan kekuasaan, rasa tidak cukup itu dapat berubah menjadi korupsi.
Referensi
Al-Qur’an: pesan tentang bahaya bermegah-megahan, kecintaan berlebihan kepada harta, serta pentingnya amanah dan keseimbangan hidup.
Hadis Nabi: pesan tentang kecenderungan manusia yang terus menginginkan tambahan harta dan pentingnya kekayaan jiwa serta rasa cukup.
Ariely, Dan. The (Honest) Truth About Dishonesty: How We Lie to Everyone—Especially Ourselves. New York: HarperCollins, 2012.
Brickman, Philip, & Donald T. Campbell. “Hedonic Relativism and Planning the Good Society.” Dalam M. H. Appley (Ed.), Adaptation-Level Theory. New York: Academic Press, 1971.
Frederick, Shane, & George Loewenstein. “Hedonic Adaptation.” Dalam Daniel Kahneman, Ed Diener, & Norbert Schwarz (Eds.), Well-Being: The Foundations of Hedonic Psychology. New York: Russell Sage Foundation, 1999.
Kasser, Tim. The High Price of Materialism. Cambridge, MA: MIT Press, 2002.
Tang, Thomas Li-Ping, & Randy K. Chiu. “Income, Money Ethic, Pay Satisfaction, Commitment, and Unethical Behavior: Is the Love of Money the Root of Evil for Hong Kong Employees?” Journal of Business Ethics, Vol. 46, 2003, hlm. 13–30.

