Intend To Change For The Better
(Berniat berubah untuk lebih menguntungkan)
Tinggalkan grup lama buat grup baru untuk berbisnis menguntungkan
Meninggalkan grup lama yang tidak produktif dan beralih membuat grup bisnis baru adalah langkah strategis untuk meningkatkan fokus, profesionalisme, dan potensi keuntungan. Grup baru memungkinkan Anda mengumpulkan "audiens hangat" (warm audience) yang benar-benar berminat, meningkatkan konversi penjualan, dan menghindari spamming yang tidak relevan
Berikut adalah panduan strategis untuk bertransisi dan membangun grup bisnis yang menguntungkan :
1. Strategi Meninggalkan Grup Lama
Jangan keluar secara mendadak. Gunakan pendekatan profesional agar tetap menjaga hubungan baik :
- Pamitan dengan Sopan: Sampaikan pesan singkat yang berkesan, seperti: "Terima kasih atas ilmu dan relasinya selama ini. Saya izin pamit untuk fokus ke proyek/bisnis baru. Sampai jumpa di lain kesempatan".
- Japri (Jalur Pribadi) Anggota Potensial: Sebelum keluar, hubungi anggota yang berpotensi menjadi pelanggan atau mitra bisnis Anda secara pribadi. Tawarkan mereka untuk bergabung ke grup baru Anda dengan memberikan alasan yang kuat (misal: "di grup baru ada promo eksklusif").
- Hapus Grup (Jika Anda Admin): Jika Anda adalah admin dan grup tersebut sudah tidak aktif, hapus grup untuk membersihkan daftar chat Anda.
2. Cara Membuat Grup Baru yang Menguntungkan
- Gunakan WhatsApp Business: Gunakan aplikasi khusus WhatsApp Business untuk profil yang lebih profesional, fitur katalog produk, dan balasan cepat (fast response).
- Tentukan Niche & Target Audience: Pastikan anggota grup memiliki ketertarikan yang sama. Jangan campur aduk produk. Contoh: Grup khusus pecinta hijab, bukan grup umum.
- Berikan Insentif untuk Bergabung: Tawarkan insentif seperti diskon, akses VIP, atau konten bermanfaat (e-book/tips) sebagai alasan mereka bergabung ke grup baru Anda.
- Tetapkan Aturan Grup (Rules): Tuliskan peraturan di deskripsi grup agar tidak ada spam dari anggota lain dan fokus pada promosi produk/diskusi yang relevan.
3. Strategi Mengelola Grup Agar Cuan (Menguntungkan)
- Konten Relevan & Konsisten: Bagikan konten yang bermanfaat, bukan hanya hard selling (jualan terus menerus). Kombinasikan dengan info promo, tips, atau edukasi produk.
- Hindari Spamming: Batasi pengiriman pesan agar anggota tidak merasa terganggu dan keluar.
- Gunakan Fitur "Komunitas": Gunakan fitur WhatsApp Community untuk menggabungkan beberapa grup bisnis dalam satu ruang yang lebih terorganisir.
- Personalisasi Pesan: Sapa anggota secara personal saat berinteraksi, jangan hanya broadcast masal.
- Fokus pada Warm Audience: Utamakan menjalin komunikasi dengan orang yang sudah kenal produk Anda (warm audience) daripada orang asing (cold audience) agar lebih mudah terjadi penjualan.
Tinggalkan grup lama buat grup baru untuk berbisnis menguntungkan
Meninggalkan grup lama yang tidak produktif dan beralih membuat grup bisnis baru adalah langkah strategis untuk meningkatkan fokus, profesionalisme, dan potensi keuntungan. Grup baru memungkinkan Anda mengumpulkan "audiens hangat" (warm audience) yang benar-benar berminat, meningkatkan konversi penjualan, dan menghindari spamming yang tidak relevan
Berikut adalah panduan strategis untuk bertransisi dan membangun grup bisnis yang menguntungkan :
1. Strategi Meninggalkan Grup Lama
- Jangan keluar secara mendadak. Gunakan pendekatan profesional agar tetap menjaga hubungan baik:
- Pamitan dengan Sopan: Sampaikan pesan singkat yang berkesan, seperti: "Terima kasih atas ilmu dan relasinya selama ini. Saya izin pamit untuk fokus ke proyek/bisnis baru. Sampai jumpa di lain kesempatan".
- Japri (Jalur Pribadi) Anggota Potensial: Sebelum keluar, hubungi anggota yang berpotensi menjadi pelanggan atau mitra bisnis Anda secara pribadi. Tawarkan mereka untuk bergabung ke grup baru Anda dengan memberikan alasan yang kuat (misal: "di grup baru ada promo eksklusif").
- Hapus Grup (Jika Anda Admin): Jika Anda adalah admin dan grup tersebut sudah tidak aktif, hapus grup untuk membersihkan daftar chat Anda.
2. Cara Membuat Grup Baru yang Menguntungkan
- Gunakan WhatsApp Business: Gunakan aplikasi khusus WhatsApp Business untuk profil yang lebih profesional, fitur katalog produk, dan balasan cepat (fast response).
- Tentukan Niche & Target Audience: Pastikan anggota grup memiliki ketertarikan yang sama. Jangan campur aduk produk. Contoh: Grup khusus pecinta hijab, bukan grup umum.
- Berikan Insentif untuk Bergabung: Tawarkan insentif seperti diskon, akses VIP, atau konten bermanfaat (e-book/tips) sebagai alasan mereka bergabung ke grup baru Anda.
- Tetapkan Aturan Grup (Rules): Tuliskan peraturan di deskripsi grup agar tidak ada spam dari anggota lain dan fokus pada promosi produk/diskusi yang relevan.
3. Strategi Mengelola Grup Agar Cuan (Menguntungkan)
- Konten Relevan & Konsisten: Bagikan konten yang bermanfaat, bukan hanya hard selling (jualan terus menerus). Kombinasikan dengan info promo, tips, atau edukasi produk.
- Hindari Spamming: Batasi pengiriman pesan agar anggota tidak merasa terganggu dan keluar.
- Gunakan Fitur "Komunitas": Gunakan fitur WhatsApp Community untuk menggabungkan beberapa grup bisnis dalam satu ruang yang lebih terorganisir.
- Personalisasi Pesan: Sapa anggota secara personal saat berinteraksi, jangan hanya broadcast masal.
- Fokus pada Warm Audience: Utamakan menjalin komunikasi dengan orang yang sudah kenal produk Anda (warm audience) daripada orang asing (cold audience) agar lebih mudah terjadi penjualan.
Dengan langkah-langkah ini, grup bisnis baru Anda akan lebih terfokus, profesional, dan berpotensi menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi.
Siklus yang monoton memang pembunuh kreativitas dan profit. Jika grup lama sudah terasa seperti "kuburan" (hanya ada iklan satu arah tanpa interaksi), saatnya Anda melakukan reset total dengan strategi yang lebih segar.
Berikut adalah cara memutus siklus monoton dan membangun grup bisnis yang lebih "hidup" dan menguntungkan :
1. Ubah Pola Konten (Gunakan Rasio 80/20)
- Penyebab utama grup menjadi membosankan adalah terlalu banyak jualan (hard selling). Gunakan rumus ini:
- 80% Edukasi & Interaksi: Bagikan tips gratis, solusi atas masalah pelanggan, atau ajukan pertanyaan pemancing diskusi.
- 20% Promosi: Lakukan jualan hanya setelah anggota merasa mendapatkan manfaat dari konten Anda.
Penjelasan Ubah Pola Konten (Gunakan Rasio 80/20) :
- Ubah pola konten dengan rasio 80/20 (Prinsip Pareto) artinya mengatur strategi konten Anda agar
- 80% berisi konten yang bernilai (edukasi, hiburan, inspirasi) bagi audiens, dan hanya 20% yang berisi konten promosi langsung.
- Tujuannya adalah membangun kepercayaan dan loyalitas audiens terlebih dahulu, sehingga ketika Anda melakukan promosi (20%), audiens lebih mungkin untuk membeli atau bertindak.
Berikut adalah jabaran detailnya :
1. Arti 80% Konten Bernilai (Value-Driven)
- Fokus utamanya adalah membantu audiens, bukan berjualan. Konten ini bertujuan agar audiens merasa untung mengikuti akun Anda. Contoh:
- Edukasi/Tutorial: "Cara mengatasi masalah X", "Tips menggunakan produk", "Tips industri".
- Hiburan/Tren: Memes, video viral yang relevan dengan niche Anda.
- Inspirasi/UGC: Testimoni pelanggan, kisah sukses, User Generated Content.
2. Arti 20% Konten Promosi (Promotion)
Konten ini langsung menghasilkan konversi atau penjualan. Contoh :
- Product launching (peluncuran produk baru).
- Diskon atau penawaran khusus.
- Testimoni yang mengarah pada pembelian.
- Call to action (CTA) untuk membeli atau mendaftar.
Mengapa Menggunakan Rasio 80/20 ?
- Meningkatkan Engagement: Audiens tidak bosan dengan iklan.
- Membangun Kepercayaan: Anda terlihat sebagai ahli, bukan hanya penjual.
- Efisiensi: Fokus pada konten yang benar-benar menghasilkan hasil (sesuai Hukum Pareto bahwa 80% hasil berasal dari 20% upaya).
Contoh Penerapan (dalam 10 postingan):
- 8 Postingan: Berisi Tips, Meme, Q&A, atau Behind the Scene.
- 2 Postingan: Berisi katalog produk, promo diskon, atau ajakan membeli.
2. Berikan "Experience", Bukan Sekadar Informasi
Agar tidak monoton, grup harus memberikan nilai tambah yang tidak didapatkan di tempat lain :
- Flash Sale Eksklusif: Adakan promo yang hanya berlaku di dalam grup dengan waktu terbatas.
- Sesi Tanya Jawab (Q&A / Question and Answer): Jadwalkan waktu khusus (misal: setiap Jumat malam) untuk konsultasi gratis terkait produk/layanan Anda.
- Gunakan Storytelling: Alih-alih hanya posting foto produk, ceritakan kisah sukses pelanggan atau proses di balik layar (behind the scene).
3. Pilih Platform yang Lebih Dinamis
Jika grup WhatsApp terasa penuh sesak, pertimbangkan untuk beralih atau ekspansi ke Telegram Business. Telegram memiliki fitur yang lebih mendukung ekosistem bisnis :
- Kapasitas Tak Terbatas: Bisa menampung ribuan anggota tanpa membuat memori HP penuh karena sistem cloud storage.
- Chatbot & Otomatisasi: Gunakan bot untuk menjawab pertanyaan umum secara otomatis agar layanan tetap cepat (fast response).
- Channel & Group: Anda bisa membuat Channel untuk pengumuman satu arah dan Group untuk diskusi, sehingga informasi penting tidak tertimbun chat.
4. Teknik Closing yang Tidak Membosankan
Jangan hanya bertanya "Jadi beli atau tidak?". Gunakan teknik yang lebih halus :
- Teknik Pilihan: "Bapak lebih suka dikirim pakai JNE atau J&T?".
- Teknik Kelangkaan: "Stok promo tinggal 2 slot lagi untuk member grup ini".
- Follow-up Personal: Gunakan fitur WhatsApp Business untuk melabeli pelanggan sehingga Anda tahu siapa yang perlu dihubungi kembali tanpa terlihat seperti spam.
Berada dalam circle (lingkaran pertemanan) lama di mana anggotanya pasif dan hanya mencari keuntungan sendiri (manfaatin) adalah bentuk pertemanan toxic atau tidak sehat. Hubungan ini biasanya satu arah, di mana Anda lebih banyak memberi (waktu, tenaga, materi) daripada menerima.
Berikut adalah ciri-ciri dan cara menghadapi circle yang pasif dan egois :
- Ciri-ciri Circle yang Hanya Mencari Untung (Takers)
- Hanya Muncul Saat Butuh: Mereka menghubungi atau mengajak kumpul hanya saat butuh bantuan, pinjam uang, atau ingin memanfaatkan posisi Anda.
- Pasif & Minim Kontribusi: Mereka jarang berinisiatif, malas membantu, namun selalu mengharapkan hasil maksimal dari usaha orang lain.
- Hubungan Satu Arah: Mereka tidak peduli dengan masalah atau kebutuhan Anda. Saat Anda butuh dukungan, mereka menghilang atau membuat alasan.
- Kurang Empati & Terima Kasih: Mereka merasa berhak atas bantuan Anda dan jarang menunjukkan apresiasi.
- Manipulatif: Sering membuat Anda merasa bersalah jika tidak menuruti kemauan mereka.
- Senang Melihat Anda Susah: Kadang mereka merasa senang jika Anda gagal, karena itu membuat mereka merasa lebih baik.
Mengapa Harus Waspada ?
- Menguras Energi & Mental: Pertemanan ini membuat Anda lelah secara emosional dan mental.
- Menghambat Pertumbuhan: Circle yang pasif cenderung tidak mendukung impian atau kesuksesan Anda.
Cara Menghadapi dan Keluar dari Circle Toxic
- Tetapkan Batasan (Setting Boundaries): Tegaslah berkata "tidak" pada permintaan yang merugikan atau tidak masuk akal.
- Kurangi Intensitas Pertemuan: Mulai menjauh secara perlahan (low contact). Tidak perlu konfrontasi besar jika dirasa memberatkan.
- Komunikasi Jujur & Tegas: Sampaikan perasaan Anda secara langsung jika mereka bertindak keterlaluan.
- Cari Circle Baru: Fokuslah menjalin hubungan dengan orang-orang yang saling mendukung (supportive) dan tidak memanfaatkan.
- Refleksi Diri: Sadari bahwa Anda layak mendapatkan teman yang tulus dan tidak egois.
Menjaga diri sendiri bukanlah tindakan egois, melainkan bentuk self-love dan kesehatan mental yang sehat.
Berikut adalah draf Jadwal Konten Mingguan Variatif (Senin-Minggu) yang dirancang untuk meningkatkan interaksi, membangun komunitas, dan mengurangi silent readers.
Jadwal Konten Mingguan : "Interaksi & Inspirasi"
1. Senin: Monday Motivation & Introductions (Motivasi & Perkenalan)
- Tujuan: Membangun semangat dan mengenali anggota.
- Ide Konten: Sapaan pagi, kutipan motivasi, atau tanya jawab ringan: "Sebutkan 1 tujuan utama Anda minggu ini!"
2. Selasa: Tuesday Tips/Tutorial (Edukasi)
- Tujuan: Memberikan nilai tambah (value) agar grup dianggap bermanfaat.
- Ide Konten: Share tips singkat, infografis, tutorial video pendek, atau artikel terkait tema grup.
3. Rabu: Whisper Wednesday / Poll (Polling/Tanya Jawab)
- Tujuan: Mendorong anggota berpendapat (partisipasi tinggi).
- Ide Konten: Gunakan fitur Polling WhatsApp/Telegram. Contoh: "Lebih suka konten berupa Video atau Artikel?" atau "Pendapat Anda tentang [isu terkini]?"
4. Kamis: Throwback / Sharing (Cerita Pengalaman)
- Tujuan: Membangun koneksi emosional.
- Ide Konten: Minta anggota berbagi pengalaman sukses atau gagal, foto lama, atau "Apa pelajaran terbesar Anda minggu ini?"
5. Jumat: Fun Friday / Games (Hiburan)
- Tujuan: Melepas penat dan membuat suasana santai.
- Ide Konten: Tebak gambar, kuis ringan, teka-teki silang, atau berbagi meme lucu terkait tema grup.
6. Sabtu: Showcase Saturday (Promosi/Pameran Karya)
- Tujuan: Memberi panggung bagi anggota (jika grup berbasis komunitas hobi/bisnis).
- Ide Konten: "Silakan pamerkan hasil karya/produk Anda minggu ini di sini!"
7. Minggu: Slow Sunday / Chill (Santai)
- Tujuan: Menjaga grup tetap hidup tanpa membebani.
- Ide Konten: Pertanyaan santai: "Rencana liburan/istirahat apa hari ini?" atau sekadar quote penutup minggu.
Tips Tambahan agar Grup Interaktif
- Gunakan Pinned Message: Sematkan agenda penting atau pertanyaan hari ini agar terlihat oleh anggota baru.
- Balas Setiap Komentar: Di tahap awal, admin harus sangat aktif membalas/merespons untuk menciptakan diskusi.
- Tandai (Tag) Anggota: Sesekali tandai anggota yang sekiranya ahli dalam topik tersebut untuk memancing jawaban.
- Visual itu Penting: Gunakan emoji, gambar, atau video pendek, jangan hanya teks panjang.
- Adakan Giveaway Kecil: Sebulan sekali, berikan hadiah kecil bagi anggota yang paling aktif untuk memicu partisipasi.
Memulai usaha bisnis baru dengan memanfaatkan koneksi dari "pusat" (seperti jaringan induk perusahaan, franchisor, pemerintah pusat, atau komunitas bisnis pusat) memberikan keuntungan signifikan dalam percepatan pertumbuhan dan mengurangi risiko.
Berikut adalah langkah-langkah strategis untuk memulai bisnis baru menggunakan koneksi pusat :
1. Tahap Persiapan & Riset (Memanfaatkan Data Pusat)
- Identifikasi Koneksi Utama: Tentukan siapa pemegang otoritas "pusat" (contoh: pusat waralaba, asosiasi industri, instansi pemerintah seperti KemenkopUKM).
- Riset Pasar & Tren: Gunakan data dari pusat untuk mengetahui tren pasar terkini, kebutuhan konsumen, dan kompetitor agar produk/jasa yang dijual memiliki keunggulan kompetitif.
- Penyusunan Rencana Bisnis (Business Plan): Buat rencana terstruktur, termasuk visi, misi, dan analisis SWOT yang disesuaikan dengan dukungan pusat.
2. Tahap Legalitas & Kemitraan (Memanfaatkan Legalitas Pusat)
- Pengurusan Izin: Memanfaatkan kemudahan izin atau standarisasi yang diberikan oleh jaringan pusat.
- Penandatanganan Kontrak/Aliansi: Jika bergabung dengan jaringan besar, pastikan memahami hak dan kewajiban. Kolaborasi dengan perusahaan besar dapat memperkuat jaringan dan membantu memenuhi kuota pesanan.
3. Tahap Operasional & Produksi (Memanfaatkan Sistem Pusat)
- Standarisasi Kualitas: Terapkan standar operasional prosedur (SOP) dan quality control yang lebih ketat dari pusat untuk memastikan kualitas produk seragam.
- Manfaatkan Suplai & Teknologi: Gunakan jalur pasokan (supplier) yang direkomendasikan pusat untuk mendapatkan harga lebih murah atau bantuan teknologi/mesin produksi.
4. Tahap Pemasaran & Networking (Memanfaatkan Jejaring Pusat)
- Kolaborasi Pemasaran: Gunakan brand awareness dari pusat untuk mempercepat pengenalan bisnis Anda.
- Aktif di Komunitas/Acara Pusat: Bergabung dalam asosiasi perdagangan atau kegiatan yang diadakan pusat untuk perluasan pasar dan pertukaran informasi.
- Gunakan Pemasaran Digital: Manfaatkan platform digital, termasuk LinkedIn atau grup media sosial, untuk terhubung dengan koneksi profesional.
5. Tahap Evaluasi & Pengembangan (Memanfaatkan Feedback Pusat)
- Minta Feedback Berkala: Bangun komunikasi yang konsisten dan konsisten dengan pihak pusat untuk meminta masukan terkait kinerja bisnis.
- Peningkatan Kapasitas (Capacity Building): Ikuti pelatihan atau bimbingan manajemen dan produksi yang disediakan oleh pusat untuk meningkatkan kualitas SDM.
Tips Sukses :
- Jaga Kepercayaan: Jaga hubungan baik dengan pusat dengan menjadi rekan yang proaktif dan jujur.
- Berinovasi: Meskipun menggunakan sistem pusat, tetap lakukan inovasi kreatif agar berbeda dari cabang lain.
Menjadi supplier kementrian sektor ketahanan pangan nasional ?
Menjadi supplier (vendor) untuk Kementerian atau Badan di sektor ketahanan pangan nasional (seperti Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional/NFA, atau Badan Gizi Nasional) merupakan peluang strategis, terutama dengan fokus pemerintah pada swasembada pangan tahun 2026 dan program makan bergizi gratis
Berikut adalah panduan dan langkah-langkah menjadi supplier sektor ketahanan pangan di Indonesia :
1. Persyaratan Utama Legalitas
Sebelum mendaftar, pastikan badan usaha Anda memiliki dokumen legalitas lengkap :
- Badan Usaha Resmi: PT, CV, atau Koperasi yang sah.
- Nomor Induk Berusaha (NIB): Harus terdaftar dan sesuai dengan kode KBLI (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia) sektor pertanian, perdagangan, atau jasa boga.
- NPWP Perusahaan: Valid dan tidak ada tunggakan pajak.
- Sertifikasi Kompetensi/Kualitas: Sesuai komoditas, seperti sertifikat keamanan pangan (ISO 22000, HACCP) untuk produk olahan, atau sertifikasi benih/pupuk untuk saprodi.
2. Prosedur Pendaftaran Vendor
Pemerintah menggunakan sistem digital untuk pengadaan barang dan jasa :
- Registrasi di LPSE Kementan/Bapanas: Mendaftar secara online melalui Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kementerian Pertanian (lpse.pertanian.go.id) atau LPSE sektoral terkait.
- E-Catalogue (E-Purchasing): Mendaftarkan produk di E-Catalogue LKPP. Ini adalah cara yang paling sering digunakan pemerintah untuk pembelian langsung tanpa tender.
- Aplikasi Khusus: Misalnya, untuk pupuk bersubsidi, pendaftaran dilakukan melalui aplikasi DIMAS PT Pupuk Indonesia.
3. Fokus Komoditas Strategis
Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional fokus pada 9 komoditas strategis yang diutamakan untuk swasembada, antara lain :
- Beras
- Gula konsumsi
- Jagung
- Susu dan Daging Sapi
- Bawang merah, bawang putih, cabai
- Pangan lokal (ubi, sagu, singkong)
4. Peluang Melalui Program Spesifik
- Vendor Makan Bergizi Gratis (MBG): Badan Gizi Nasional membuka pendaftaran mitra (dapur) untuk menyediakan makanan bergizi.
- Cadangan Pangan Pemerintah (CPP): Supplier untuk komoditas yang diserap saat panen raya guna menjaga harga, seperti gabah/beras atau jagung.
- Bantuan Pemerintah (Banpem): Menjadi penyedia saprodi (benih, pupuk, herbisida, alsintan) untuk kelompok tani/poktan.
5. Tips Sukses
- Kualitas & Stabilitas: Pemerintah membutuhkan pasokan yang stabil tanpa fluktuasi harga yang tinggi.
- Digitalisasi: Pastikan logistik dan distribusi terdokumentasi secara digital.
- Patuhi Regulasi: Selalu ikuti Pedoman Umum Bantuan Pemerintah (Permentan) yang berlaku.
Prioritas Utama Ketahanan Pangan
Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menjadikan ketahanan pangan sebagai prioritas utama, dengan fokus pada suplai pupuk bersubsidi (NPK, Organik) dan peningkatan produksi protein hewani (plasma ternak ayam) untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara (Daya Anagata Nusantara) berperan sentral dalam mendanai proyek-proyek strategis di sektor ini, dengan komitmen investasi yang besar.
Berikut adalah rincian suplai di sektor ketahanan pangan berdasarkan program pemerintah dan peran Danantara 2025-2026 :
1. Suplai Pupuk NPK, Organik, dan Dolomit (Kementan & Pupuk Indonesia)
- Alokasi 2025: Pemerintah mengalokasikan 9,5 juta ton pupuk bersubsidi, terdiri dari 4,6 juta ton urea, 4,2 juta ton NPK, 500 ribu ton organik, dan 147 ribu ton NPK kakao.
- Penyederhanaan Rantai Pasok: Melalui Permentan No. 15 Tahun 2025, titik serah pupuk subsidi disederhanakan langsung ke petani/kelompok tani (menggunakan KTP atau Kartu Tani) untuk meningkatkan efisiensi.
- Optimalisasi Produksi: Kementerian Pertanian memaksimalkan penggunaan pupuk organik dan perbaikan tanah (seperti dolomit) untuk meningkatkan produktivitas.
- Modernisasi: Pemerintah berencana merenovasi pabrik pupuk untuk menstabilkan harga dan memastikan ketersediaan.
2. Plasma Ternak Ayam Potong/Pedaging dan Telur (Danantara)
- Investasi Danantara: Danantara menyiapkan dana sekitar Rp20 triliun untuk membangun peternakan ayam terintegrasi (pedaging dan petelur) di seluruh Indonesia.
- Proyeksi Mulai: Proyek ini mulai dibangun pada awal 2026 (disebutkan mulai 28 Januari 2026) untuk mendukung suplai protein program Makan Bergizi Gratis (MBG).
- Plasma dan Peternak Rakyat: Budidaya akan melibatkan peternak rakyat di bawah naungan Koperasi Desa Merah Putih.
- Fokus Hulu: Dana Danantara difokuskan pada penguatan rantai pasok (DOC/anak ayam umur sehari dan pakan ternak) untuk menstabilkan harga, bukan hanya membangun fisik kandang.
- Wilayah: Difokuskan pada wilayah-wilayah yang masih kekurangan pasokan ayam dan telur (defisit).
3. Kebijakan Terkait
- Swasembada Protein: Investasi ini bertujuan meningkatkan produksi untuk mencapai swasembada, mengingat tingginya kebutuhan protein (telur/ayam) untuk program MBG.
- Regulasi: Pembangunan ini dinaungi oleh Surat Keputusan Bersama (SKB) antar kementerian untuk memastikan kelancaran.
Sinergi antara Kementerian Pertanian, BUMN (Pupuk Indonesia), dan Danantara bertujuan agar suplai hulu (pupuk) dan hilir (protein hewani) dapat tercukupi secara mandiri.
POINT Consultant

