*Mual Akademik, Gelar-Gelar, dan Gus yang Turun dari Langit*
--Sudarsono Soedomo, Gus Dar --
Semakin tua saya, semakin sering saya merasa mual. Bukan karena asam lambung, melainkan karena fenomena sosial yang terlalu serius memperlakukan dirinya sendiri. Dulu saya kira obatnya adalah argumen tajam. Sekarang saya tahu: kadang obatnya adalah tertawa, terutama pada diri sendiri.
Saya pernah sangat terganggu melihat puja-puji personal kepada penguasa dalam forum akademik. Rasanya seperti melihat seminar berubah menjadi panggung fan club. Otak saya berasap. Saya ingin menyindir, ingin membuat kalimat elegan yang membuat kuping panas namun audiens tertawa.
Lalu saya bertanya: mengapa saya begitu terganggu? Apakah saya penjaga terakhir rasionalitas republik?
Jawabannya tidak nyaman: mungkin saya hanya kecewa karena dunia tidak memenuhi standar idealisme saya. Dunia rupanya tidak mendaftar sebagai mahasiswa saya.
Soal gelar pun begitu. Dulu saya memanggil profesor dengan “Pak.” Sekarang antar teman sejawat saja saling memanggil “Profesor” seolah-olah sedang wisuda harian. Ada yang marah jika gelarnya dihilangkan, bahkan saat memesan kopi. Saya risih. Maka saya memilih menulis nama tanpa gelar saat registrasi pertemuan. Rasanya lebih ringan. Satu baris saja. Nafas lebih lega.
Namun di tengah kritik diam saya terhadap inflasi simbol, saya melakukan dosa kecil yang sangat saya nikmati. Saya memasang gelar “Gus.”
Di Jawa Timur, “Gus” bukan sembarang panggilan. Ia menunjuk anak kiai besar, pewaris kharisma pesantren. Sedangkan saya? Saya bukan anak kiai. Saya bukan tokoh agama. Bahkan kesalehan formal saya mungkin jauh dari standar. Jadi jelas, “Gus” yang saya pakai adalah gelar gadungan.
Dan saya memakainya dengan penuh kesadaran.
Ketika seorang kawan memperkenalkan saya di hadapan audiens, “Di antara teman dekat, Prof Dar ini kami panggil Gus Dar,” saya segera menimpali, “Sedikit di atas Gus Dur… lha huruf a memang di atas huruf u.”
Seluruh ruangan tertawa, termasuk audiens NU yang tentu sangat akrab dengan nama Abdurrahman Wahid. Mereka mungkin berpikir: profesor ini agak gila.
Dan memang, mungkin ada kegilaan kecil di situ.
Saya pernah merenung: apakah ini kemunafikan saya? Mengkritik simbol kosong, tetapi memakai simbol religius untuk bercanda? Apakah saya sedang bermain api?
Jawaban jujur saya: tidak ada rasa bersalah. Yang ada hanya rasa geli.
Karena niatnya memang untuk lucu-lucuan, untuk menurunkan aura simbol ke level alfabet. Kalau huruf bisa jadi dasar hierarki, maka betapa rapuhnya hierarki itu.
Namun saya sadar, di situlah ironi paling halus. Saya muak pada kemunafikan simbolik, tetapi saya sendiri memainkan simbol. Bedanya, saya tidak ingin simbol itu menaikkan saya. Saya ingin ia meletup sebagai lelucon.
Mungkin ini cara saya menjaga kewarasan.
Saya tidak lagi merasa perlu mengoreksi setiap penyimpangan. Saya juga tidak ingin ikut arus pemujaan gelar. Maka saya memilih jalan tengah yang aneh: menertawakan diri sendiri di tengah panggung simbol-simbol.
Barangkali kedewasaan bukan berarti kita berhenti merasa muak. Barangkali kedewasaan adalah ketika kita bisa berkata, “Ya, saya muak… tapi saya juga tidak suci.”
Saya tetap percaya integritas lebih penting daripada titel. Saya tetap alergi pada puja-puji kosong. Tetapi saya juga tahu, jika saya terlalu serius, saya akan berubah menjadi polisi moral yang kelelahan.
Jadi saya memilih menjadi “Gus” palsu yang ringan hati.
Kalau dunia terlalu sibuk menempelkan simbol, biarlah saya menempelkannya sambil tertawa. Dan kalau suatu hari saya tidak lagi merasa perlu bercanda dengan gelar-gelar itu, mungkin bukan dunia yang berubah — mungkin saya yang sudah benar-benar bebas.
Untuk sementara, saya cukup puas menjadi profesor yang kadang waras, kadang sinis, dan kadang “Gus” turun dari langit alfabet.
Untungnya, sampai hari ini, saya masih bisa menertawakan diri sendiri sebelum orang lain melakukannya.
(mBanyuwangi, 19022026)
Ditanggapi oleh Dr. Susetya Herawati :
Saya mau kasih moticon terimakasih dengan tulisan prof Darsono tapi juga mau kasih moticon ketawa lucu (seneng membaca narasinya ..tapi gak bisa dua moticon maka saya tulis aja ). Terimakasih tulisan tulisannya Prof....sangat menikmati🙏🙏