Kurban Bersama, Indonesia Bangkit Kembali
-Sudarsono Soedomo-
Esok pagi, kita menyambut Idul Adha. Di balik suasana yang biasanya riuh, ada keheningan yang perlu kita dengarkan bersama: kebingungan yang perlahan menjalar di tengah ketidakpastian ekonomi, keretakan sosial, dan dinamika politik yang semakin sulit diprediksi. Hari ini bukan sekadar penanda waktu, melainkan kesempatan untuk berhenti sejenak, menatap ke dalam, dan bertanya: ke mana kita akan melangkah bersama?
Makna kurban yang kita rayakan setiap tahun sebenarnya sederhana: melepaskan sebagian yang kita miliki untuk kebaikan yang lebih luas. Pengorbanan memang tidak pernah ringan jika dipikul sendiri. Namun, ketika dibagi bersama, ia berubah menjadi kekuatan kolektif yang meringankan beban. Sejarah negeri ini tidak dibangun oleh kemewahan, melainkan oleh kesediaan orang-orang biasa untuk menahan diri, berbagi, dan maju atau mundur selangkah demi orang di sebelahnya.
Kini, kita berdiri di persimpangan yang menuntut kejujuran. Ancaman tekanan ekonomi, gejolak sosial, dan ketegangan politik bukan lagi wacana di atas kertas, melainkan denyut yang terasa di pasar, di tempat kerja, di ruang kelas, dan di meja makan keluarga. Dalam situasi seperti ini, rasa saling percaya antara rakyat dan para penyelenggara negara sedang berada di titik terendah. Ini bukan akhir, melainkan pengingat: kepercayaan adalah fondasi yang bisa retak seketika, tapi dibangun perlahan melalui konsistensi, keterbukaan, dan empati.
Rakyat Indonesia tidak butuh janji yang muluk. Mereka butuh keteladanan. Mereka butuh pemimpin yang kata-katanya selaras dengan tindakan, yang langkahnya nyambung dengan sulitnya hidup yang dirasakan sehari-hari. Ketika seorang pengambil keputusan memilih berdiri di tengah kesulitan yang sama, bukan hanya memberi arahan dari jauh; ketika kebijakan diutamakan untuk yang paling rentan sebelum yang paling berkuasa; ketika setiap pernyataan diikuti dengan bukti nyata di lapangan, maka kepercayaan itu akan tumbuh kembali dengan sendirinya. Keteladanan bukan soal kesempurnaan, melainkan keberanian untuk jujur, rendah hati, dan mau menanggung beban bersama.
Para penyelenggara negara perlu mengingat bahwa di masa ketidakpastian, setiap keputusan membawa dampak yang dalam. Berhati-hatilah. Jangan biarkan kebijakan lahir dari ruang hampa yang jauh dari denyut nadi rakyat. Dengarkan sebelum memutuskan, ukur dampak sebelum melangkah, dan letakkan keadilan sebagai kompas utama. Pengorbanan dari pemimpin tidak harus bersifat heroik. Ia cukup berupa keberanian memilih kepentingan publik di atas kenyamanan pribadi, transparansi di atas kerahasiaan yang mencurigakan, dan kerendahan hati di atas arogansi jabatan.
Lalu, bagaimana membangkitkan kembali kesadaran bahwa kita satu bangsa? Mulailah dari hal yang paling sederhana: melihat sesama bukan sebagai lawan, melainkan sebagai saudara senasib. Berhenti mempertajam perbedaan, mulai memperlebar ruang dialog. Masyarakat perlu memilih kesabaran atas kemarahan, memilih membangun atas menghujat, dan mengingat bahwa mengkritik bukan untuk meruntuhkan, melainkan untuk memperbaiki rumah bersama. Gotong royong hanya mungkin tumbuh ketika kita berhenti menganggap "yang lain" sebagai ancaman, dan mulai melihatnya sebagai mitra dalam menghadapi tantangan yang sama.
Kurban itu salah satu sedikit peristiwa di negeri ini yang masih membuat orang ingat bahwa hidup tidak selalu soal mengambil. Kadang-kadang manusia perlu belajar melepaskan sesuatu dengan rela. Masalahnya, dalam kehidupan berbangsa hari-hari ini, kata “rela” mulai terdengar seperti barang antik. Semua orang ingin didahulukan. Semua orang ingin dimengerti. Semua orang merasa paling banyak berkorban. Bahkan ada orang yang baru menahan komentar di media sosial selama tiga jam sudah merasa seperti pahlawan nasional.
Bangsa besar tidak dibangun oleh orang-orang yang terus menghitung: “Saya dapat apa?” Bangsa dibangun oleh kesediaan banyak orang untuk menanggung sesuatu bersama-sama. Terus terang saja, yang sedang krisis di negeri ini mungkin bukan hanya ekonomi. Yang lebih mengkhawatirkan adalah menipisnya rasa saling percaya. Rakyat mulai sulit percaya kepada penguasa. Penguasa juga tampaknya mulai sulit percaya kepada rakyat.
Akibatnya, suasana publik menjadi seperti keluarga besar yang sedang berebut warisan sebelum orang tuanya benar-benar wafat. Sedikit-sedikit curiga. Sedikit-sedikit marah. Sedikit-sedikit merasa ditipu. Padahal dalam keadaan sulit, sebuah bangsa justru memerlukan kemampuan untuk berkata: “Mari kita tanggung bersama.” Kalimat itu pendek. Tetapi mahal.
Idul Adha tahun ini adalah undangan untuk membersihkan diri dari prasangka, menjahit kembali kepercayaan yang renggang, dan melangkah dengan kesadaran bahwa pengorbanan kita akan bermakna hanya jika dilakukan untuk sesama secara bersama. Selamat Idul Adha. Semoga hari ini menjadi titik balik di mana kita memilih kebersamaan atas keterpecahan, keteladanan atas kesombongan, dan harapan atas kebingungan. Indonesia tidak akan pulih karena satu suara yang paling keras, melainkan karena jutaan langkah yang akhirnya bergerak ke arah yang sama.
(mBogor, 27052026)

